Fawaid

KEMULIAAN PUASA TARWIYAH DAN ARAFAH

KEMULIAAN PUASA TARWIYAH DAN ARAFAH
Sumber: Muhammad Sofiey
Editting: Muhsin Basyaiban

Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan yang mulia karena di dalamnya terdapat 10 hari pertama yang begitu sangat istimewa dan di dalam 10 hari pertama tersebut terdapat hari Tarwiyah, hari Arafah dan hari Nahar. Di mana kesemuanya itu merupakan syiar-syiar Allah yang sangat agung. Dalam hal ini, Allah berfirman dalam Surat al-Fajr [89] ayat 1-2 :

وَالْفَجْرِ ۝ وَلَيَالٍ عَشْرٍ ۝

“Demi Fajar dan malam yang sepuluh.” (QS. al-Fajr [89]: 1-2)

Para ulama berbeda pendapat mengenai Fajar yang dimaksud dalam surat tersebut menjadi beberapa pendapat, akan tetapi pendapat yang kuat adalah Fajar hari Arafah. Dari sini sangat jelas bahwa Allah tidak mungkin bersumpah atas sesuatu kecuali sesuatu itu sangat mulia di sisi-Nya.

Berkaitan dengan kemulian bulan Dzulhijjah, ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyâllahu ‘anhu bahwasannya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَفْضَلُ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ، أَيَّامِ الْعَشْرِ، فَأَكْثِرُوْا فِيْهِنَّ مِنَ التَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ وَذِكْرِ للهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَإِنَّ صِيَامَ يَوْمٍ فِيْهَا يَعْدِلُ بِصِيَامِ سَنَةٍ، وَالْعَمَلَ فِيهِنَّ يُضَاعَفُ سَبْعمِائَةِ ضِعْفٍ. رواه البيهقي

“Tidak ada hari-hari yang lebih utama di sisi Allah daripada hari-hari ini, yaitu hari 10 pertama bulan Dzulhijjah, maka perbanyaklah di dalamnya membaca tahlil, takbir dan dzikir kepada Allah. Sesungguhnya puasa satu hari di dalamnya sebanding dengan puasa satu tahun dan beramal di dalamnya dilipatgandakan sampai 700 kali lipat.” (HR. al-Baihaqi)

Seandainya satu hadits ini saja, maka sudah cukup untuk mewakili kemuliaan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah dengan mengisinya dengan berbagai macam ibadah dan kebaikan, termasuk puasa. Akan tetapi, di sana terdapat hadits lain yang menjelaskan keutamaan puasa Tarwiyah, walaupun jika benar status haditsnya dhaif namun para ulama memperbolehkan mengamalkan hadits dhaif untuk fadhailul a’mal sebagaimana para ulama memperbolehkan mengamalkan hadits tentang puasa Tarwiyah:

.صَوْمُ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ كَفَّارَةُ سَنَةٍ

“Puasa hari Tarwiyah bisa menghapus dosa satu tahun.” (al-Hadits)[1]

Alangkah beruntungnya orang yang dosanya setahun yang lalu diampuni oleh Allah. Dan salah satu cara agar seseorang diampuni dosanya setahun yang lalu, yaitu dengan berpuasa pada hari Tarwiyah. Adakah orang yang tidak punya dosa sehingga ia tidak ingin dosanya diampuni oleh Allah?

Kaitannya dengan puasa Arafah, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dalam hadits shahihnya:

عَنْ أَبِى قَتَادَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ، قَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ. رواه مسلم

Dari Abi Qatadah radhiyâllahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa Arafah, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Puasa Arafah bisa menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim)

Dari hadits di atas menjadi jelas bahwa Puasa Tarwiyah dan Arafah mempunyai keutamaan bagi siapa saja yang melakukannya. Apakah ada orang yang lebih beruntung daripada orang yang diampuni dosanya oleh Allah? Jika manusia paling mulia dan manusia yang diberi keistimewaan oleh Allah dosa-dosanya diampuni oleh Allah, baik yang terdahulu dan yang akan datang juga berpuasa, lalu bagaimana dengan orang yang banyak dosanya? Pasti jauh lebih pantas untuk berpuasa.

Bulan Dzulhijjah menjadi sangat mulia bukan karena terdapat hari Tarwiyah dan Arafah saja, akan tetapi karena di dalam 10 hari pertama terdapat malam hari raya yang begitu sangat agung dan istimewa. Dalam hal ini, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam salah satu haditsnya:

.مَنْ أَحْيَا لَيْلَتَيِ الْعِيْدَيْنِ، أَحْيَا اللهُ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوْتُ الْقُلُوْبُ

“Barang siapa yang menghidupkan dua malam hari raya, maka Allah akan menghidupkan hatinya pada saat banyak hati yang mati.” (al-Hadits)[2]

Sebagian ulama menafsirkan hadits tersebut bahwa orang yang menghidupkan dua malam hari raya, maka Allah akan menyelamatkannya besok pada hari kiamat di mana pada hari itu banyak hati yang tidak selamat dan Allah akan menjaganya dari su’ul khatimah.

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

.مَنْ أَحْيَا اللَّيَالِيَ الأَرْبَعَ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ : لَيْلَةَ التَّرْوِيَةِ، وَلَيْلَةَ عَرَفَةَ، وَلَيْلَةَ النَّحْرِ، وَلَيْلَةَ الْفِطْرِ

“Barang siapa yang menghidupkan malam yang empat, maka wajib baginya surge; yaitu malam Tarwiyah, malam Arafah, malam hari Nahar (malam Idul Adha), dan malam Idul Fitri.” (al-Hadits)[3]

Tidakkah seseorang ingin mendapatkan surganya Allah? Pastinya tidak cukup hanya dengan pengakuan, tapi juga harus disertai dengan tindakan. Dan salah satu cara untuk mendapatkan surga-Nya adalah dengan menghidupkan malam hari raya.

Para ulama menjelaskan bahwa paling sedikit bisa masuk dalam kategori menghidupkan malam hari raya adalah dengan melakukan shalat Isya’ dan Shubuh berjama’ah. Dan itu masuk dalam tingkatan terendah dalam menghidupkan malam hari raya. Semakin banyak ibadah dan kebaikan yang dilakukan dalam menghidupkan hari raya maka semakin besar pula keutamaan yang akan ia peroleh.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

.خَمْسُ لَيَالٍ لَا تُرَدُّ فِيهِنَّ الدَّعْوَةُ: أَوَلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ، وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، وَلَيْلَةُ الْجُمُعَةِ، وَلَيْلَةُ الْفِطْرِ، وَلَيْلَةُ النَّحْرِ

“Ada 5 malam di mana di dalamnya tidak ditolak sebuah do’a; yaitu malam pertama bulan Rajab, malam Nishfu Sya’ban, malam Jum’at, malam Idul Fitri dan malam Idul Adha.” (HR. Ibnu ‘Asakir)

Pada malam hari raya adalah kesempatan emas yang begitu amat sayang jika disia-siakan begitu saja, karena orang mengisinya dengan sesuatu yang istimewa maka ia akan mendapatkan sesuatu yang istimewa dan ia pun akan menjadi orang yang istimewa pula. Wallahu a’lam.

*Insya Allah, hari Tarwiyah tahun ini jatuh pada hari Sabtu, 10 September 2016 dan hari Arafahnya jatuh pada hari Ahad, 11 Sepetmber 2016. Selamat berpuasa.

 

 

[1] Hadits di atas diriwayatkan oleh sahabat Abdulla ibn Abbas ra.

[2] Hadits di atas diriwayatkan oleh sahabat Abu Nu’aim ra.

[3] Hadits di atas diriwayakan oleh sahabat Mu’adz ibn Jabbal ra. Dalam periwayatan lainnya, ada yang menambahkan dengan lima malam yang keilma yakni, malam Nishfu Sya’ban.

Comments

comments

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top