Manaqib

SEKELUMIT MANAQIB MENGENAL IMAM AL-BUKHARI

Turbah atau Nisan Imam al-Bukhari rhm.

SEKELUMIT MANAQIB MENGENAL IMAM AL-BUKHARI
Sumber: al-Habib Ahmad ibn Noval ibn Jindan
Editor: Muhsin ibn Muhammad Basyaiban

PENERBITLAYAR.COM, YOGYAKARTA – Siapa yang tidak kenal dengan Imam al-Bukhari ‘alayhi rahmatullahi ta’âlâ? Beliau tidak lain adalah sosok yang benar-benar tulus menghamba kepada Allahu subhânahu wa ta’âlâ, sehingga seluruh hidupnya dihabiskan di dalam penghambaan sejati kepada Allah. Beliau adalah manusia yang tulus mencintai Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaih wa sallam, yang mana kecintaannya bukan sekedar pengakuan? Akan tetapi, dari sejak kecil kecintaan yang telah terpendam di dalam hati beliau; dan beliau buktikan dalam perilaku dan gerak-geriknya.

Sebagaimana kita mendengar dari ulama kita, bahwa mereka menyatakan, “MAN AHABBA SYAI’AN AKTSARA MIN DZIKRIH” (Artinya, seseorang jika mencintai sesuatu pasti akan sering menyebut-yebut apa yang dicintainya tersebut). Imam al-Bukhari dari sejak usia yang sangat muda sekali beliau benar-benar begitu cinta kepada Rasulullah  shallallâhu ‘alaih wa sallam, sehingga dari usia muda tersebut beliau habiskan seluruh hidupnya hanya untuk mengumpulkan dan menghafal hadits-hadits Baginda Nabi ‘alayhish-shalâtu was-salâm. Masya Allah Tabarakallah.

Makam Imam al-Bukhari rhm. terletak di kota Samarkhan, Republik Uzbekistan.

Al-Imam al-Habib Ali ibn Muhammad al-Habsyi pernah bercerita (sebagaimana pula tulisan yang ditulis oleh al-Imam al-‘Allamah al-Habib Ahmad ibn Ali ibn Ahmad ibn Abdullah ibn Thalib Alatthas), beliau (al-Habib Ali al-Habsyi) bercerita bahwasanya pernah ada dua orang yang saat itu jalan masuk ke kampungnya Imam al-Bukhari dan saat itu Imam al-Bukhari usianya masih sangat kecil, yakni sekitar umur 7-8 tahun. Dan layaknya seorang anak di usia tersebut, Imam al-Bukhari kecil pun bermain bersama-sama temannya. Kedua orang tersebut yang masuk ke kampungnya Imam al-Bukhari, mereka berdua berjalan sambil berbincang-bincang, mereka pun melihat Imam al-Bukhari yang sedang bermain dipinggir jalan. Maka, salah satu dari kedua orang tersebut mengatakan, “Wahai temanku, engkau lihat anak kecil yang sedang bermain itu? Dia; Muhammad ibn Ismail al-Bukhari. Dia adalah bocah yang istimewa?” Lantas, teman yang satunya mengatakan, “Apa yang istimewa darinya?” Kemudian dijawab, “Dia di usia 7/8 tahun itu telah menghafal 1000 hadits Nabi ‘alayhish-shalâtu was-salâm.”

Pertanyaannya, “Siapa di antara kita di usia tersebut hafal 1000 hadits?” Allah. (Saya lantjutkan), ternyata perbincangan kedua orang tadi itu didengar oleh Imam al-Bukhari yang sedang asyik bermain. Maka, Imam al-Bukhari pun berdiri dan menghampiri kedua orang tersebut. Kata Imam al-Bukhari, “Wahai pamanku, kalian berbicara tentang aku? Barusan aku dengar, kalian mengatakan bahwasanya aku adalah bocah yang istimewa yang di usia 7/8 tahun hafal hadits-hadits Nabi sebanyak 1000 hadits?!” Lalu, kedua orang tadi itu pun mengatakan, “Iya, benar.” Lantas, Imam al-Bukhari menimpali, “Kalian salah dengan informasi tersebut. Bukan 1000 hadits, akan tetapi aku telah hafal lebih daripada 10.000 hadits Baginda Nabi‘alayhish-shalâtu was-salâm.” Lanjut kata Imam al-Bukhari, “Kalau kalian ingin mendengarnya aku akan membacakan saat ini juga.” Shalluu ‘Alan-Naby … []

Maka, betapa besarnya keberkahan daripada Imam al-Bukhari. Dan sudah sepatutnya bagi kita pun berusaha mengambil keberkahan yang melimpah-ruah tersebut. Dengan membaca kitab Shahihnya, mengamalkan dan menyebarkan apa yang bisa kita dari kitabnya tersebut. Dan di antara juga, yang bisa kita petik/ambil berkahnya adalah dengan menghadiri penyelanggaraan acara seperti, “Khatim Shahihil-Bukhari” atau Pengkhataman (Kitab) Shahih al-Bukhari. Acara seperti ini banyak di selenggarakan saat menjelang akhir bulan Rajab al-Asham. Fa insya Allah, pada tanggal 27 Rajab 1438 atau 24 April 2017 akan diselenggaarakan acara “Khatim al-Bukhari” di kota Solo (pagi hari pukul 9.00 WIB) dan Yogyakarta (malam hari pukul 20.00 WIB). Fa ayyuhal-ikhwan, dengan adanya kesempatan ini maka sudah sewajarnya bagi kita untuk berusaha memakmurkan dan mengambil keberkahan yang ada di dalam acara-acara tersebut. Kami memohon, “Semoga Allahu ta’âlâ memberi kesempatan kepada kita semua untuk dapat menghadiri acara tersebut. “Aamiin.”

Comments

comments

To Top