Taklim

DI ANTARA KEWAJIBAN SEORANG PEMIMPIN

DI ANTARA KEWAJIBAN SEORANG PEMIMPIN
Sumber: al-Habib Ahmad ibn Jindan
Editing: Muhsin Basyaiban

PENERBITLAYAR.COM, YOGYAKARTA — Di antara kewajiban seorang pemimpin adalah MENCARI TAHU TENTANG KEADAAN RAKYATNYA. Artinya, seorang pemimpin itu harus berkeliling jangan cuma duduk dikursi? Ia juga harus turun ke masyarakat, masuk ke gang-gang, masuk ke perkampungan, keluar tengah malam melihat keadaan, turun langsung ke pasar dan melihat sendiri. Masya Allah, begitulah pula yang pernah dilakukan oleh Sayyidina Umar ibn Khatthab ra. semasa kepemimpinannya menjadi Amirul Mukminin.

Sayyidina Umar tiap malam keluar dari rumahnya berkeliling, yatafaqad ahwala ra’iyyah, beliau berkeliling dikegelapan malam. Jika ada yang dilihat oleh beliau bagus, maka beliau pun bergembira. Dan jika ada yang dilihat oleh beliau buruk, maka beliau pun langsung turun untuk memperbaikinya. (Ingat), jangan sekali-kali seorang pemimpin itu lalai dengan persoalan ini. Sebab, Allahu subhânahu wa ta’âlâ bakal tanya itu semua dan bakal meminta pertanggung jawaban kepadanya atas kepemimpinan yang ia pimpin.

Diriwayatkan bahwasanya suatu ketika Sayyidina Umar ibn Khatthab pernah berkata, “Kalau ada seekor keledai jatuh tergelincir di ujung Timur karena jalanan yang aku tidak perbaiki, maka aku pun khawatir/takut bahwa aku akan dituntut oleh Allah di hari kiamat.” Masya Allah Tabarakallah. Oleh karenanya, seseorang yang diberi “kekuasaan” oleh Allahu subhânahu wa ta’âlâ maka ia haruslah bertanggung jawab, jalani dengan sebaik-baiknya, sebenarnya-benarnya, dan berusaha semaksimal mungkin. Dan meminta ampunan lah kepada Allahu ta’âlâ atas segala kekurangan dan dosa-dosanya.

Diceritakan ada seorang raja/pemimpin yang berdiri dengan sombongnya sambil berkata, “Saya sudah buat ini, saya sudah bangun ini, …” Kemudian, berdirlah seorang di bawahnya seraya berkata, “Yang anda buat baru beberapa, kehitung dengan jari. Tapi, dosanya anda jauh lebih banyak, yang tidak anda buat ini lebih banyak. Itu di mana-mana ada kemiskinan, kenapa anda diam saja?” Na’udzu billah, pemimpin yang seperti ini merasa bangga dengan yang sedikit, tapi suatu yang banyak masih belum ia selesaikan. Dan, ini semua akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allahu ta’âlâ. Mudah-mudahan kita semua dijaga dan dilindungi oleh Allahu subhânahu wa ta’âlâ dari bala’ yang semacam ini. Âmîn. []

Comments

comments

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top