Fawaid

​KISAH PENUH HIKMAH: SAPU TANGAN MILIK RASULULLAH

​KISAH PENUH HIKMAH: SAPU TANGAN MILIK RASULULLAH
Sumber: Sayyidil-Habib Umar ibn Hafidz
Editing: Muhsin Basyaiban

Kisah ini saya publikasikan dalam rangka menyambut kedatangan rihlah dakwah Sayyidil-Habib Umar ibn Hafidz -hafidzahullahu ta’ala- ke Indonesia pada tahun 2016 ini. Sejatinya kisah ini pernah disampaikan oleh Sayyidil-Habib Umar saat rihlah dakwahnya (kalau tidak salah sewaktu di Mesir). Di mana saat itu dalam suatu majelis yang dipenuhi para mahasiswa maupun dosen-dosen al-Azhar dan juga para mustami’in lainnya, beliau menyampaikan sebuah kisah yang penuh hikmah yang pula bakal menambah decak kekaguman/kecintaan kita kepada Rasulillah, Muhammad ibn Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh karenanya, tidak ada yang salah apabila kisah ini saya publikasikan kembali ke ikhwan sekalian. Mudah-mudahan dengan diangkatnya kisah ini semakin menambah kecintaan kita kepada al-Musthafa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan pula, dengan hadirnya Sayyidil Habib Umar ibn Hafidz di tahun ini, membuat kita bersemangat untuk duduk satu majelis dengan beliau. Mendengar sabda Rasulullah, mendengar kalam Salaf, dan tentu mendengar asma-asma Allahu ta’ala diagungkan. Ayyuhal ikhwan, simaklah kisah berikut ini:

Sayyidil-Habib Umar berkata, “Suatu hari masuk Sayyidina Anas ibn Malik ra. (ke rumahnya) sambil membawa sapu tangan yang telah diusapkan ke wajahnya. Dibawa lah sapu tangan tersebut, lalu dilemparkan kepada budak perempuannya seraya berkata, “Bersihkan ini!”, dan di samping budak tersebut ada api yang menyala. Kemudian, oleh budak tersebut dilemparkan sapu tangan itu ke tengah-tengah api, dan sapu tangan tersebut tertutup dengan kain. Terheran-heran dengan hal itu, apa yang dilakukan oleh budak tersebut dengan membakar sapu tangan milik tuannya.

Setelah itu, tiba-tiba api membakar semua kotoran, lalu dengan menggunakan kayu dikeluarkan lah sapu tangan tersebut, dan ternyata sudah bersih. Dengan rasa yang masih terheran-heran budak tersebut, ia dinginkan sapu tangan itu dan kemudian ia kembalikan kepada tuannya (Sayyidina Anas ibn Malik).  Lalu Sayyidina Anas bertanya kepada budak tersebut, “Apakah engkau masih merasa terheran-heran?” Budak itu menjawab, “Iya, bagaimana aku tidak terheran-heran, api sudah memakan semua kain yang ada, tetapi sapu tangan tersebut tidak dilahab oleh api.”

Maka Sayyidina Anas ibn Malik menjawab, “Sesungguhnya sapu tangan ini dahulu milik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (ALLAHUMMA SHALLI ‘ALAIH, MASYA ALLAH). Beliau gunakan untuk mengusap wajahnya.” (ALLAH, ALLAH). Adapun api tidak akan mengenai sesuatu yang sudah pernah menyentuh wajah para Nabi. Dan sapu tangan tersebut pernah menyentuh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Lanjut kata Sayyidil-Habib Umar, “Api tersebut menjaga adabnya kepada Nabi, sebab Nabi selalu beradab dengan menjaga perintah Allahu subhanahu wa ta’ala.” Shalluu Alal-Habiib ….

*Ditulis saat berada di KA. Bogowonto, perjalanan dari DI. Yogyakarta menuju DKI. Jakarta, dalam rangka hadir haul Syaikh Abu Bakar ibn Salim wa bin-niyyah duduk majalis bersama Sayyidil-Habib Umar ibn Hafidz.

Comments

comments

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Terpopuler

To Top