Fawaid

IMAM SYAFI’I: UHIBBUSH-SHÂLIHÎN WALASTU MINHUM?

IMAM SYAFI’I: UHIBBUSH-SHÂLIHÎN WALASTU MINHUM?
Sumber: al-Habib Zainal Abidin al-Hamid
Editing: Mohsen Basheban

PENERBITLAYAR.COM, YOGYAKARTA — Ada ungkapan dari Imam asy-Syafi’i rhm. yang menarik, namun juga membuat decak kekaguman kita ini bertanya-tanya. Imam Syafi’i pernah mengatakan dalam suatu ungkapannya, “UHIBBUSH-SHÂLIHÎN WALASTU MINHUM? SAYA SUKA KEPADA ORANG YANG SHALEH, WALAUPUN SAYA INI BUKAN GOLONGAN MEREKA?” Masya Allah. Tapi, sejatinya ini juga teguran kepada kita bahwa janganlah sekali-kali (karena kita berdakwah, misalnya) dan ada orang berkata baik kepada kita lalu kita beranggap, “Saya ini orang shaleh?” Ajieb! Cobalah lihat Imam Syafi’i; aslahus-shalihin (yang sudah bener-bener orang shaleh) justru berkata kepada dirinya sendiri, “Aku bukanlah golongan daripada mereka?” Fahimtum.

Uhibbush-Shâlihîn Walastu Minhum! Saya cinta orang yang shaleh walaupun saya bukan daripada golongan mereka. (Lalu ditanya lah oleh seseorang), “Ya Imam Syafi’i, Ya Imam Muhammad ibn Idris, kenapa engkau suka kepada orang yang shaleh? Kenapa cinta kepada orang yang shaleh?” Maka Imam Sya’fi’i pun menjawab, “LA’ALLÎ AN ANÂLA BIHIM SYAFÂ’AH? SUPAYA SAYA DENGAN KEHORMATAN ORANG SHALEH DAPAT SYAFA’AT.” Allahu Akbar! Bukan karena amalnya? Bukan karena ilmunya? Bukan dengan ibadahnya? Bukan dengan tulisan kitab “al-Umm war-Risalah” (yakni, sehebat-hebatnya kitab yang ditulis Imam Syafi’i), lalu apa kurang hebatnya dengan Imam Syafi’i? Ilmunya luar biasa; fiqih, ushul fiqh, haditsnya semua luar biasa? Tetapi, justru meminta syafa’at kepada Allah (bukan kepada kitabnya, atau tulisannya), tapi “BI-HIM” atau “Dengan orang yang shaleh”.

KENAPA? Sebab, di sini ada nilai yang mulia. Bahwasanya, di mana Allahu ta’ala meletakkan sebuah keberkahan ilmu, maka di situlah juga Allah meletakkan keberkahan-Nya kepada orang-orang yang shaleh. La’allî An Anala Bihim Syafâ’ah/ Supaya saya dapat syafa’at dengan keberkahan orang-orang yang shaleh. Lantas, Imam Syafi’i pun melanjutkan perkataannya, “WA AKRAHU MAN TIJÂRATUHUL-MA’ÂSHÎ WA-LAU KUNNA SAWA’AN FIL-BIDHA’AH? DAN SAYA TIDAK SUKA KEPADA ORANG-ORANG YANG BERMAKSIAT, WALAUPUN SAYA SENDIRI TERMASUK ORANG YANG BERBUAT MAKSIAT?” Maysa Allah Tabarakallah, begitu tawadhunya Imam Syafi’i.

SAYA SUKA KEPADA ORANG YANG SHALEH, WALAUPUN SAYA BUKAN GOLONGAN DARIPADA MEREKA. Maknanya, agar kita ini mendapat syafa’at mereka. DAN SAYA TIDAK SUKA KEPADA ORANG YANG BERMAKSIAT, WALAUPUN SAYA PUN JUGA BERMAKSIAT. Maknanya, menunjukkan bahwa kita harus merendahkan hati; tidak menunjukkan kita ini seorang yang ma’shum (tidak memiliki kesalahan ataupun dosa). Nah, ketika syair ini sampai kepada gurunya Imam Syafi’i, yakni Imam Ahmad ibn Hanbal. Maka, Imam Ahmad pun berkata, “UHIBBUSH-SHÂLIHÎN WA ANTA MINHUM? SAYA PUN SUKA KEPADA ORANG YANG SHALEH, SALAH SATUNYA ENGKAU (YAKNI, IMAM SYAFI’I)?” Akhiran, jadi sangatlah ironis jikalau ada pada zaman ini orang-orang yang membenci (tidak suka) kepada ulama. Pertanyaannya, “Kalau mereka benci ulama, terus nanti mau meminta syafa’at siapa?”.

Comments

comments

To Top