Fawaid

MASYA ALLAH, TERNYATA PUASA DI BULAN MUHARRAM?

MASYA ALLAH, TERNYATA PUASA DI BULAN MUHARRAM?
Sumber: Eko Prayitno, Lc [1]
Editing: Muhsin Basyaiban

PENERBITLAYAR.COM, YOGYAKARTA – Bulan Muharram merupakan awal bulan dalam kalender Hijriyah, ia adalah salah satu bulan mulia, bulan penuh berkah, seperti yang difirmankan oleh Allahu subhânahu wa ta’âlâ dalam ayat berikut:

.إنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّيْنُ القَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيْهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu.” (QS. at-Taubah [9]: 36)

Sahabat Abu Bakar radhiyallâhu ‘anhu mengatakan arti lafadz أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ dalam surat at-Taubah ayat 36 di atas bahwa, ”Dalam setahun ada 12 bulan, empat di antara bulan tersebut terdapat empat bulan haram, tiga di antaranya berurutan (Dzulqa’dah, Dzulhijah, Muharram) dan yang satunya terpisah, yaitu: rajab.[2] Sedangkan, dinamakan “Muharram” sendiri karena di bulan tersebut diharamkan melakukan pertumpahan darah (perang) sebagaimana orang-orang Arab menamakan sesuatu karena melihat fenomena yang terus-menerus terjadi sepanjang tahun.[3]

Ibnu Abbas dan Abu Qatadah radhiyallhu ‘anhumâ mengatakan, ”Tindakan zalim semuanya diharamkan, namun pada bulan yang empat (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, Rajab) tingkat pengharamannya lebih dahsyat dan lebih besar.[4]

Ada beberapa amalan yang dianjurkan dilakukan pada bulan Muharram, di antaranya adalah puasa. Imam Abdul Hamid bin Muhammad Ali al-Qudsi dalam kitabnya “Kanzun-Najâh was-Surûr” mengatakan, “Sesungguhnya bulan Muharram merupakan bulan mulia, keutamaannya sangat besar, ia merupakan bulan istimewa untuk berpuasa setelah bulan Ramadhan disusul bulan Rajab, Dzulhijjah, Dzulqa’dah dan Sya’ban.”[5]

)ذكر الحافظ) ابن حجر رحمه الله تعالى: أنه روي عن حفصة رضي الله تعالى عنها عن النبي صلى الله تعالى عليه وسلم أنه قال: [من صام آخر يوم من ذي الحجة وأوّل يوم من) المحرّم جعله الله تعالى له كفارة خمسين سنة، وصوم يوم من المحرم بصوم ثلاثين يومًا[

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullâh menyebutkan bahwasanya diriwayatkan dari Hafsah radhiyallâhu ‘anhâ dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang berpuasa pada akhir bulan Dzulhijjah dan awal bulan Muharram maka Allah menjadikan kafarat (peleburan dosa) baginya selama 50 tahun, dan puasa satu hari di bulan Muharram seperti puasa 30 hari pada bulan selainnya”[6]   

(وقال الغزالي) رحمه الله تعالى في الإحياء عن النبي صلى الله تعالى عليه وسلم أنه قال: [من صام ثلاثة أيام من شهر حرام؛ الخميس والجمعة والسبت كتب الله تعالى له عبادة سبعمائة عام]. اهـ.

Imam Ghazali rahimahullâh dalam kitabnya “Ihya Ulumuddin” menyebutkan sebuah hadits dari Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang mengatakan, ”Siapa saja yang berpuasa iga hari pada bulan Muharram, yaitu hari Kamis, Jum’at dan Sabtu, maka Allah menuliskan baginya pahala ibadah selama 700 tahun.” (al-Hadits)

Para Ulama telah menyebutkan bahwa puasa dibulan Muharram sangat dianjrukan, ia bulan yang diistimewakan Allahu subhânahu wa ta’âlâ, hal ini bisa dilihat dari hadist yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu berkata dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أفضل الصّيام بعد رمضان شهرُ الله المحرم[7]

“Puasa yang paling afdhal setelah ramadhan ialah berpuasa di bulan Allah (Muharram). (HR. Muslim)

Penyandaran bulan Muharram pada kalimat شهرُ الله merupakan pengagungan pada bulan tersebut, artinya jika seseorang melakukan kebajikan di bulan tersebut maka ia akan mendapat keistimewaan di sisi Allah, karena kebajikan yang dilakukan di bulan yang diistimewakan Allah berkonsekuesi diistimewakan pula pengamalnya sedangkan amalan yang sangat dianjurkan pada bulan tersebut ialah berpuasa.[8]

Penutup

Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan yang dimuliakan. Cara memuliakannya adalah dengan tidak mengerjakan maksiat dan dosa besar di dalamnya. Di samping itu memperbanyak amal shaleh sebagai lawan dari maksiat, dan salah satu amal shaleh yang ditekankan adalah berpuasa. Dianjurkan memperbanyak puasa di dalamnya, tapi tidak berpuasa seluruh hari-harinya. Wallâhu a‘lam bis-shawâb.

Footnote

[1] Penulis merupakan tenaga pendidik di SETIAWS (Sekolah Tinggi Agama Islam) Semarang, serta Guru Bahasa Arab dan Fikih di Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah Hadirul Ulum, Pemalang.

[2] HR. Imam Bukhari (2958)

[3] Sebelum datangnya Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam bulan ini bukanlah dinamakan bulan al-Muharram, tetapi dinamakan bulan Shafar al-Awwal, sedangkan bulan Shafar dinamakan Shafar ats-Tsani. Setelah datangnya Islam kemudian bulan ini dinamakan al-Muharram, ad-Dibaj ‘ala Muslim, Jalaluddin as-Suyuthi.

[4] Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir rahimahullâh dalam Tafsir Surat at-Taubah ayat 36.

[5] Kanzun-Najâh was-Surûr, hlm. 26.

[6] Di luar bulan Ramadhan.

[7] HR. Imam Muslim, No. 1982.

[8] Imam Izzuddin ibn Abdis-Salam, Qawaidul Ahkam Fi Mashalilihil Anam, Juz 1, hlm 38.

Comments

comments

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top