Resume Buku

KITAB PEGANGAN BAGI GENERASI MODERN

SULUKJudul : SULUK: Pedoman Memperoleh Kebahagian Dunia-Akhirat
Pengarang : Muhammad Ali Ba’athiyah
Penerjemah : Hasan Suaidi
Editor : Muhsin Basyaiban
Penerbit : Layar Creativa Mediatama, DI. Yogyakarta
Cetakan : Kedua, September 2015
Tebal : xxiii + 238 halaman
ISBN: 978-602-14833-4-3

KITAB PEGANGAN BAGI GENERASI MODERN

“Suluk” adalah jalan yang ditempuh oleh seorang mukmin yang dilaluinya, baik pada waktu malam, siang dan seluruh waktu dan jam. Perjalanan ini beragam sesuai beragam sesuai dengan keragaman yang dilaluinya, perjalanan (suluk) ini berbeda sesuai dengan individu atau kelompok satu dengan lainnya. Sejatinya suluk seorang mukmin wajib dijaga dan dipelajari semenjak tumbuhnya kuku  jemari tangan hingga usia memahami percakapan atau sampai tua. Secara garis besar, menurut Syaikh Muhammad Ali  Ba’athiyah dalam buku “SULUK: Pedoman Memperoleh Kebahagian Dunia-Akhirat”, suluk ada empat macam. Yaitu (1) Suluk seorang mukmin kepada Allah, kepada Nabi, kepada kitab Allah, kepada para sahabat Nabi, kepada para ulama, kepada para guru, kepada para kerabat (meliputi kedua orang tuanya, saudara, dan familinya), kepada saudara sesama muslim, dan kepada non-muslim. (2) Suluk dalam anggota tubuh dan hati. (3) Suluk dalam tiang agama. Dan (4) Suluk dalam kesendirian.

Menurut buku yang diterbitkan oleh Penerbit Layar, DI. Yogyakarta  ini, makna suluk kepada Allahu subhanahu wa ta’ala adalah cara (metode) yang ditempuh oleh seorang mukmin yang shaleh, bertaqwa, yang hatinya wara’ (hati-hati),  bersih dan lurus, yang dekat kepada Allah dan jauh dari setan dalam setiap detik perjalanan umurnya bersama Allahu subhanahu wa ta’ala. Dalam buku yang dicetak setahun dua kali ini menegaskan bahwa sesungguhnya suluk kepada Allahu subhanahu wa ta’ala berarti melakukan semua ketaatan kepada Allah disertai perasaan selalu diawasi oleh Allah, menjauhi berbuat maksiat disertai perasaan takut kepada Allah, selalu berpikir tentang kekuasaan Allah sampai kita tidak melupakan Allah sedikitpun.

Pedoman yang wajib dilakukan bagi seorang salik (pelaku suluk) kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menurut Syaikh Ba’athiyah yang menjadi Rektor Universitas Imam Syafi’i kota Mukalla, Yaman, adalah menuntunnya kepada kebaikan serta dapat mendekatkannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga termasuk ke dalam kelompok shalafushshaleh. Yaitu mukmin yang cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan rasa cinta yang lebih banyak dibanding mencintai diri sendiri, mencintai ibu kandung, mencintai ayah, anak dan manusia seluruhnya.  Sebagaimana disebutkan dalam buku yang diterjemahan oleh Hasan Suaidi ini, seseorang yang tumbuh menjadi salik harus berpegang kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak menyimpang dari sunnahnya, baik sunnah qauliyah (sunnah yang berupa sabda), fi’liyah (sunnah yang berupa perbuatan), maupun taqririyah (sunnah yang berupa ketetapan). Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku tidak meninggalkan bagi diri kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, maka kalian tidak akan pernah tersesat sepeninggalku, yaitu Kitabku dan Sunnahku.”

Setelah suluk kepada Allahu subhanahu wa ta’ala dan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka menurut buku setebal xxiii + 238 halaman ini, seorang salik wajib juga melakukan suluk terhadap anggota tubuh dan hatinya. Yang dimaksud dengan anggota tubuh itu meliputi mata, telinga, lisan, perut, kemaluan, kedua tangan, kedua kaki, dari penyakit hati, riya’, dengki dan berburuk sangka. Kemudian seorang salik harus melakukan suluk dalam kewajiban shalat wajib, maupun shalat sunnah. Allahu subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. al-Ankabut [29]: 45). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Pembeda antara seseorang  dengan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR Muslim).

Suluk dalam keseharian, disebutkan Syaikh Ba’athiyah, mencakup keseluruhan dari sopan santun yang wajib dimiliki orang yang ingin melakukan suluk. Adab dalam kehidupan keseharian ini menjadi petunjuk kesempurnaan akhlak dan mu’amalah seseorang. Hal ini menunjukkan atas baiknya elemen diri seseorang dan kehormatan suatu keluarga. Sebab adab keseharian dapat menunjukkan pendidikan yang luhur yang menyertai tumbuh kembangnya seseorang dalam kehidupan keluarganya. Islam telah mengatur segala segi kehidupan, seperti adab berjalan, duduk, berbicara, makan, makan bersama, tidur, bangun tidur, berpakaian, berkunjung dan meminta izin, menyenguk orang sakit, takziyah, orang yang tertimpa musibah, serta bersimpati mengucapkan salam. Karena itu, tak salah Alhabib Abu Bakar al-Adni bin Ali al-Masyhur dalam kata pengantar mengatakan bahwa, “Kitab ini adalah kitab yang lengkap, bermanfaat, dan memberikan banyak faedah”. Sementara itu, Alhabib Umar bin Muhammad bin Hafidz BSA dalam kata pengantarnya mengatakan,  “Kitab yang sangat baik dan penuh berkah”. Dan Alhabib Muhammad bin Sa’id Beidh juga mengatakan, “Kitab ini adalah kitab yang dibutuhkan oleh setiap pemuda yang terombang-ambing ombak di lautan dari segala arah, sehingga tidak istiqamah. Kitab ini juga bisa dijadikan pegangan bagi generasi modern.” Jadi tak salah lagi, pentingnya Anda untuk membaca kitab ini. -Saiful Bahri-

Comments

comments

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top