Manaqib

SYEIKH ABDULLAH SIRAJUDDIN: AULIYA’ YANG PRODUKTIF BERKARYA

SYEIKH ABDULLAH SIRAJUDDIN: AULIYA’ YANG PRODUKTIF BERKARYA
Sumber: Muhsin Basyaiban

Syeikh Abdullah ibn Muhammad Najib Sirajuddin al-Hussaini ‘alayhimâ rahmatullâhi ta’âlâ merupakan keturunan Imam Hasan ibn Ali Abi Thalib radhiyallâhu ta’âlâ ‘anhuma wa ardhâhumâ dari pihak ayah. Syeikh Abdullah Sirajuddin lahir di dalam sebuah keluarga yang saleh dan terhormat, di masa ambang keruntuhan Ottoman Kesultanan pada tahun 1923 Masehi. Selama masa kecilnya, Syeikh Abdullah Sirajuddin dikelilingi oleh rasa cinta dan perhatian dari ayahnya, Muhammad Najib Sirajuddin, yang juga merupakan sarjana terkemuka di bidang Tafsir, Fiqih, Hadis, dan Tasawuf. Syeikh Abdullah Sirajuddin dikenal sebagai orang yang senang mengungkapkan banyak rasa hormat, kebaikan, dan cinta terhadap keluarganya. Diketahui juga bahwa beliau sangat giat dalam membantu ibunya mengerjakan pekerjaan rumah. Beliau sangat mencintai ayahnya, dan setelah ayahnya meninggal dunia, beliau selalu memulai tulisannya dengan perhormatan terhadap ayahnya.

Syeikh Abdullah Sirajuddin juga dikenal dengan pengalamannya melihat Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam selama tertidur maupun terjaga. Pada suatu kali Syeikh Abdullah Sirajuddin melihat Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Sayyidina Ali ibn Abi Talib karramallâhu wajhahu untuk memakaikan jubahnya kepada Syeikh, dan pada satu waktu yang lain Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam sendiri yang memakaikannya dengan tangannya yang mulia, dan suatu kali Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada Syeikh, “Engkau adalah ummat kami yang mengabdi.” Setelah itu Syeikh mengatakan, “Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam senang memiliki saya sebagai ummatnya.” Dan beberapa dari kalangan Ulama, bahkan ada yang mengatakan bahwa ketika Syeikh memulai menuliskan bukunya mengenai sirah Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam (yakni, Sayyiduna Muhammad Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam: Syamâiluh al-Hamidah – Khishâluh al-Majîdah), seperti seakan-akan Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam sedang berdiri di hadapan Syeikh dan beliau mendeskripsikan sifat mulia dan keindahan fisik dari Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Ada seseorang di Saudi Arabia yang mengatakan kepada Syeikh Abdullah Sirajuddin bahwa seorang temannya bertanya-tanya mengenai bagaimana cara untuk belajar lebih banyak mengenai Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Kemudian, pada suatu malam, ia melihat Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam mimpinya, dan ia bertanya kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, bagaimana cara hamba untuk dapat belajar lebih banyak mengenai diri Engkau?” Maka Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Apabila engkau ingin mengetahui lebih banyak mengenai diriku, maka bacalah buku mengenai Sayyiduna Muhammad Rasulullah yang ditulis oleh Syeikh Abdullah Sirajuddin.” Buku ini dilarang di Saudi Arabia, sehingga ia bertanya kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam tercinta, di mana ia dapat menemukannya, karena ia belum pernah mendengarnya. Di dalam mimpinya tersebut, ia mendengar Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam berkata, “Pergilah ke Aleppo (Halab), dan engkau akan menemukannya.” Pria ini belum pernah mengenal siapa sebenarnya Syeikh Abdullah Sirajuddin, atau apapun mengenai buku yang ditulis beliau. Ia pergi ke Halab dan menemukan buku tersebut, kemudian ia membacanya dan buku tersebut mengubah hidupnya.

Demikian pula, salah seorang Masyaikh dari kota Halab bernama Syeikh Muhammad Qaylish, ia mengatakan, “Saya dulu hanyalah orang biasa. Saya berusia 15 atau 16 tahun ketika membaca buku ini dan buku ini mengubah diri saya. Saya biasa membawa buku ini setelah Isya’, mengunci pintu kamar saya dan duduk di bawah cahaya, dan saya kemudian membacanya dan menangis karena kerinduan saya akan Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Saya menangis karena cinta saya terhadap Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Saya menangis karena merasa jauh dari Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Saya menangis karena keindahan dari Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Saya menangis karena jarak yang jauh antara saya dengan teladan Baginda Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang bercahaya benderang. Air mata saya tersebut mencairkan diri saya, dan mengubah hidup saya.” Ketika Syeikh Muhammad Qaylish bertemu dengan Syeikh Rabbani Abdullah Sirajuddin, beliau baru berusia dua puluhan,  dan ia benar-benar seorang pria yang luar biasa. Seperti yang dikatakan oleh Imam Bushiriy[1] rahimahullâhu ta’âlâ, “Dengan menyebut Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam, membuat hati menjadi hidup dan dosa serta kesalahan diampuni dan dihapuskan. Dan saya rindu hidup dengan beliau, senang dan sukses, dan bahwa saya ingin bertemu dengan beliau dan tidak memiliki beban apapun pada diri saya. Seorang Nabi, disempurnakan dalam keagungannya, sehingga beliau disebut sebagai Sang Kekasih.”

Karya besar Syeikh Abdullah Sirajuddin, “Sayyidunâ Muhammad Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam: Syamâiluh al-Hamidah – Khishâluh al-Majîdah,” dianggap sebagai karya terbaiknya, merupakan buku yang dibacakan kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam di dalam mimpi mereka dan kemudian ditempatkan di Ka’bah. Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Taruh buku tulisanmu ini di Ka’bah.” Lalu banyak kaum muslimin memimpikan Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam setelah membaca buku yang diberkahi ini dan buku-buku lainnya yang dituliskan oleh Syeikh Abdullah Sirajuddin dan juga banyak laporan dari para Ulama serta Auliyaillah yang melihat Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam dengan Syeikh Abdullah Sirajuddin di sisi beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam mimpi mereka yang tidak terhitung jumlahnya, dan banyak juga orang yang memimpikan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersama Syeikh Muhammad Najib Sirajuddin rahimahullâh, duduk bersebelahan.

Pada waktu itu, ketika Islam benar-benar melemah dalam banyak hal persoalan, beliau menginspirasi orang-orang untuk kembali ke jalan yang benar, karena tidak ada jalan lainnya. Dan meskipun Aleppo merupakan kota ulama, namun beberapa orang mengatakan bahwa tidak ada lagi ulama yang tersisa di Halab (Aleppo), setelah beliau meninggal. MasyaAllâh Tabarakallâh. Semoga Allahu subhânahu wa ta’âlâ memudahkan kita semua untuk meneladani akhlak dan pribadi para Kaum Shalihin, karena meneladani orang yang mulia adalah suatu kemuliaan. Âmîn Yâ Rabbal-‘Âlamîn.

[1] Penyusun Maulid Burdah.

Comments

comments

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top