Taklim

PREDIKAT SEORANG HAMBA

PREDIKAT SEORANG HAMBA
Sumber: Alhabib Alwi ibn Ali al-Habsyi
Transkiping: Muhsin Basyaiban

Ada tiga predikat yang mesti melekat pada diri seorang hamba. Pertama, semua gerakan dan aktifitas yang ia lakukan, (semestinya) ia persembahkan kepada siapa yang ia sembah. Kedua, tidak pernah terbetik (menyangka ataupun merasa) dalam benaknya bahwa apa yang ada dalam genggaman tangannya, apa yang ada dalam kekuasaannya, apa yang ia miliki, bukanlah miliknya tetapi milik majikannya. Ketiga, adalah hamba yang tidak pernah memastikan keberhasilannya karena segala keberhasilan usaha ataupun kegagalan usaha itu adalah kehendak daripada Allahu ta’âlâ.

Sehingga sikap dari seorang hamba ketika melakukan suatu aktifitas, maka ia katakan, “INSYA ALLAH/ JIKA ALLAH MENGHENDAKI.” Walaupun aktifias itu terbilang sepele atau kecil sekalipun. Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam ketika lilinnya jatuh, lalu apinya padam. Maka Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “INNALILLAAHI WA INNA ILAIHI RAAJIUUN.” Istrinya mengatakan, “Ya Rasulullah, ini cuma lilin yang jatuh.” Maka Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan, “Tidakkah ini semuanya milik Allah dan kembali kepada Allah.” Masya Allah, itulah predikat seorang hamba.

Ada satu contoh lagi. Misalnya ketika seorang hamba membeli karcis dengan uangnya untuk masuk ke dalam sebuah pertunjukan/pameran. Ia berikan uangnya itu untuk membeli karcis tersebut. Namun, dikala ia menyerahkan uang tersebut ditempat loket karcis, maka seorang penjaga loket mengatakan, “Uang yang kau punya ini adalah uang palsu?” Lalu oleh si penjaga loket itu diserahkan kembali uang tersebut dan ia katakan, “Kau tidak bisa masuk ke dalam pameran ini, silahkan pulang kembali.” Maka seorang hamba yang hatinya terkait dengan Allahu subhânahu wa ta’âlâ ia akan jatuh pingsan.

Bukan jatuh pingsan karena uangnya ditolak, bukan pula jatuh pingsan karena ia tidak bisa masuk ke pameran tersebut. Tetapi, tatkala ia menyerahkan uang palsu tadi itu dan kemudian ia ditolak. Maka yang ada dibenak pikirannya adalah aku ini hamba Allah, aku beraktifitas, aku beribadah, aku beramal. Jadi, “APAKAH AKTIFITAS DAN AMAL IBDAHKU INI PALSU ATAU BENAR?” Masya Allah, hal yang semacam ini ia kembalikan kepada Allahu ta’âlâ. Inilah yang dinamakan predikat seorang hamba, dan seorang hamba yang sejati adalah Nabiyyuna Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti langkahnya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Semoga ada manfaatnya bagi kita semua. Aamiin.

Comments

comments

To Top