Fawaid

ANAK KECIL DAN PERKATAAN YANG MENAKJUBKAN

ANAK KECIL DAN PERKATAAN YANG MENAKJUBKAN
Sumber: al-Ustadz Abu Bakar ibn Hasan Assegaf
Editing: Muhsin Basyaiban

Dikisahkan pada suatu saat ada seorang yang berjalan di pinggiran kota Bashrah. Ia melihat ada beberapa anak kecil yang sedang bermain dipinggiran jalan tersebut. Di sisi yang lain, ia melihat ada seorang anak yang tidak ikut bermain dengan teman-temannya itu. Maka, orang tersebut pun menyangka bahwa anak yang berdiam diri ini mungkin tidak bisa membeli mainan, sehingga ia tidak bisa bersuka ria bersama teman-temannya. Kemudian, orang tersebut pun mendekati anak kecil itu dan ia menawarkan akan membelikan mainan kepada anak itu. Kata orang tersebut, “Saya akan penuhi apa yang kamu minta; membelikan mainan supaya kamu ini bisa bermain dengan teman-temanmu?”

Namun, tidak dinyana apa jawaban yang keluar dari anak yang masih kecil itu. Ia justru mengatakan, “MÂ LILLA’IB KHULIQNÂ?” (Kami tidak diciptakan untuk bermain-main?) Kemudian, ia pun menyampaikan firman Allahu subhânahu wa ta’âlâ:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ ۝

“Apakah kalian mengira, bahwa Kami (Allah) menciptakan kalian sia-sia (main-main), dan (apakah kalian mengira) kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami? (QS. al-Mukminun [23]: 15)

Kemudian anak itu berkata lagi:

أَرَى الدُّنْيَا تَجَهَّزَ بِانْطِلَاقِ         #         مُشْمِرَةً عَلَى قَدَمٍ وَسَاقِ

Aku melihat dunia ini sudah siap untuk berangkat |
Membawa para penghuninya

فَلَا الدُّنْيَا بِبَاقِيَّةٍ لِحَيٍّ               #        وَلَا حَيٌّ عَلَى الدُّنْيَا بِبَاقِ

Tidak ada satu pun dari dunia ini yang kekal untuk seseorang |
Dan tidak ada satu pun orang yang hidup yang kekal di dunia ini

كَأَنَّ الْمَوْتَ وَالْحَدَثَانِ فِيْهَا        #        إِلَى نَفْسِ الْفَتَى فَرَسَا سَبَاقِ

 Seakan-akan kematian dan pergantian (siang dan malam) di dalamnya |
Seperti kuda pacu yang begitu kencang menuju jiwa setiap seseorang

يَا مَغْرُوْرَ بِالدُّنْيَا رُوَيْدًا            #         وَمِنْهَا خُذْ لِنَفْسِكَ بِالْوِثَاقِ

Wahai orang yang tertipu dengan dunia |
Perlahan bertaubatlah (kepada Allah) dan ambillah dari dunia itu
sebagai bekalmu (menuju kepada Allahu subhânahu wa ta’âlâ)

Maka, anak yang masih kecil itu terus bermunajat dengan helain nafas yang berat, dan berlinang air mata, hingga pada akhirnya ia pun jatuh pingsan. Atas kejadian itu, orang tersebut berkata, “Aku angkat kepalanya, lalu aku letakkan di atas pangkuanku. Kemudian, aku bersihkan seluruh tanah, debu, yang ada di wajahnya dengan telapak tanganku.” Maka, setelah ia tersadar aku berkata kepadanya, “YÂ BUNAYYÂ, ANTA SHABIYYUN SHAGÎR?” (Wahai anakku, engaku ini anak masih kecil, belum baligh, tidak ada dosa yang ditulis untukmu? Lalu apa yang terjadi padamu ini?)

Kemudian, anak tersebut pun berkata, “ILAIKA ANNÎ, INNÎ RAITU WALIDATÎ TÛQIDUN-NÂRA BIL-KHATABIL-KIBÂR FALÂ TATTAQID ILLA BISH-SHIGÂR.” (Tinggalkan lah diriku ini, aku melihat ibuku ketika memasak menyalakan api dengan kayu-kayu yang besar, namun itu tidak bisa menyala kecuali harus didahului dengan kayu-kayu yang kecil dan barulah api itu menyala). Maka, anak itu pun melanjutkan perkataannya lagi, “Aku takut ketika baligh dan tumbuh dewasa, namun diriku dalam keadaan melakukan yang haram, dan aku juga takut jika sampai mati (hingga pada akhir umur) diriku masih dalam keadaan melakukan sesuatu yang haram.”

Mendengar ucapan yang luar biasa dari anak kecil itu, berganti si orang tersebut yang jatuh pingsan. Kemudian, anak kecil itu pun meninggalkan orang tersebut. Maka, setelah orang tersebut tersadar dan bangun dari pingsannya, dilihat anak itu sudah tidak ada lagi bersama dengan teman-temannya. Lalu orang tersebut bertanya kepada teman-teman anak itu, “MAN YAKÛNU DZÂLIKAL-GULÂM? Siapa anak itu? Siapa anak yang kalimatnya itu begitu luar biasa.” Kemudian, teman-teman anak itu berkata, “MÂ ‘ARAFTA? Engkau tidak tau siapa dia?” Maka, si orang tersebut berkata, “Saya tidak tahu.” Selanjutnya, teman-teman anak itu pun mengatakan, “DZÂKA MIN AWALADIL-HUSAIN BIN ALI BIN ABI THALIB KARRAMALLÂHU WAJHAHU, WA BIN FATIMATIZ-ZAHRA BINTI RASULILLAH SHALLÂLLÂHU ‘ALAIHI WA SALLAM.” (Anak itu adalah anak cucu daripada Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib, bin Fatimah binti Rasulillah shallâllâhu ‘alaihi wa sallam).

Mendengar perkataan teman-teman anak kecil itu, maka orang tersebut pun berkata, “QAD AJIBTU MIN AINA TAKÛNU HÂDZIHI TSAMRAH ILLA MIN TILKASY-SYAJARAH.” (Sungguh aku telah kagum dari mana buah ini tumbuh kecuali (buah ini tumbuh) dari pohon itu). Yakni, pohon yang sebagaimana diumpamakan Allahu ta’âlâ dalam al-Quran, “KASYAJARATIN THAYYIBAH ASHLUHÂ TSÂBITUN WA FAR’UHÂ FIS-SAMÂ’.” “Seperti pohon yang bagus, akarnya menancap (di bumi) dan dahannya (ranting-rantingnya) menjulang tingga sampai ke atas langit.” (QS. Ibrahim [14]: 24). Adapun pohon tersebut adalah Rasulullah shallâllâhu ‘alaihi wa sallam, sedangkan dahan atau ranting-rantingnya adalah ahlul bait (keturunannya). Masya Allah Tabarakallah. []

Comments

comments

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top