Taklim

CARA TAU APAKAH KITA AHLI DUNIA ATAU AKHIRAT?

CARA TAU APAKAH KITA AHLI DUNIA ATAU AKHIRAT?
Sumber: Syaikh Mutawalli asy-Sya’rawi
Editing: Mohsen Basheban

Dalam kesempatan pengajiannya, Syaikh Sya’rawi pernah menyampaikan ulasan yang menarik tentang bagaimana mengukur diri kita apakah kita ini ahli dunia atau ahli akhirat? Berikuit apa yang disampaikan oleh Syaikh Sya’rawi tersebut, “Suatu ketika Sayyidina Ali ibn Abi Thalib karramallahu wajhahu ditanya, “Kaifa ya’riful-insan annahu min ahli dunya am-min ahlil-akhirah? Bagaimana seorang itu ingin mengetahui bahwa dia adalah ahli dunia atau ahli akhirah? (Dia ingin mengetahui ukuran bagi hal ini). Maka, Sayyidina Ali pun menjawab, “Cara ingin mengetahuinya adalah dengan melihat kepada dirimu sendiri.”

Kemudian Syaikh Sya’rawi menambahkan, “Adakah jika kita ingin menilai seseorang maka kita perlu lihat kepada orang lain? Jawabnnya tentu tidak. Cara melihat seseorang adalah dengan melihat kembali kepada dirinya sendiri. Lantas, bagaimana?” Syaikh Sya’rawi melanjutkan, “Kata Sayyidina Ali: Jika datang kepadamu seseorang yang ingin memberi sesuatu kepadamu dan seseorang lagi datang untuk mengambil sesuatu darimu?” (Jadi, ada seorang yang datang untuk memberi hadiah kepadamu, dan seorang lagi datang untuk meminta sesuatu darimu, maka ada dua golongan).

Perhatikan jawaban Syaikh Sya’rawi berikut ini, “Jika kamu lebih gembira dengan orang yang memberi daripada orang yang meminta, maka ketahuilah kamu tergolong dalam kalangan ahli dunia. Dan manakala jika kamu lebih gembira dengan orang yang meminta daripada orang yang memberi sesuatu kepadamu, maka kamu tergolong dalam kalangan ahli akhirat. Karena manusia itu akan gembira kepada seseorang yang memberi sesuatu yang dia sukai (bekal pahala akhirat). Karenanya, jika kamu memang mau menjadi ahli akhirat, maka kamu perlu bergembira dengan orang yang meminta sesutau darimu (karena dia menjadi bekal pahala akhiratmu).  Namun, jika kamu ingin menjadi ahli dunia maka kamu akan gembira dengan orang yang memberi kepadamu, karena dia memberi sesuatu yang kamu suka.” Wallahu a’lam, semoga bermanfaat.

Comments

comments

To Top