Fawaid

​SEBAB MAKANAN: SEORANG PEMUDA MENDAPTKAN ISTRI, MASYA ALLAH

SEBAB MAKANAN: SEORANG PEMUDA MENDAPATKAN ISTRI, MASYA ALLAH

Sumber: al-Ustadz Abu Bakar Fahmi Assegaf
Editing: Muhsin Basyaiban

Dikisahkan ada seorang guru sedang duduk di dalam masjid, lalu disitu pula ada seorang pemuda yang juga duduk dalam masjid itu sambil menuntut ilmu agama. Ia bekerja namun ia juga belajar agama kepada guru tersebut. Adapun perkerjaan pemuda ini sangatlah terbatas, ia tidak memiliki apa pun, bahkan untuk memenuhi makan saja terkadang tidak mencukupi. Setelah bertalaqi/bertatap muka kepada gurunya, belajar agama, maka pemuda ini pun pergi. Tidak lama kemudian, saat gurunya itu masih dalam keadaan posisi duduk sendirian dalam majelis, tiba-tiba saja dihampiri oleh seorang perempuan yang ingin berkonsultasi kepada guru tersebut.

Singkat cerita, perempuan ini yang ditemani oleh saudaranya menjelaskan asal usulnya kepada guru tersebut. Bahwasanya ia adalah seorang janda yang sudah ditinggal suaminya dan masa iddahnya pun sudah selesai. (Masa iddah yakni, masa bagi seorang wanita yang ditinggal suaminya setelah cerai hidup atau cerai wafat). Setelah masa iddahnya selesai, maka perempuan ini menemui guru tersebut untuk meminta pendapat, “Saya ditinggali oleh suami saya dengan harta yang banyak, rumah, anak, dan lain sebagainya. Saya ingin hidup saya ini tenang dengan IMAM BARU. Lantas, saya mesti bagaimana wahai guru?” Sebenarnya ini hanya bahasa sindiran saja, “Ya, kalau bisa ustadz carikan saya suami yang shaleh?” Maka, guru tersebut pun terdiam sejenak.

Kemudian, guru tersebut pun berkata, “Bagus, kalau memang sudah selesai masa iddahmu, semoga Allahu ta’ala memberikan IMAM yang shaleh.” Dan Sang Guru pun sambil memikirkan, kira-kira siapa ini yang cocok untuk wanita tersebut. Maka, Sang Guru itu jadi teringat seorang pemuda yang kadang-kadang hadir di majelisnya. Akhirnya, pemuda itu dipanggil oleh Sang Guru. Kata Sang Guru, “Ta’aal/Kemarilah, kamu sehat?” Kata Si Pemuda, “Alhamdulillah baik, wahai Guru.” Sang Guru pun melanjutkan, “Kamu mau nikah?” Masya Allah, ini ada anak muda tidak punya duit, ditawari kawin? Siapa juga yang enggak mau! Lanjut, kata Si Pemuda itu, “Mau guru, sama siapa?” Lalu, Sang Guru pun mengatakan, “Itu … (sambil menunjuk wanita yang tak jauh dari gurunya tersebut).”

Maka, ketika gurunya menyampaikan seperti hal yang di atas, dan Sang Guru pun menambahkan, “Tapi, dia seorang janda.” Lalu Si Pemuda menjawab, “Bismillah guru.” Dan kemudian, Sang Guru kembali bertanya kepada wanita janda tersebut, “Ini saya punya murid, kadang-kadang ia datang ke pengajian (walaupun datangnya cuma seminggu sekali), tapi Insya Allah, saya doakan ia seorang yang shaleh.” Maka kata wanita janda tersebut, “Bismillah guru, yang penting (insya Allah) ia mengerti ilmu agama, yakni takut kepada Allahu ta’ala, sudah cukup.” Maka, setelah itu dipanggil lah wali janda tersebut, dan dipanggil pula semuanya dan di hadapkan kepada Sang Guru, lalu aqad nikah, selesai, mudah sekali.

Adapun masalah maharnya, Si Pemuda ditanya oleh Sang Guru, “Kamu punya mahar?” Maka, Si Pemuda mengatakan, “Tidak ada, wahai guru.” Lalu, Sang Guru pun berkata, “Ini saya kasih duit untuk mahar wanita itu.” Masya Allah, dan akhirnya karena sudah resmi menjadi suami-istri, mereka berdua pun dipersilahkan pulang ke rumah dan di doakan oleh Sang Guru, “BARAKALLAHU LAKUMA WA BARAKA ALAIKUMA, WAJ’ALNA MINAL-KHEIR, mudah-mudahan kalian menjadi keluarga yang SAKINAH WA RAHMAH dan diberi keberkahan oleh Allah.”

Ketika mereka berdua pulang ke rumah, Si Pemuda ini sebenarnya tidak tau di mana rumah wanita yang sudah menjadi istrinya tersebut? (Saya akan cerita flashback) Sebelum kejadian itu semua, Si Pemuda karena rasa lapar yang luar biasanya, ingin membeli makan tapi tidak ada uang. Maka, di saat itu Si Pemuda melihat rumah seseorang yang sangat besar dari seorang yang kaya raya. Lalu, Si Pemuda itu pun masuk ke rumah tersebut. Ia ingin meminta izin ke tuan rumah tapi malu rasanya, akhirnya ia menyelinap ke bagian belakang rumah tersebut.

Di sana Si Pemuda menemukan ruang dapur, dan Si Pemuda lalu melihat ada tempat seperti baskom, ketika dibuka ternyata isinya adalah lontong. Kata Si Pemuda, “Ya Allah, ini saya sangat lapar. Saya kepengin sekali makan lontong ini. Saya lihat dirumah ini juga tidak ada orang.” Akhirnya, lontong itu pun diambil oleh Si Pemuda, dan ia cuil sedikit lalu memakannya. Saat Si Pemuda ini memakan lontong itu, seketika itu pula ia ingat dengan Allahu ta’ala. “Ya Allah, ini kalau jadi barang haram urusannya bakal ruwet kelak di akhirat.” Karena makanan itu masih ia kunyah, belum ia telan, maka akhirnya ia pun segera memuntahkannya.

Kemudian, Si Pemuda ini buru-buru keluar dari rumah tersebut. Ia memasrahkan segala urusannya kepada Allah. Kalau memang hari itu ia tidak dapat makan, lalu ia mati, maka ia pun rela, kira-kira itulah tekadnya. Masya Allah. Akhirnya, Si Pemuda itu pun pergi ke masjid dan terjadilah peristiwa sebagaimana cerita-cerita pada sebelumnya. Maka, ketika Si Pemuda pulang bersama istrinya, lalu sampai dan masuk ke rumah istrinya. Ia pun terkaget. “Lho, bukankah ini rumah yang tadi saya masuki?” Kata batin Si Pemuda itu. Setelah itu, Sang Istri pun mengajak Si Pemuda ini (yang sudah menjadi suaminya) ke ruang bagian tengah rumah.

Maka, Sang Istri (yang shalehah dan janda itu) berkata kepada Si Pemuda/Suaminya, “Suamiku, sudah makan?” Lalu Si Pemuda pun segera mejawab, “Belum, belum, saya belum makan.” Kemudian, Si Pemuda diajak oleh istrinya ke dapur. “Ayo, suamiku kita ke dapur.” Ketika itu, dihidangkan lah baskom yang berisi lontong. Maka saat baskom itu dibuka, istrinya pun terheran, “Lha, kok ini lontongnya terputus, dan ada sisanya di sini.” Wanita janda yang sudah menjadi istri Si Pemuda itu terheran-heran, sebab ia memasak lontongnya dengan utuh tapi kenapa saat dibuka ada yang kepotong dan ada buangan sisa potongan lontong itu.

Ketika wanita itu sedang merasa heran atas kejadian tersebut, maka tiba-tiba saja Si Pemuda itu terlihat menangis. Lalu Si Pemuda itu pun berkata kepada istrinya, “Wallahi/Demi Allah wahai istriku, aku tadi pagi dalam keadaan yang amat lapar. Hampir mati rasanya menahan lapar ini. Ketika lewat di depan rumah ini, lalu aku melihat pintu yang terbuka. Dan aku mencium bau-bauan makanan, maka aku pun kepengin makanan itu untuk menyambung hidupku. Maka, aku pun masuk ke dapur rumah ini lalu aku dapati baskom yang berisi lontong. Maka, aku cuil dan makan lontong itu. Ketika makanan itu masuk di mulut, seketika itu pula aku menjadi teringat dengan Allah. INI KALAU DIHISAB OLEH ALLAH URUSANNYA BAKAL PANJANG KARENA MENGAMBIL MAKANANNYA ORANG LAIN. Maka kemudian, lontong itu aku buang. Dan yang di bawah itulah bekas sisaan lontong yang aku buang tadi.” Lalu apa jawaban istri yang shalehah tersebut, “Wahai suamiku, ALLAHU AKBAR, gara-gara kau melepaskan dirimu dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah, sekarang kau dapat lontong utuh, dapat rumah dan dapat pemilik rumahnya sekalian.” Masya Allah.

Adapun faedah yang bisa kita petik dari kisah di atas adalah ORANG-ORANG YANG MENINGGALKAN PERKARA HARAM JANGANLAH DIREMEHKAN, lantaran dibalik hal tersebut ada keajaiban dari Allahu subhanahu wa ta’ala. Artinya, orang-orang seperti ini tinggal menunggu keajaiban dari Allah. Namun, nyatanya banyak di antara kita justru mengejar perkara yang haram. Padahal, kalau kita mau bersabar dan meninggalkan perkara yang haram atau pun yang syubhat, maka Allahu ta’ala akan memberikan kepada kita sebuah keajaiban, dan Allah ganti dengan yang lebih baik. Wallahu A’lam.

Comments

comments

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top