Fawaid

HANYA KARENA NIAT DIGANJAR PAHALA BESAR

HANYA KARENA NIAT DIGANJAR PAHALA BESAR
Sumber: KITAB NIAT LIL-HABIB SA’AD
Editing: Mohsen Basheban

PENERBITLAYAR.COM, YOGYAKARTA — Sebelum memulai berkisah, saya akan mengutip perkataan dari seorang Sufi Besar dan Zuhud; di mana ungkapannya ini begitu mendalam jikalau kita ini mau memahaminya dengan saksama. Beliau adalah Ibnu Mubarak rahimahullahu ta’ala, bahwa di salah satu ungkapannya beliau pernah mengatakan, “Terkadang amal kecil menjadi besar pahalanya karena niat yang baik, dan terkadang amal besar menjadi kecil pahalanya karena niat yang kurang layak.” (Lihat buku berjudul, “KITAB NIAT”, karya al-Habib Sa’ad, Penerbit Layar: DI. Yogyakarta, 2017, hlm. ix). Masya Allah, karenanya tak heran bagi kita; bukankah yang kita inginkan adalah amal yang kecil, namun pahalanya besar? Tentu kita tidak ingin punya amal yang besar, namun berpahala kecil? Karenanya, ini menunjukkan betapa pentingnya soal niat.

Untuk menambah ghirah tulisan ini saya akan menambahkan sebuah kisah menarik yang disampaikan oleh pengarang “KITAB NIAT”, yaitu al-Habib Sa’ad Alaydrus (Ulama kelahiran bumi 1000 wali; Tarim, Hadhramaut) di dalam bukunya tersebut. Beliau mengatakan, “Anna rajulan min Bani Isaril/ Bahwasanya ada seorang laki-laki dari Bani Israil; yang melintasi sebuah bukit pasir pada musim paceklik, ia bergumam dalam hatinya, “Jika pasir-pasir ini berupa makanan dan ia milikku, maka akan aku bagikan kepada masyarakat yang membutuhkannya.” Maka, di saat itulah Allah memberikan wahyu kepada Nabi kaum Bani Israil, katakanlah pada orang itu, “Allah telah menerima sedekahmu, dan Allah senang dengan niat baikmu.” Subhanallah. Betapa mulianya; hanya karena perkataan dalam hati (baca: niat), maka seorang dari kaum Bani Israil itu mendapat ganjaran besar dari Allahu ta’ala.

Itu kaumnya Bani Israil –yang notabene umat terdahulu. Lantas, bagaimana dengan umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam? Ya, sudah semestinya kita bisa lebih mengungguli mereka, karena kedudukan Nabi kita Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam adalah makhluk termulia di sisi Allah, maka Allah pun menjadikan umat beliau sebagai umat yang paling mulia di antara umat-umat lainnya. Hal ini, sebagaimana dalam firmannya, “Kalian (wahai umat Islam) adalah sebaik-baiknya umat yang muncul di antara seluruh manusia yang pernah ada.” (QS Ali Imran [3]: 10). Walhasil, tidak ada alasan bagi kita untuk meninggalkan niat-niat yang baik dalam kegiatan kita; baik amal yang sunnah maupun amal amal yang mubah sekalipun.

Di akhir tulisan ini saya akan menutip sebuah atsar, sebagai berikut:

أَنَّ الْمَلَائِكَةَ صَعَدُوْا بِصَحِيْفَةِ الْعَبْدِ إِلَى اللهِ تَعَالَى، يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَي لَهُمْ سُبْحَانَهُ: اُكْتُبُوْا لَهُ كَذَا وَكَذَا، فَيَقُوْلُوْنَ: إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْهُ، فَيَقُوْلُ تَعَالَي إِنَّهُ نَوَاهُ.

“Sesungguhnya malaikat melaporkan catatan amal hamba kepada Allahu ta’âlâ, dan Allah berfirman: “Tulislah untuknya seperti ini, dan seperti ini.”  Malaikat pun bertanya: “Ya Tuhan ia belum melakuknya? Maka Allah pun menjawab: “Sesungguhnya ia telah niat.” (Lihat dalam “Nashaih ad-Diniyyah” karya Imam al-Haddad dalam pembahasan doa-doa). Semoga tulisan sederhana ini, ada manfaatnya bagi kita semua. Aamiin.

Comments

comments

To Top