Fawaid

KISAH IBRAHIM IBN ADHAM DAN 2 BUTIR KURMA

KISAH IBRAHIM IBN ADHAM DAN 2 BUTIR KURMA
Sumber: Ust. Muhammad Shofi Lc.
Editing: Mohsen Basheban

PENERBITLAYAR.COM, YOGYAKARTA — Diceritakan ada seorang laki-laki yang bernama Ibrahim ibn Adham rahimahullah bahwasannya suatu hari ia berada di Mekkah, bermaksud akan pergi ke Baitul Muqaddas atau Baitul Maqdis. Ia membeli kurma dari seorang laki-laki sebagai bekal dalam perjalanannya. Ketika ia membayar dan si penjual telah memberikan kurmanya, tiba-tiba ada 2 butir kurma yang jatuh ke tanah di antara kedua kakinya. Ia menduga kedua butir kurma itu termasuk kurma yang dibelinya, lalu diambil dan dimakan. Setelah itu, ia keluar dari Mekkah menuju Baitul Maqdis.

qubah-as-sakhra

Qubbah as-Shakhra’ atau The Dome of the Rock

Sesampainya di Baitul Maqdis, ia masuk ke dalam Qubbah as-Shakhra’ (sebuah ruangan yang di atasnya diberi kubah, dan di dalamnya terdapat batu besar yang digunakan Malaikat Jibril ‘alaihis-salâm dan Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam naik ke langit memenuhi panggilan Mi’raj).

Petugas yang menjaga Qubbah as-Shakhra’ memperbolehkan orang-orang untuk beribadah di dalamnya pada siang hari dan mengosongkannya pada malam hari mulai dari sehabis shalat Ashar, karena malam harinya digunakan para malaikat.

Sehabis shalat Ashar, orang-orang yang berada di dalamnya diperintahkan oleh petugas agar keluar, akan tetapi Ibrahim bin Adham masih tetap di dalam, sebab petugas tidak mengetahuinya.

Ketika para Malaikat masuk ke dalam Qubbah as-Shakhra’ mereka melihat Ibrahim bin Adham seraya berkata, “Di sini masih ada manusia!”. Salah satu dari mereka berkata, “Dia adalah Ibrahim ibn Adham, orang dari kota Khurasan yang terkenal ahli ibadah”. Malaikat yang lain menjawab, “Ia adalah orang yang amalnya diterima dan naik ke langit setiap hari”. Malaikat yang lain berkata, “Iya, benar. Akan tetapi, semenjak setahun ini amal ibadahnya masih ditunda, tidak dapat naik ke langit dan doa-doanya tidak dikabulkan oleh Allah disebabkan makan 2 butir kurma”.

Semalam suntuk para Malaikat beribadah di dalam Qubbah as-Shakhra’ hingga terbit Fajar. Sehabis Shubuh petugas membuka pintu Qubbah as-Shakhra’ , Ibrahim ibn Adham keluar dan langsung pergi menuju Mekkah untuk minta halal kepada si penjual kurma. Sesampainya di Mekkah, ia mendatangi penjual kurma. Di tempat itu ia tidak melihat orang tua penjual kurma yang pernah melayaninya, akan tetapi ia hanya bertemu dengan pemuda yang sedang menjual kurma.

Ibrahim ibn Adham bertanya kepadanya, “Pada tahun kemarin ada orang tua yang menjual kurma di sini, sekarang ia berada di mana?”

Pemuda itu menjawab, “Beliau adalah ayahku, dan sudah meninggal dunia”.

Ibrahim menceritakan segala sesuatu yang terjadi pada tahun kemarin.

Kemudian pemuda itu berkata, “Oleh karena ayahku sudah meninggal, maka 2 butir kurma itu menjadi warisan. Bagianku aku halalkan untukmu, akan tetapi masih ada ahli waris yang lain, yaitu ibu dan saudara perempuanku”.

Ibrahim ibn Adham bertanya, “Di mana ibu dan saudara perempuanmu sekarang?”

Pemuda itu menjawab, “Mereka berada di rumah”.

Setelah mendengar jawaban pemuda itu, Ibrahim ibn Adham langsung pergi mendatangi rumahnya. Sesampainya di depan rumah, ia mengetuk pintu. Kemudian ada wanita tua keluar berjalan dengan memegang tongkat. Ibrahim ibn Adham menyampaikan salam, dan wanita itu menjawabnya seraya bertanya, “Apa keperluanmu datang kemari?”. Ibrahim ibn Adham menceritakan kisahnya. Wanita tua itu menghalalkan apa yang menjadi bagiannya. Kemudian Ibrahim ibn Adham melakukan hal seperti itu pada saudara perempuan anak muda tersebut.

Setelah selesai meminta halal kepada semua yang bersangkutan, Ibrahim ibn Adham berangkat menuju Baitul Maqdis dan masuk ke dalam Qubbah as-Shakhra’. Setelah berada di dalam Qubah, masuklah para Malaikat, Malaikat yang satu berkata kepada yang lain, “Inilah Ibrahim ibn Adham yang semenjak setahun satu tahun ini amal ibadahnya ditangguhkan dan doa-doanya tidak dikabulkan. Setelah ia melakukan sesuatu yang berkaitan dengan 2 kurma, maka semua amal ibadahnya diterima dan doa-doanya dikabulkan, dan Allah subhânahu wa ta’âlâ mengembalikan derajat kedudukannya seperti semula”.

Setelah mendengar perkataan malaikat itu, Ibrahim ibn Adham menangis, karena sangat gembira, serta melakukan puasa dan tidak pernah berbuka kecuali tujuh hari sekali dengan makanan yang halal.

*Dinukil dari buku Jalan menuju Allah karya KH. M. Djamaluddin Ahmad (Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Damai Al-Muhibbin Tambakberas Jombang). Beliau menukil kisah ini dari kitab an-Nawadir, halaman: 50-51.

FAEDAH

Dari kisah di atas dapat diambil sebuah pelajaran bahwa jika 2 butir kurma saja yang tidak halal bisa menyebabkan ibadahnya tidak diterima dan doa-doanya tidak dikabulkan oleh Allah, lalu bagaimana jika bukan hanya 2 butir kurma? Lalu bagaimana jika bukan hanya sesuatu yang sedikit yang masuk ke dalam perut kita, tapi sesuatu yang banyak dari sesuatu yang tidak halal. Tidakkah kita khawatir amal-amal kita tidak diterima oleh Allah dan doa-doa kita tidak dikabulkan oleh Allah? Kepada siapa lagi kita harus beramal dan kepada siapa lagi kita harus berdoa? Semoga kita selalu diberi kekuatan oleh Allah agar bisa mencari makanan yang halal dan memakan sesuatu yang halal sehingga kita menjadi orang-orang yang selamat, baik di dunia maupun di akhirat. Âmîn … Âmîn … Yâ Rabbal ‘Âlamîn. Semoga ada manfaatnya. []

Comments

comments

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top