Taklim

HUKUMNYA ORANG NON-MUSLIM “MENGARTIKAN” AYAT AL-QURAN

HUKUMNYA ORANG NON-MUSLIM “MENGARTIKAN” AYAT AL-QURAN
Sumber: al-Ustadz Alwi ibn Ali al-Habsyi
Editing: Muhsin Basyaiban

PENERBITLAYAR.COM, YOGYAKARTA — Ulama-ulama Islam di dalam memahami ayat-ayat suci al-Quran itu dengan pemahaman ilmu yang sudah cukup. Bukan seperti kita, yang kalau memahami al-Quran itu hanya melalui “benak” kita sendiri, tapi merasa sudah cukup. Diri kita ini sangat berbeda dengan para ulama yang memahami ayat al-Quran melalui derajat keilmuan mereka yang memang sudah cukup untuk memahami al-Quran. Bahkan, di antara para ulama ada yang memahami satu ayat saja dari al-Quran hingga butuh waktu 1 minggu, ada yang 1 bulan, ada yang 1 tahun, dan ada juga yang sampai 30 tahun; tergantung derajat mereka di dalam memahami ayat-ayat al-Quran dan mereka itu memang betul-betul dalam meneliti al-Quran.

Artinya, di dalam memahami al-Quran itu tidak cukup dengan membaca terjemahannya saja; misalnya cetakan al-Quran DEPAG. Kalau hanya sekedar itu (memahami al-Quran dengan terjemahannya), hal ini bisa membahayakan, apalagi sampai menyimpulkan. Oleh karenanya, dalam hal menyimpulkan atau memahami al-Quran sejatinya itu hanya “kelasnya” para ulama, sedangkan “kelasnya” kita hanya membaca dan membaca terjemah kalau-kalau penasaran dengan artinya; ini ayatnya bagus kira-kira apa ya artinya. Itu boleh. Akan tetapi, kalau ingin dalam lagi atau lebih spesifik lagi, maka bacalah kitab Asbabun Nuzulnya (Hal-ihwal yang melatari turunnya ayat al-Quran), dan lain sebagainya. Intinya, dalam memahami ayat al-Quran tidak boleh dengan masing-masing, harus tanya atau merujuk kepada para ulama. Bagaimana dengan hanya membaca “kitab” saja misalnya? Tidak cukup, karena hal itu juga bahaya. Oleh karenanya, tetap harus tanya langsung kepada ulama.

Mengapa demikian? Karena kalau hanya membaca kitab dan membaca kitab saja tanpa merujuk/bertanya kepada ulama, jatuhnya nanti akan menyesatkan umat. Bukankah fenomena ini di mana-mana sudah terjadi? Seperti banyak Artis tiba-tiba saja bisa “membaca” ayat al-Quran; bayangkan di mana mereka belajar al-Qurannya, dari mana pula ia belajar tafsir al-Qurannya. Ada lagi orang non-Muslim bisa “mengartikan” ayat al-Quran, bisa menafsirkan ayat al-Quran. Pertanyaannya, “Dari mana ia belajar Qurannya?” Jawabannya, “TIDAK MUNGKIN ITU TERJADI.” Tidak mungkin seorang non-Muslim bisa memahami maksud daripada ayat-ayat al-Quran. Sebab, Allah tidak mengilhamkan orang di luar Islam bisa memahami al-Quran. ITU TIDAK AKAN MUNGKIN. Kuncinya saja tidak ada, yaitu ASYHADU AL-LA ILAHA ILLALLAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR-RASULULLAH.

Sehingga orang di luar Islam tidak boleh menyentuh al-Quran. LA YAMASSUHU ILLAL-MUTHAHHARUN. Makna ini tidak hanya secara zahirnya saja –tidak boleh menyentuh al-Quran kecuali orang yang mempunyai wudhu. Tidak hanya itu. Tetapi juga, TIDAK BOLEH MENYENTUH MAKNA AL-QURAN. Karena Allah tidak mengizinkan seorang memahami al-Quran kecuali ILLAL-MUSLIMUN. Itulah yang dikehendaki oleh Allah, dan orang Islam sendiri pun tidak semuanya bisa memahami ayat al-Quran, kecuali para ulamanya. Kita ini Islam/Muslim, tetapi tidak semua seperti kita bisa memahami ayat al-Quran. Jadi, sangat ironis jika ada seorang non-Muslim bisa “mengartikan” surat ini, ayat ini. Tidak bisa, sekali lagi tidak bisa. Dan itu hanya lah untuk kepentingan pribadinya. Tidak boleh semua itu terjadi. Wallahu A’lam.

*Tulisan ini disarikan oleh Sdr. Muhsin Basyaiban dari pengajian “Kitab Ihya Ulumuddin Bab Fadhilah Membaca al-Quran”, diampu oleh Ustadzi al-Habib Alwi ibn Ali al-Habsyi yang diadakan setiap hari Selasa pukul 06.00 – 07.00 WIB bertempat di Masjid Jami’ Assegaf, Surakarta.

Comments

comments

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top