Fawaid

SEPUTAR BERQURBAN

SEPUTAR BERQURBAN
Sumber: al-Habib Abdullah al-Muhdor
Penerjemah: al-Habib Taufiq Assegaf
Transkiping: Muhsin Basyaiban

Berqurban atau Udhiyyah merupakan “sunnah muakkadah”, yaitu sunnah yang ditekankan atau dalam bahasa lain sunnah yang sangat dianjurkan. Kesunnahan ini disasarkan kepada orang yang mampu. Adapun makna daripada orang yang mampu di sini yaitu, memiliki harta yang lebih untuk keperluannya, kebutuhannya, baik di hari raya maupun malamnya hari raya. Ketika sudah memiliki harta yang berlebih dan bisa dipakai untuk berqurban, maka orang yang seperti ini disunnahkan untuk melaksanakan qurban. Bahkan, dalam konteks orang yang seperti ini ada yang menghukuminya “makruh” bagi yang tidak berqurban. Karena sebagian ulama ada yang mengatakan “wajib” untuk berqurban bagi orang yang mampu! Meski, hal ini termasuk “khuruj min hilafi ulama” atau keluar daripada khilafnya para ulama.

Nabi ‘alayhish-shalâu was-salâm bersabda:

.اسْتَفْرِهُوا ضَحَايَاكُمْ، فَإِنَّهَا مَطَايَاكُمْ عَلَى الصِّرَاطِ

Perbaguslah hewan qurban kalian, karena dia akan menjadi tunggangan kalian melewati jembatan shirath.” (al-Hadits) [1]

Artinya, (dalam memahami konteks hadits di atas) kita dianjurkan untuk memilih hewan qurban yang istimewa, jangan pilih yang kurus atau kerempeng, karena ini akan menjadi tunggangan kita kelak di akhirat nanti. Dikatakan, bahwa tetesan darah pertama hewan qurban akan diterima langsung oleh Allahu subhânahu wa ta’âlâ. Namun, sebenarnya yang menjadi ukuran bukanlah darah atau dagingnya. Akan tetapi, karena kamu menjadi orang yang taqwa dan patuh kepada Allah, maka itulah yang sebenarnya dinilai oleh Allah. Jadi, bukan karena darah atau lainnya, tetapi karena kamu melaksanakan perintah Allah, maka itulah yang menjadi nilai di sisi Allahu subhânahu wa ta’âlâ.

Hewan yang diqurbankan nanti; baik itu tanduknya, rambutnya, kukunya, dan semuanya itu akan menjadi timbangan yang sangat berat daripada kebaikan orang yang melakukannya. Oleh karenanya, dimakruhkan bagi orang yang berqurban untuk memotong rambut dan kukunya sampai dia melaksanakan qurban. Kenapa? Karena, hal ini akan menjadi saksi nanti di hari kiamat. Sebab, tubuh manusia ini akan dikembalikan di hari kiamat. Nah, ketika tubuh kamu dikembalikan, hal itu akan menjadi saksi atas kebaikan kamu kelak di hari kiamat. Maka daripada itu, laksanakan itu semuanya untuk menjadi saksi. Sebab, jika kita potong (kuku atau rambut kita) maka akan rugi, lantaran yang semestinya bisa menjadi saksi kelak di hari kiamat tetapi karena dipotong (kuku dan rambut kita), ternyata tidak bisa menjadi saksi atas kebaikan kita tersebut, padahal ada pahala yang sangat besar daripada udhiyyah atau berqurban. Wallahu a’lam.

[1] Dikeluarkan oleh sahabat Abu Hurairah ra.

Comments

comments

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top