Manaqib

IMAM SUYUTHI: PENULIS BESAR WAFAT DI MALAM JUM‘AT

IMAM SUYUTHI: PENULIS BESAR WAFAT DI MALAM JUM‘AT
Sumber: Muhsin Basyaiban

Imam Syutuhi atau lengkapnya Imam Jalaluddin as-Suyuthi, kami kira ini merupakan sebuah nama yang tidak asing lagi di telinga pendengaran kita. Terlebih lagi dikalangan santri/pondok pesantren. Sebab, banyak sekali di antara karya-karyanya yang menjadi rujukan/referensi bagi kebutuhan ilmu dikalangan santri, bahkan juga dikalangan akaedmis sekalipun. Dengan penanya, beliau menggeluti segala bidang ilmu. Beliau menulis tentang al-Qur’an, al-Hadits, Fiqh, Sejarah, Bahasa (Lughah), Balaghah, Kesusastraan dan lain sebagainya. Bahkan, karya tulisan beliau ada yang menyebutkan hingga mencapai jumlah 600 kitab. Dikatakan oleh salah seorang murid daripada Imam Jalaluddin as-Suyuthi yang pernah memberikan komentar tentang ke-ulama-an gurunya tersebut dengan perkataan, “Imam Jalaluddin as-Suyuthi adalah seorang yang banyak mengetahui ilmu pengetahuan, orang yang langka pada masanya, ulama yang tersisa dari generasi salaf juga sebagai pegangan ulama khalaf.” Masya Allâh Tabarakallâh.

Oleh karenanya, tidaklah diragukan lagi tentang keredibilitas sosok Imam Jalaluddin as-Suyuthi dan begitu pula dengan karya-karyanya. Dan Alhamdullillah, kami sebagai penerbit merasa bangga sekaligus bahagia, lantaran kami bisa menerbitkan salah satu dari sekian banyaknya karya yang pernah beliau tulis. Yaitu, kitab yang berjudul “Nûr al-Lum‘ah fî Khashâ’ish al-Jumu’ah”, dan berikutnya kami terbitkan dengan judul, “HARI JUM’AT: Keistimewaan dan Kemuliaan”. Adapun buku ini berisi tentang khushusiyyat atau keistimewaan di Hari Jum‘at, baik itu di malam ataupun di siang harinya. Seperti bershalawat, membaca surat al-Kahfi, membaca surat Yasin, berdzikir di malam Jum’at, memotong kuku, mandi Jum’at, mengenakan pakaian yang terbaik, memakai wewangian dan lain sebagainnya.

Ada yang menarik terkait dengan kitab ini dan juga tentang saat kewafatan beliau. Disebutkan dalam manaqibnya (sekelumit perjalanan hidup beliau), ternyata Imam Jalaluddin as-Suyuthi wafat pada malam Jum’at? Bertepatan dengan tanggal 19 Jumadil Ula tahun 911 H atau 17 Oktober tahun 1505 M, pada usia 61 tahun. Wafatnya Imam Jalaluddin as-Suyuthi tersebut disebabkan oleh sakit selama tujuh hari. Pada saat sebelum wafatnya (saat waktu ikhtidhar) beliau membaca surat Yasin? Masya Allâh. Hal ini, mengisyaratkan seakan buku yang ditulis oleh beliau ini (HARI JUM‘AT: Keistimewaan dan Kemuliaan) bukanlah sekedar tulisan di atas kertas belaka. Tetapi, ini adalah pengamalan yang mungkin saja telah beliau amalkan sejak dahulu, barulah kemudian ditulis oleh beliau.

Hemat kami, memang kealiman-kewara‘an para orang-orang terdahulu (baca: Salafunash Shalihin) sangatlah luar biasa. Dan menurut kami juga, hal ini (kealiman-kewara‘an) sangat sulit ada orang yang mampu menandinginya, apalagi untuk zaman ini. Akhiran, disebutkan dalam sebuah kesaksian oleh muridnya, yaitu asy-Syadzili. Ia mengatakan terkait dengan kewafatan gurunya, “Dalam waktu sekian lama, tidak pernah terjadi penghormatan yang luar biasa berkaitan dengan wafatnya seorang ulama seperti pada saat wafatnya Imam Jalaluddin as-Suyuthi.  Lahul-Faatihah …

Comments

comments

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top