Kabar

YEMEN EXPLORATION PART 2

YEMEN EXPLORATION PART 2
Sumber: Imam Abdullah El-Rashied
Editting: Muhsin Basyaiban

Mukalla City

Tiba di Mukalla, Asrama yang ku tempati tepat mengahadap wajah pantai Mukalla yang putih pasirnya nan biru airnya, indah sekali saudaraku. Tiap kali malam menghembuskan nafas peristirahatan, pagi yang menebar embun dan mentari yang mulai menari untuk semesta, selalu ku dengar nyanyian itu, ia nyanyian burung camar yang lalu-lalang yang bisa ku lihat dengan mata telanjang, di depan asramaku. Aku hanya bertasbih menikmati pemandangan ini tiap pagi, “SUBAHÂNALLÂH MASYÂ ALLÂH KÂNA WA MÂ LAM YASYA’ LAM YAKUN.” Takbir bergumuruh riuh dalam jiwaku sedangkan mentari melirik begitu mesra menatapku. FABIAYYI ‘ALÂ’I RABBIKUMÂ TUKADZDZIBÂN? MAKA, NIKMAT TUHANMU YANG MANA LAGI YANG ENGKAU DUSTAKAN?

Mukalla masih menyisahkan senyum lebar di sanubariku, meski sudah setahun lebih aku meninggalkannya. Maafkan aku Mukalla, walau aku pergi jauh darimu bukan berarti aku tak setia, karena efek perang dan konflik di pangkuan ibu pertiwimu aku harus mencari tempat berteduh yang aman, Tarim.

Aku masih mengenang saat-saat indah di pangkuanmu, Mukalla. Saat Jum’at pagi yang bisu itu, saat mentari mulai menyapaku, aku paksakan beratnya mata di libur mingguan ini untuk menghirup udara yang bercampur deburan ombak di bibir pantaimu yang putih itu. Aku jadi teringat Indonesiaku bila aku merendamkan kaki dalam perbatasan air dan pasir putih yang beradu, sejuk, penuh rintikan air laut yang kau hempaskan kewajahku.

Kadang, saat pelajaran pertama di pagi yang buta, saat aku masih menunggu Mudarris (Ustadz) masuk ke dalam kelasku. Tak terasa mata ini begitu berat dan terutup lantaran sayup-sayup suara angin pantai yang engkau hembuskan ke kampusku. Belum juga Mudarris mengucapkan salam permulaan, aku sudah dibangunkan oleh ringkikan suara keledai yang hampir tiap hari berlalu di depan kampus.

Terlalu banyak kenangan yang harus aku ungkapkan saat-saat indah di pangkuan hangatmu, Mukalla. Saat aku menikmati desiran angin pantai di penghujung musim dingin dari loteng asrama, ah… membuatku makin merindukanmu saja, Mukalla. Malam-malam yang aku lalui, saat lelap hendak mendekap badanku yang lelah seharian menerima segudang materi kuliah, engkau hadir melalui jendela kamarku dengan wajah gelap, ia wajah gelap yang bertaburkan bintang, bagaikan kain sutera yang berwarna hitam pekat yang ditaburi butir-butir mutiara di atasnya, alangkah eksotisnya dirimu Mukalla. Walau kadang insomnia harus memaksaku bergadang sampai jam satu malam, namun teduh wajah langitmu telah menentramkan jiwaku di tanah perantauan ini.

Namun sayang sekali, hanya 4 bulan aku merasakan kenangan indah bersamamu, Mukalla. Aku masih ingat saat aku mengunjungi Sharij, pusat perbelanjaan yang ada di jantung kotamu. Sampan-sampan kecil yang berlalu-lalang di Kanal yang membentang dari bibir pantaimu dan membelah Sharij menjadi lebih eksotik, khususnya di malam hari. Lampu-lampu kuning sepanjang kanal membentang, lalu-lalang perahu getek (sampan), ah kau buat aku makin rindu saja. Saat menanti teman-temanku berkumpul di samping jembatan itu, jembatan di atas kanal indahmu.

Kabar itu terlalu mendadak Mukalla, selepas Shalat Isya’ tiba-tiba kami diminta pengurus kuliah menyiapkan dua helai baju, sarung, celana dan gamis. Kami harus segera menuju Tarim, mencari titik teraman saat engkau dalam cengkraman para Teroris yang tak bertanggungjawab. Persiapan yang mendadak, hanya berbekal kitab-kitab yang penting saja dan pakaian yang hanya bisa dihitung dengan jari, pagi-pagi betul kami harus meninggalkanmu tanpa salam perpisahan. Sekali lagi, maafkan aku, tamu asing yang mendadak meninggalkanmu.

7 jam lamanya aku menikmati perjalan yang cukup berat ini, aku harus meninggalkanmu, Mukalla. Melintasi bukit-bukit yang bisu, menukik dan menanjak. Lebih banyak aku memejamkan mata daripada membentangkannya menangkap setiap pemandangan perbukitan sepanjang jalan. Hanya di beberapa kota saja aku membukakan mata, yah agar aku tak merasakan begitu lelah dan beratnya aku harus meninggalkanmu, Mukalla. 

Comments

comments

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top