Fawaid

KISAH GUBERNUR YANG MEMVONIS MATI TUKANG KAYU

KISAH GUBERNUR YANG MEMVONIS MATI TUKANG KAYU
Sumber: Ustadzi al-Habib Alwi al-Habsyi
Editing: Mohsen Basheban

PENERBITLAYAR.COM, YOGYAKARTA — Dahulu dikisahkan ada seorang Gubernur bernama Hajjaj ibn Yusuf ast-Tsaqafi, ia pernah menjahtuhkan (memvonis) satu hukuman terhadap seorang tukang kayu; dengan satu kasalahan yang tidak pernah diperbuat oleh tukang kayu tersebut. Dia (si tukang kayu) tidak mengerti mengapa seorang Hajjaj ibn Yusuf (Gubernur saat itu) menjatuhkan hukuman mati atas dirinya. Kemudian, setelah berita tentang keputusan akan dihukumnya mati seorang tukang kayu ini belum secara resmi diumumkan, maka berita itu pun bocor. Berita tersebut lalu sampai ke telinga si tukang kayu itu. Hingga pada akhirnya membuat si tukang kayu tidak bisa tidur; tidak bisa memejamkan matanya; tidak bisa ia tidur dengan nikmat; tidak bisa ia hidup di rumah tangganya dengan bahagia; shalat pun ia dalam keadaan menangis, makan pun tidak enak, hidup tidak nyaman.

Melihat kejadian tersebut, akhirnya sang istri tukang kayu itu pun menasehati. “Wahai suamiku, tidurlah engkau sebagaimana malam-malam sebelumnya. Istirahatlah, serahkan semuanya kepada Allahu subhânahu wa ta’âlâ; Tuhan kita, Allahu subhânahu wa ta’âlâ hanya satu; Allahu ta’âlâ hanya Esa; QULHUWALLÂHU AHAD, Allah itu hanya satu, sementara pintu keluar yang sudah disediakan oleh Allahu subhânahu wa ta’âlâ untuk hamba-hambanya yang baik; hamba-hambanya yang shaleh, Allah telah menyediakan 1000 pintu untuk jalan keluar daripada satu masalah. Allah Maha Rahmat, Allah Maha Sayang kepada hamba-Nya, LÂ YAKSTURU HAMMUK MÂ QUDDIR YAKÛN (Jangan pernah apa yang ada di dalam hati kita, kita pikirkan; apa yang ada di hadapan kita, kita pikirkan, jangan! (Karena,) semua apa yang ditakdirkan oleh Allahu ta’âlâ itu pasti akan terjadi). Sehingga dikatakan, “Semua yang sudah Allah tentukan untuk kamu pasti akan jatuh kepangkuan-Ku. Dan yang Allah tidak takdirkan untuk kamu tidak akan jatuh ke tanganmu.”

Maka ayyuhal-ikhwan, rupa-rupanya kalimat sang istri ini menghujam ke dalam hati suaminya. Dia pun kemudian memejamkan matanya tidur dengan pulas. Pada saat sebelum azan Shubuh, tiba-tiba ketukan pintu terdengar. Maka dikatakan, “Siapa yang ada dipintu?” Lalu orang yang mengetuk pintu itu pun mengatakan, “Kami adalah perajurit kerajaan, dan kami datang untuk menemuimu wahai seorang tukang kayu!” Maka dengan bibir yang gemetar, mata yang berlinang air mata, wajah yang dalam keadaan pucat pasi. Maka kemudian, si tukang kayu itu membukakan pintu tadi dan sambil melihat ke arah istrinya; dengan nada bahwa istriku selamat tinggal, sebentar lagi aku akan dipancung oleh yang namanya Hajjaj ibn Yusuf ast-Tsaqafi, aku akan dihukum mati. Lalu dibukakan lah pintu itu, diserahkan kedua tangannya, seraya berkata, “Ikatklah kedua tanganku, aku siap untuk dihukum mati oleh Hajjaj ibn Yusuf ats-Tsaqafi walau aku tidak tau apa kesalahanku?”

Maka perajurit-perajurit itu mengatakan, “Turunkan tanganmu, kami meminta maaf. Hajjaj ibn Yusuf, raja (gubernur) kami telah meninggal dunia. Kami meminta agar engkau yang membuatkan peti mati untuknya.” Kemudian, si tukang kayu itu menolehkan wajahnya ke arah istrinya dengan wajah yang bahagia, wajah yang tersenyum, lalu dia berkata, “Aku telah berburuk sangka kepadamu, wahai istriku. Bahwa engkau menyuruh aku untuk tidur. Maka nyatanya, saat ini aku didatangi oleh perajurit kerajaan aku akan dibunuh. Ternyata Allah punya kehendak lain, Allah punya rencana lain. ANTA TURID  WA  ANA URID WALLÂHU YAF’ALU MÂ YURID (Kamu punya keinginan, saya pun juga punya keinginan. Tetapi keinginan Allahu ta’âlâ itu Yang Maha Kuat. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat. []

Comments

comments

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top