Fawaid

MENGINTIP TABIR PEMBERIAN REZEKI ALLAH

MENGINTIP TABIR PEMBERIAN REZEKI ALLAH
Sumber: Mohsen Basheban

PENERBITLAYAR.COM, YOGYAKARTA – Ada kisah menarik yang ingin saya sampaikan kepada anda sekalian. Kisahnya memang sederhana, tetapi makna yang tersirat dari kisah ini sungguh luar biasa. Baik saya akan ceritakan. Tempo hari saya bertemu dengan teman baru saya yang berkewarganeraan asing atau WNA. Niat saya silaturahim, dan dia menjamu saya dengan baik, mungkin dia mengamalkan sabda Nabi ‘alayhish-shalatu was-salam, “FAL YUKRIM DHAIFAH”. Jamuan yang diberikan oleh teman saya ini, hingga membuat saya senang berkunjung ke rumahnya. Singkat cerita, kami banyak membicarakan suatu hal. Hingga pada suatu ketika, dia bertanya kepada saya, “Di Jogja di mana terdapat toko-toko kitab?” Karena saya sudah lama juga tinggal di Joga, walhasil saya beritahu took kitab MENARA KUDUS yang terletak dekat sepanjang jalan menuju ALUN-ALUN UTARA atau MALIOBORO. Saya jelaskan kepada dia dengan detail alamat toko tersebut.

Kemudian, kami melanjutkan obrolan kami dengan sesuatu hal lain. Hingga ada satu sesi obrolan, ketika saya bertanya, “Antum di UAD mengajar apa?” (Saya sedikit menjelaskan; bahwa memang teman saya ini diangkat sebagai dosen WNA di UAD, tetapi tidak tetap, ya mungkin semacam dosen panggilan saja). Lalu dia menjelaskan bahwa dia mengajar Bahasa Inggirs di kampus tersebut. Nah, pada tema pembicaraan ini; dia sempat curhat ke saya bahwa sekarang di kampusnya tersebut ada peraturan baru yang membatasi dosen WNA untuk mengajar di sana, karena setiap dosen WNA yang mengajar di Indoesia, pihak kampus harus memberikan sejumlah uang ke dinas pendidikan sebab mengangkat pengajar dari luar negeri (kurang lebih seperti itu yang dia ceritakan kepada saya).

Kasus ini membuat dia merasa sekarang jam mengajar dikampusnya itu dikurangi, karena pihak kampus agaknya merasa keberatan kalau setiap bulan harus menyetor sejumlah uang sebab adanya tenaga kerja asing yang mengajar dikampus tersebut. Cuhat atau keluhan teman saya ini agaknya membuat dia menjadi tidak nyaman; artinya dari segi penghasilan boleh jadi menjadi berkurang. Tapi kalau saya melihat ekspresi dia saat itu, dia tetap tawakkal atau pasrah saya, dan tetap optimis dalam mengajar dikampusnya tersebut.

Itu cerita prolog sebelum saya memasuki cerita yang baru yang bakal juga saya ceritakan ke anda semua. Hari ini, saya bertemu lagi dengan teman saya yang WNA itu di satu majelis taklim asuhan al-Ustadz Habibi Alatthas (Pengasuh MT. At-Taqwa, Yogyakarta). Seusai majelis takliim tersebut selesai, saya menyapa dia dan balik menyapa saya. Saya tanya kepada dia, “Kaef kheir ya akhi? Bagaimana kabar, sehat?” Dia jawab, “Alhamdulillah, baik.” Kemudian, teman saya ini melanjutkan perkataannya, “Semalam saya sudah kunjungi toko MENARA KUDUS, Alhamdulillah bagus.”

Sampai di sini saya pikir sudah selesai omongannya. Tetapi dia melanjutkan lagi perkataannya, “Sewaktu saya ke sana (TB. Menara Kudus) saya bertemua dengan seorang dosen dari UIN Sunan Kalijaga, saya berbincang-bincang dengannya dan dosen itu menawarkan saya untuk mengajar dikampusnya.” Jawab saya ketika itu, “Masya Allah.” Lalu saya menimpali perkataan dia, “Apakah nantinya kamu akan pindah ke UIN?” Dan ini lah jawabannya dia sambil tersenyum saat itu, “Insya Allah, saya nanti akan di interview terebih dahulu, dan saya pikir UIN tempat yang nyaman, kampusnya besar, dan saya sangat senang bisa untuk mengajar di sana.” “Aamiin”, jawab saya ketika itu.

Atas kejadian ini semua, dalam benak hati saya hanya bisa mengatakan, “Masya Allah Tabarakallah.” Sedikit saya simpulkan, “Oo jadi begini, bentuk tabir pemberian rezeki dari Allah kepada hamba-hambanya.” Tak ada satu pun yang bisa menduga datangnya rezeki Allah itu lewat jalan atau pintu yang mana; seperti kejadian teman saya di atas. Siapa yang bisa menduga pertemuaan saya dengannya, lalu informasi yang saya berikan tentang sebuah toko buku, kemudian curhat dia soal pekerjaannya, dan kunjungannya ke toko buku itu, lalu bertemunya dengan seorang dosen dari satu kampus, yang pada akhirnya membawanya ke pintu baru dalam mencari rezeki atau pekerjaan yang baru baginya. Subhanallah! Obrol, sekarang ini saya kok menjadi merenung satu hal dalam diri saya, “Kira-kira nanti tabir pemberian jodoh bagi saya ini seperti apa ya?” Sekian. 🙂

Comments

comments

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top