Fawaid

KISAH AKHLAK MULIA RASULULLAH KEPADA ANAK-ANAK

KISAH AKHLAK MULIA RASULULLAH KEPADA ANAK-ANAK
Sumber: al-Habib Umar ibn Hafidz
Editing: Mohsen Basheban

PENERBITLAYAR.COM, YOGYAKARTA — Pernah di dalam suatu majelis Sayyidil Habib Umar ibn Hafidz –hafidzahullahu ta’ala— menyampaikan tentang kisah akhlak mulia Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam kepada anak-anak. Kami berharap, semoga dari sepenggal kisah ini banyak memberikan pula informasi bermanfaat untuk kita semua agar selalu berupaya untuk berlaku lemah-lembut dan halus kepada anak-anak. Ayyuhal-ikhwan, mari lah kita simak bersama penuturan Sayyidil Habib Umar ibn Hafidz berikut ini:

“Terkadang sebagian orang-orang besar (tokoh), dia sendiri pun bermain dengan anak-anaknya di waktu main mereka. Agar anak-anak mereka benar-benar puas, dan membangkitkan keinginan dan semangat mereka. Dan Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam sudah terlebih dahulu melakukan hal itu. (Diriwayatkan), bahwasanya Sayyidina Hasan dan Husein mendatangi beliau, dan beliau meraih tangan mereka berdua, lalu mereka naik di atas Nabi dan beliau memegangi tangan mereka dan dengan kaki mereka, maka mulailah mereka menaiki kaki, lalu lutut, hingga ke dada Baginda Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam; dan beliau memegangi mereka berdua.” Masya Allah Tabarakallah.

Sayyidil Habib Umar pun melanjutkan, “Dan terkadang mereka berlomba lari menuju beliau shallallahu ‘alahi wa sallam, maka yang lebih cepat beliau tangkap, bahkan sampai-sampai mereka menaiki punggung beliau yang mulia. Kemudian, beliau shallallahu ‘alahi wa sallam berjalan dengan kedua tangan dan kedua kakinya. (Hal yang demikian ini), sampai pernah diperhatikan oleh sebagian para sahabat dan berkata, “Sebaik-baik kendaraan adalah kalian (Hasan dan Husein).” Dia pun berkata lagi, “Kalian menaiki apa sekarang ini? Ini adalah punggung yang telah naik melewati Sidratul Muntaha!” ALLAHUMMA SHALLI ‘ALAIH!! Dan tatkala mendengar ucapan sahabat tadi itu, maka beliau shallallahu ‘alahi wa sallam pun bersabda, “Dan mereka berdua adalah sebaik-baiknya pengendara.” SHALLUU ‘ALAIH.

“Begitulah akhlak yang sangat agung, sampai suatu ketika Sayyidina Anas ibn Malik ra. ketika Nabi alayhish-shalatu was-salam sedang tidur, dan Sayyidina Hasan sedang ada di dada beliau yang mulia, dan dia pun mengompol. Maka, (ketika itu juga) Sayyidina Anas datang untuk mengambilnya. Kemudian, Nabi membuka matanya dan berkata, “Ada apa denganmu?” Sayyidina Anas pun menimpali, “Anak ini mengompol, wahai Rasul?” Maka beliau berkata, “Biarkanlah dia, apakah kau tidak tau? ANNA MAN ADZA-IBNÎ FAQAD ÂDZANÎ/ BAHWA SIAPA YANG MENYAKITI ANAKKU INI, MAKA DIA JUGA TELAH MEMYAKITIKU.” (Tidak sampai di situ kemuliaan akhlak Baginda Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam), “Suatu ketika beliau sedang shalat di masjid sebagai imam, dan beliau panjang dalam sujudnya. Hingga sebagian para sahabat mengira bahwa Nabi telah meinggal dunia. Kemudian, beliau mengangkat kepalanya seraya berucap, “Allahu Akbar.” Setelah shalat selesai beliau bersabda kepada para sahabatnya, “Barangkali kalian heran dari lamanya sujudku dan kalian mengira telah terjadi sesuatu padaku?” Para sahabat berkata, “Iya, wahai Rasul.” Maka, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam menjawab, “Tidak terjadi apa-apa, tetapi anakku ini (Sayyidina Husain) menunggangiku. Menunggangi ini yakni naik di atas punggungku. Maka, aku tidak mau mengangkat kepalaku sampai dia sendiri yang turun.”

Dan di akhir kisah ini Sayyidil Habib Umar ibn Hafidz juga menyampaikan, “Di waktu shalat, Nabi ‘alayhish-shalatu was-salam suka memanjangkan shalatnya. Lalu tatkala beliau mendengar tangisan anak kecil, maka beliau pun mempercepat shalatnya. (Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda), “Terkadang aku sedang shalat dan (sebenarnya) aku ingin memanjangkan shalatku ini, lalu (saat) aku mendengar suara tangisan anak kecil. Maka, (di saat itu pula) aku mempercepat shalatku, karena aku tau hal itu berat bagi ibunya.” (Karena aku tau perasaan ibu itu terhadap anaknya). Semoga dari rangkaian kisah ini banyak memberikan “gambaran” yang bermanfaat tentang akhlak mulia Baginda Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam kepada anak-anak, tentu harapannya kita pun bisa meladani sikap lemah-lembut beliau sebagaimana di atas. []

Comments

comments

To Top