Taklim

AL-BUTHI: JADILAH KAMU DI DUNIA INI SEBAGAI ORANG ASING

AL-BUTHI: JADILAH KAMU DI DUNIA INI SEBAGAI ORANG ASING
Sumber: asy-Syahid Dr. Said Ramadhan al-Buthi
Editing: Mohsen Basheban

dr-buthi

Asy-Syahid Dr. Said Ramadhan al-Buthi, Damaskus – Syiria.

PENERBITLAYAR.COM, YOGYAKARTA — Asy-Syahid al-Alim al-Allamah asy-Syaikh Dr. Said Ramadhan al-Buthi —rahimahullahu ta’ala— semasa hidupnya (saat dalam pengajian) beliau menyampaikan sebuah pesan atau nasehat yang begitu indah, dan juga yang patut kita renungi bersama tetang sejatinya posisi atau status kita di dunia fana ini. Oleh karenanya, Ayyuhal-ikhwan mari lah kita simak nasehat beliau ini dan semoga kita memperoleh manfaat serta keberkahan melalui beliau. Aamiin.

Di dalam suatu pengajiannya Dr. Ramadhan Said al-Buthy pernah berkata, “Jadilah kamu di dunia ini sebagai orang asing atau seorang musafir, jadilah seperti ini. Hari ini kamu berjalan di atas permukaan tanah, tetapi kamu nanti ada di dalamnya. Apa yang kamu mau? Kamu tidak punya apa-apa; tetapi ini juga tidak bermaksud kamu boleh melepaskan tanggung jawab di dunia. Akan tetapi, jadilah kamu sebagai tuan bagi dunia dan jangan sampai dunia yang menjadi tuan bagi kamu. Jadilah dunia sebagai kendaraan yang kamu naiki sampai kepada keridhaan Allahu subhanahu wa ta’ala.”

Lanjut perkataan beliau, “Sewaktu kamu hidup di dunia ini, kamu akan merasakan bahagia karena melaksanakan perintah Allah dan karena kamu berjalan di atas jalan yang Allah ridhai serta kamu sadar bahwa kamu adalah hamba-Nya. Semisal datang ajal menjemput, ketika ini kamu akan merasa lebih bahagia karena kamu tau telah menjadikan dunia ini sebagai ladang untuk akhiratmu. Dan ketika kamu meninggalkan dunia ini menuju kepada Allah, kamu akan meninggalkan bumi dalam keadaan kamu telah menanam tanam-tanaman  untukmu berteduh dan kamu telah berusaha payah untuknya, dan sekarang tibalah masa untuk kamu merasakan hasil tanaman itu.” Masya Allah.

Berikutnya Dr. Ramadhan al-Buthi melanjutkan nasehatnya ini dengan sebuah perumpamaan yang indah dan menarik, beliau mengatakan, “Aku telah memberikan perumpamaan di akhir pengajian kita semalam; yakni seorang yang menyewa rumah, dan perjanjian sewaaannya adalah selama 10 tahun. Dan dia memiliki lagi sebuah rumah yang using berdekatan dengan rumah yang disewa, kurang lebih jaraknya hanya beberapa kilometer. Rumah itu perlu diperbaiki dan dihias. Orang ini adalah orang pandai, setiap hari dia pergi ke rumah yang bermasalah itu, dan dia memperbaiki serta menghiasnya. Maka rumah itu pun berkata kepadanya, “Selamat darang, aku sangat merindukan kedatanganmu.”

“Sementara, ada seorang lagi —kita memohon semoga Allahu ta’ala tidak termasuk memasukkan kita dalam golongan ini. Dia menyewa sebuah rumah, lalu dia memasukinya dan terpesona dengan kemewahan dan perhiasan di dalam rumah itu. Sedangkan, dia juga memiliki lagi sebuah rumah usang yang berdekatan dengannya. Dia melupakan rumah yang sepatutnya dia perbaiki dan “mabuk” dengan rumah yang baru disewanya. Dia duduk dirumah sewa itu seakan-akan dia adalah seorang raja. Setelah berlalunya 10 tahun, datang lah pemilik rumah sewanya itu dan menyuruhnya keluar. Dia pun keluar sambil memandang rumah lamanya dan seakan-akan rumah itu berkata, “Maaf, aku belum bersedia menerima kedatanganmu.” Allah, Allah, Allah.

Kemudian, di akhir nasehatnya ini Dr. Ramadhan al-Buthi berkata, “Wahai saudaraku, jadilah seperti orang yang pertama yang mendapatkan manfaat dari rumah yang disewanya. Akan tetapi, dia meluangkan sedikit waktu pada setiap hari untuk memperbaiki rumah lamanya yang akan dia singgahi di masa akan datang. Bukankah Allahu ta’ala telah berfirman: “Dan Dialah yang menciptakan kamu dari seorang diri, maka (bagimu) ada tempat tetap dan tempat simpanan.” (QS. al-An’am [6]: 98). Wal-Hamdulillahi Rabbil-‘Alamiin, semoga bermanfaat. []

Comments

comments

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top