Fawaid

​DIALOG NABI SULAIMAN DAN SEEKOR SEMUT

​DIALOG NABI SULAIMAN DAN SEEKOR SEMUT
Sumber: al-Habib Ahmad Jamal Baagil
Editing: Muhsin Muhamad Basyaiban

PENERBITLAYAR.COM, YOGYAKARTA — Berikut hikayat tentang dialog Nabi Sulaiman as. dan seekor semut. Semoga dari kisah ini banyak faedah yang bisa kita petik, terutama yang berkaitan dengan persoalan rezeki. Diceritakan bahwa Nabi Sulaiman as. pernah bertanya pada seekor semut, “Wahai semut, berapa banyakah makanan yang kamu perlukan untuk hidup setahun?” Maka, semut itu menjawab, “Wahai Nabiyallah Sulaiman, aku hanya memerlukan makanan sebesar sebutir gula untuk hidup selama setahun.” Kemudian, Nabi Sulaiman as. (berinisiatif) mengurung semut tersebut di dalam sebuah botol dan diletakkan sebutir gula untuk makanan semut tersebut. Lalu selepas setahun, Nabi Sulaiman as. membuka tudung botol itu dan mendapati hanya separuh saja gula yang dimakan oleh semut tersebut.

Mengetahui hal itu, maka Nabi Sulaiman as. bertanya kepada seekor semut itu, “Wahai semut, mengapa hanya separuh saja gula yang engkau makan dalam setahun?” Lalu semut menjawab,“Wahai Nabiyallah Sulaiman, jika diluar botol ini, aku yakin Allahu ta’ala akan memberikan rezeki yang cukup kepadaku untuk hidup, namun setelah engkau mengurung ku di dalam botol ini, aku tidak yakin pada manusia yang akan memberiku rezeki yang cukup, aku takut engkau terlupa untuk membuka tudung botol itu setelah setahun. Oleh karena itu, aku harus berpikir cermat untuk hidup setahun di dalam botol ini dengan gula sebutir.” Masya Allah Tabarakallah.

Begitulah kisah seekor semut yang cukup yakin dengan pemberian rezeki Allahu ta’ala kepadanya. Bagaimana mungkin manusia seperti semut? Kita yang diberikan nikmat Islam dan Iman oleh Allahu ta’ala tidak yakin engan rezeki Allahu ta’ala?! Maka, sejatinya kita ini lebih buruk dari seekor semut. Karenanya, yakinlah bahwa rezeki itu milik Allahu ta’ala; bukan milik raja, bukan kerjaan, bukan milik syarikat, bukan milik boss. Mereka semua hanya perantara Allahu ta’ala. Akan tetapi, itu semua mutlak milik Allah.

Ketahuilah, Allahu ta’ala telah menjamin rezeki bagi seluruh makhluk-Nya, termasuk manusia. Di dalam al-Quran Allahu ta’ala berfirman :

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ.

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Hud [11]: 6)

Dalam hadits pun disebutkan, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ رُوحَ القُدُسِ نَفَثَ فيِ رَوْعِي أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ أَجَلَهَا، وَتَسْتَوْعِبَ رِزْقَهَا فَاتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوا فيِ الطَّلَبِ، وَلاَ يَحْمِلَنَّ أَحَدَكُمْ اِسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ يَطْلُبَهُ بِمَعْصِيَةِ اللهِ فَإِنَّ اللهَ تَعَالىَ لاَ يُنَالُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ.

ِ“Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril as.) telah meniupkan wahyu ke dalam hatiku, bahwa suatu jiwa tidak akan mati sehingga dia menyempurnakan ajalnya dan mengambil seluruh rezekinya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan carilah rezeki dengan baik. Dan jangan sampai anggapanmu akan lambatnya rezeki mendorongmu untuk mencarinya dengan maksiat kepada Allah. Karena sesungguhnya apa yang di sisi Allah tidak akan bisa diraih kecuali dengan menaati-Nya.” (HR. Abu Nu’aim dalam “al-Hilyah”, Lihat Shahihul Jami’ No. 2085).

Semoga Bermanfaat …
Silahkan Share …

Comments

comments

To Top