Fawaid

YA SYAIKH, TEMAN SAYA BERGELIMANG DOSA TAPI SHALATNYA JALAN?

YA SYAIKH, TEMAN SAYA BERGELIMANG DOSA TAPI SHALATNYA JALAN?
Sumber: al-Ustadz Abu Bakar Fahmi Assegaf
Editing: Muhsin Basyaiban

PENERBITLAYAR.COM, YOGYAKARTA — Diceritakan suatu saat ada seorang yang mengadukan (menyampaikan) kepada orang yang shaleh. Dia berkata, “Wahai Syaikh, saya melihat temanku ini hidupnya bergelimang dengan dosa. Tetapi, ia shalatnya juga jalan, puasanya jalan, umrah berkali-kali, bahkan hajinya saja kalau tidak salah sudah tiga kali. Bagaimana hal ini ya Syaikh?” (Orang ini bertanya kepada Syaikh tersebut saat di bulan Sya’ban). Kemudian Syaikh itu pun berkata, “Coba kau lihat nanti saat bulan Ramadhan ia bagaimana?”

Maka saat memasuki bulan Ramadhan orang yang bergemilang dengan dosa tersebut ikut puasa layaknya orang yang berpuasa. Lalu seorang yang bertanya perihal temannya itu mendatangi kembali Syaikh tersebut. Dia berkata, “Ya Syaikh, ia berpuasa sama seperti saya?” Kemudian Syaikh itu pun menimpali, “Tidak, maksudku, coba kau ikuti puasanya ia dari hari ke hari. Cobalah engkau sekali waktu bersama dia.”

Akhirnya, seorang yang penasaran dengan temannya itu mengikuti gerak-gerik temannya seperti yang diperintahkan oleh Syaikhnya tersebut. Ketika temannya pergi ke pusat perbelanjaan atau Mall, ia pun “diam-diam” mengikutinya, tanpa sepengetahuan temannya itu. Maka ketika temannya itu berada di Mall, di mana di situ terdapat pemandangan yang senonoh; perempuan-perempuan yang berpakaian tak pantas. Sehingga menjadikan temannya itu mengeluarkan perkataan-perkataan yang senonoh pula, yang ia omongkan hanya seputar aurat, dan perkataan kotor yang tak pantas lain sebagainya.

Setelah mengetahui perihal temannya tersebut, dia kembali menemui Syaikhnya. Kemudian Syaiknya pun berkata, “Apa yang kau lihat?” Dia pun menjawab, “Ketika aku pergi bersamanya ke suatu tempat perbelanjaan (Mall), dari awal masuk hingga ke luar dari tempat itu, yang ia bicarakan isinya hanya tentang aurat, isinya “merasani”, isinya tentang menceritakan keadaan seorang wanita, dan hal-hal lain yang tidak pantas untuk diucapkan.”

Walhasil, seorang yang tadinya penasaran terhadap temannya itu akhirnya ia pun mendapatkan jawaban. Dari kisah di atas, satu hal faedah yang bisa kita petik adalah seorang orang yang bergelimang dengan maksiat, bergelimang dengan dosa, maka yang dibahasnya pun tentang dosa atau maksiat. Dan Allah tidak menerima amalnya, INNALLÂHA THAYYIBUN, LÂ  YAQBALU  ILLA THAYYIBÂ (Allah itu baik, tidak menerima sesuatu kecuali yang baik). Oleh karenanya, kita mesti berhati-hati dalam segala hal yang kita perbuat. Semoga kita dijauhi dari perkara yang tidak diridhai oleh Allah, dijaga pula mata, telinga, tangan, tubuh, dan langkah kita ini dari hal-hal yang buruk dan kotor, Quluu Jamii’an, “Aamiin.” []

Comments

comments

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top