Taklim

CATAT, INI KEBERKAHAN ISTIGHFAR

CATAT, INI KEBERKAHAN ISTIGHFAR
Sumber: Ustadz Zean Areev
Editing: Muhsin Basyaiban

Kisah berikut merupakan kisah yang diceritakan sendiri oleh Imam Ahmad ibn Hanbal, mari kita simak kisahnya. Siapa yang tidak kenal dengan Imam Ahmad ibn Hanbal? Beliau adalah murid daripada Imam Syafi’i dan juga yang dikenal dengan sebutan Imam Hanbali (salah satu Imam Madzahibul Arba’ah). Ada di masa akhir hidupnya beliau bercerita, “Suatu waktu (ketika di usia tua) saya tidak tahu kenapa ingin sekali menuju satu kota di Irak.” Padahal tidak ada janji dengan orang dan tidak ada hajat apa pun.

Akhirnya, Imam Ahmad pergi sendiri menuju ke kota Basrah, Iraq. Kemudian beliau melanjutkan ceritanya, “Saya tiba di sana pada saat waktu Isya’, saya pun ikut beranjak shalat berjamaah Isya’ di masjid, hati saya merasa tenang, lalu saya ingin istirahat.” Begitu selesai shalat dan jamaah bubar, Imam Ahmad ingin tidur di masjid, tiba-tiba Marbot masjid datang menemui Imam Ahmad sambil bertanya, “Kenapa Syaikh, mau ngapain di sini?” (Perlu diketahui, penggunaan kata “Syaikh” bisa dipakai untuk 3 panggilan, bisa untuk orang tua, orang kaya ataupun orang yang berilmu. Namun, panggilan Syaikh dikisah ini adalah panggilan sebagai orang tua, karena tahunya Marbot itu hanya sebagai orang tua saja).

Marbot tersebut tidak tau kalau beliau adalah Imam Ahmad. Dan Imam Ahmad pun tidak memperkenalkan siapa dirinya. Di Irak, semua orang kenal siapa Imam Ahmad, seorang ulama besar dan ahli hadits, sejuta hadits dihafalnya, sangat shaleh dan zuhud. Zaman itu tidak ada foto, sehingga orang tidak tau wajahnya, cuma namanya sudah terkenal.

Kata Imam Ahmad, “Saya ingin istirahat, saya musafir.” Kata Marbot, “Tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid.” Imam Ahmad mengatakan, “Saat itu saya didorong-dorong oleh orang itu dan disuruh keluar dari masjid. Setelah keluar dari masjid, masjid itu pun dikunci pintunya. Lalu saya ingin tidur di teras masjid.” Ketika sudah berbaring di teras masjid, Marbotnya datang lagi, marah-marah kepada Imam Ahmad. “Mau ngapain lagi Syaikh?” kata Marbot. “Mau tidur, saya musafir,” kata Imam Ahmad. Lalu Marbot itu berkata, “Di dalam masjid tidak boleh, di teras masjid juga tidak boleh!” Imam Ahmad diusir. Imam Ahmad mengatakan, “Saya didorong-dorong sampai jalanan.” Masya Allah.

Di samping masjid tersebut ternyata ada seorang penjual roti (rumahnya kecil sekaligus untuk membuat dan menjual roti). Penjual roti ini sedang membuat adonan, sambil melihat kejadian Imam Ahmad didorong-dorong oleh Marbot tadi. Waktu Imam Ahmad sampai di jalanan, penjual roti itu memanggil dari kejauhan, “Mari Syaikh, anda boleh nginap di tempat saya, saya punya tempat, ya meskipun kecil.” Kata Imam Ahmad, “Baik”. Kemudian Imam Ahmad pun masuk ke rumahnya, duduk di belakang penjual roti tersebut yang sedang membuat roti (dengan tidak memperkenalkan siapa dirinya, hanya bilang sebagai musafir).

Penjual roti ini punya perilaku tersendiri, kalau Imam Ahmad mengajak ngobrol, dijawabnya. Kalau tidak, dia terus membuat adonan roti sambil melafalkan istighfar, “ASTAHGFIRULLAH.” Saat menaruh garam ASTAHGFIRULLAH, memecahkan telur ASTAHGFIRULLAH, mencampur gandum ASTAHGFIRULLAH. Senantiasa mendawamkan kalimat Istighfar. Sebuah kebiasaan mulia.

Imam Ahmad terus memperhatikan, lalu Imam Ahmad bertanya, “Sudah berapa lama kamu lakukan ini?” Orang itu menjawab, “Sudah lama sekali Syaikh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan.” Imam Ahmad pun bertanya lagi, “Ma tsamaratu fi’lik/Apa hasil dari perbuatanmu ini?” Orang itu menjawab, “(Lantaran wasilah Istighfar) tidak ada hajat yang saya minta, kecuali pasti dikabulkan oleh Allah. Semua yang saya minta ya Allah, … langsung diterima (qabul).” (Memang Nabi ‘alayhish-shalatu was-salam sendiri pun pernah bersabda, “Barang siapa menjaga Istighfar, maka Allah akan menjadikan jalan keluar baginya dari semua masalah dan Allah akan berikan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangkanya).

Lalu orang itu melanjutkan, “Semua dikabulkan oleh Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah kasih.” Imam Ahmad penasaran, lantas bertanya, “Apa itu?” Kata orang itu, “Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan Imam Ahmad.” Seketika itu juga Imam Ahmad bertakbir, “Allahu Akbar, Allah telah mendatangkan saya jauh-jauh dari Bagdad pergi ke Basrah dan bahkan sampai didorong-dorong oleh Marbot masjid itu sampai ke jalanan karena Istighfarmu.” Penjual roti pun terperanjat, memuji Allah, ternyata yang di depannya adalah Imam Ahmad. Demikian ini, tidak lain adalah buah daripada keberkahan melantunkan kalimat istighfar. Maka, usahakanlah untuk membiasakan diri membaca kalimat istighfar, baik di mana pun, kapan pun, atau dalam kondisi apa pun.

Comments

comments

Terpopuler

To Top