Manaqib

KELEMBUTAN DAKWAH SAADAH BA ‘ALWI

Alhabib Said al-Beid

Alhabib Said bin Abdullah  al-Beid, Kenya.

KELEMBUTAN DAKWAH SAADAH BA ‘ALWI
Editing: Muhsin Basyaiban

Ada kisah menarik yang dulu pernah disampaikan oleh Alhabib Umar ibn Hafidz -hafidzahullahu ta’ala- sewaktu memberikan cermahnya di Jakarta beberapa tahun silam. Dan mungkin dari ikhwan sekalian juga ada yang pernah mendengarnya. Namun, di sini tidak ada salahnya jika kisah tersebut kami dengungkan kembali. Sebab, kami merasa banyak sekali faedah yang bisa kita petik dari diceritakannya kisah tersebut. Walhasil, semoga dengan perantara diceritakannya kisah ini juga dapat menambah kecintaannya kita kepada para Saadah Ba Alawi. Mari kita simak bersama kisahnya.

Alhabib Umar ibn Hafidz bercerita, “Saya mendapatkan cerita ini dari seseorang yang sudah lanjut usianya, telah meninggal 3 tahun yang lalu, dan ia tinggal di negeri Uganda (wilayah Afrika Timur).”

Orang tua tersebut berkata: “Saya mendapatkan surat dari seorang Sayyid/Habib, yakni Alhabib Said bin Abdullah al-Beidh. Beliau menulis surat kepada saya dan bertanya, “Di negeri kamu adakah orang yang beragama Islam?”

Maka saya menjawab: “Di negeriku tidak ada orang Islam selainku, hanya aku saja yang beragama Islam, masyarakatnya rata-rata semua non muslim.”

Maka, Alhabib Said al-Beidh pun mengatakan: “Tolong, carikan aku tanah di negerimu itu, aku mau berdagang di negerimu dan ingin pindah ke kota itu.” (Kampung tersebut namanya “Arwak”, berada di perbatasan Kongo dan Zaire)

Maka aku pun memilihkan tempat untuk di jadikan toko, dan Habib itu pun tinggal di tempat tersebut. Jika shalat 5 waktu tiba, kami hanya berdua saja, karena memang tidak ada seorang muslim pun selain kami. Dan jika ada orang yang datang ke tokonya untuk membeli beras, maka Habib itu pun menghadiahkan minyak pula.

Maka kemudian, si pembeli pun bertanya: ”Mengapa ketika saya membeli beras, engkau memberikanku minyak juga?” Habib itu pun menjawab: ”Ketika engkau memasak beras, engkau pun akan butuh minyak untuk memasak bumbunya, maka saya berikan juga minyaknya untukmu.”

Dan semisal kalau ada orang yang membeli teh, maka Habib itu pun akan menambahkan gulanya, dan beliau memberikan itu secara gratis kepada sang pembeli. Masya Allah.

Maka, Habib itu pun ditanya tentang hal tersebut: ”Saya hanya membeli teh, kenapa engkau memberikanku gula juga?” Lalu Habib itu menjawab: ”Engkau pun memerlukan gula saat membuat teh.”

Maka, masyarakat di sana pun menjadi terheran-heran dengan kebaikan Habib ini. Kemudian, orang-orang pun bertanya-tanya kepada Sang Habib: ”Engkau tinggal di sini untuk berdagang, namun mengapa engkau selalu memberi kepada kami bukan mencari keuntungannya?”

Setiap kali di tanya seperti itu, maka Habib itu selalu berkata: ”Agamaku mengajarkan dan memerintahkan seperti ini dan itu ….”. Masyarakat pun bertanya: ”Apa agamamu yang mengajarkan dan memerintahkan seperti ini?” Lalu dijawab lah oleh Habib itu: ”Agamaku ISLAM.” (Maka, beliau menjelaskan kepada masyarakat tersebut apa itu ISLAM)

Di negeri itu pun mulai tersebar tentang ISLAM, dari situ datanglah para sesepuh di negeri tersebut menemui Sang Habib dan mengatakan: ”Agamamu ini menarik, kami tertarik dengan agamamu, namun kami ini kan orang tua, kami ini jadi contoh masyarakat di sini, kalau kami mengikuti agamamu, kami akan malu.”

Lalu berkata Sang Habib: ”Kalau begitu, berikan anak-anak kalian kepadaku, akan aku ajarkan yang baik-baik.” (Mereka pun memberikan anak-anaknya kepada Habib itu untuk di ajarkan kebaikan)

Dari sinilah Sang Habib memulai dakwahnya dengan mengenalkan Islam, mengajarkan ngaji, shalat dan akhlak-akhlak yang mulia. Dan ketika keluarga mereka melihat perubahan pada anak-anaknya semakin baik dan santun serta mulia akhlaknya kepada orang tua mereka, dan dalam lingkungannya. Maka para sesepuh pun, menemui Habib itu dan ingin mengikuti (apa yang ada) di agama Islam.

Maka ketika semakin banyak masyarakat yang memasuki agama Islam, mulailah didirikan Masjid dan shalat Jumat berjamaah di masjid tersebut. Dan Alhamdulillah saya (Alhabib Umar) sudah datang ke negeri tersebut, saya ditunjukkan ini tokonya dulu dan masjid yang didirikannya untuk shalat Jumat. Negeri tersebut karena terlalu jauh dari kota, maka tidak ada sumber listrik memasuki negeri itu, dan kalau malam tiba, mereka memakai obor untuk menunjukkan tempat-tempat itu.

Ketika Muslimin telah tersebar di kota tersebut dan shalat Jumat pun telah berjalan. Maka Sang Habib berkata lagi kepada temannya: “Di negeri ini muslimin telah tersebar luas dan shalat Jumat telah berjalan. Beritahukan aku suatu negeri lagi yang tak ada Musliminnya di sana, aku ingin pindah ke sana.” Masya Allah Tabarakallah.

Dari kisah ini banyak faedah yang bisa kita petik, yakni tentang bagaimana mengajarkan kepada kita semua untuk mengutamakan dakwah dengan kelembutan, jikalau berderma itu karena Allah (lillahi ta’ala) bukan hanya sekedar urusan dunia saja maupun harta. Semoga kita semua bisa meneladaninya di dalam kehidupan keseharian. Aamiin.

Comments

comments

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top