Fawaid

BERGURU KEPADA ULAMA, TAPI TIDAK MENDAPATKAN APA-APA

BERGURU KEPADA ULAMA, TAPI TIDAK MENDAPATKAN APA-APA
Sumber: al-Habib Salim asy-Syathiri
Editing: Muhsin Basyaiban

PENERBITLAYAR.COM, YOGYAKARTA — Diceritakan dahulu ada seorang pemuda, ayahnya mengirim ia ke kota Seiwun di masa al-Imam al-Habib Ali ibn Muhammad al-Habsyi (Muallif Maulid Simthud Duror); saat beliau tengah membangun pondok pesantrennya. (Dan pemuda ini dikirim oleh ayahnya), untuk menuntut ilmu. Kemudian, ayahnya meninggalkan anaknya itu bertahun-tahun lamanya. Akan tetapi, pemuda ini –padahal saat itu adalah di masa al-Habib Ali ibn Muhammad al-Habsyi terkenal, banyak majelisnya, banyak pula orang-orang yang mendatanginya— namun justru sang pemuda hanya disibukkan dengan penampilan dan tidak sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu.

Kata al-Habib Salim ibn Abdullah asy-Syathiri, “Hal ini seperti kaum pemuda sekarang ini; kamu dapati ia memperhatikan ziarah, hadhrah, maulid, tetapi tidak memperdulikan pelajarannya.” Dan pemuda tersebut pun seperti itu, bahkan hingga tahun demi tahun berlalu. (Di kesempatan yang lain), ayahnya menyangka bahwa anaknya telah mendalami ilmu dan kuat ilmunya. Maka, ayahnya pun meminta anaknya untuk kembali pulang (ke rumah).Demikian ini, setelah berlalu enam tahun atau sepuluh tahun, waktu yang sangat panjang.

Ketika pemuda itu kembali ke rumah, ayahnya menyambunya, dan para tokoh kota pun (ikut) menyambutnya. Bahkan, mereka mengelilinginya dan merayakan kedatangannya dengan perayaan yang agung. Nah, ketika perjumpaan dan pertemuan selesai, lalu ayahnya mengatakan kepada mereka (para tokoh kota dan masyarakat sekitar), “Sesungguhnya anakku ini tinggal di Hadhramaut,  di Seiwun, di Pesantrennya al-Habib Ali al-Habsyi sekian tahun.” Kemudian, ayahnya pun melanjutkan perkataannya, “Dan sekarang, saya menginginkan kalian untuk mengujinya, bertanyalah kepadanya hingga kita tahu tingkatan ilmunya.” ungkap ayahnya tersebut di hadapan para tokoh kota dan masyarakat.

Maka, mereka pun mulai bertanya kepada anaknya tersebut, mengenai ilmu Fiqih pada permasalahan yang ringan, namun anaknya tidak mampu menjawab. Setiap mereka bertanya tentang suatu masalah, dia tidak bisa menjawabnya. Dia hanya mengenal jalan-jalan, karena saat itu dia menyewa keledai untuk berjalan-jalan setiap hari setelah Ashar. Hingga para tokoh kota (ulama sekitar) itu yakin,  bahwa anak ini telah gagal dan ia tidak menuntut ilmu dengan benar, dan tidak bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Maka, tatkala dia kembali ke rumah sama seperti saat dia pergi. Hal ini, seperti pukulan berat bagi ayahnya, menyesal, lalu perutnya tertarik karena rasa penyesalan yang amat. Hingga ia pun sakit perutnya, dan meninggal karena perasaan yang sangat malu.

Dari kisah panjang di atas, ada tali benang merah yang perlu kita garis bawahi, yakni; Apa penyebabnya pemuda itu gagal dalam menuntut ilmu? Padahal, ia berada di kota Tarim, Hadharamaut (bumi para Wali), berguru kepada al-Habib Ali al-Habsyi (ulama yang masyhur di zamannya), bahkan bertahun-tahun waktu ia telah laluinya. Tetapi, saat kembali ke rumah ia tidak memiliki ilmu apa-apa. Lantas, apa penyebabnya? Penyebabnya tidak lain adalah karena ia menyia-nyiakan waktu. Mengatur waktu dan mendahulukan yang paling penting, itu adalah yang akan meningkatkanmu. Dan menjauh dari musuh, menjauh dari teman buruk, teman duduk yang buruk, mereka adalah yang merusak akhlakmu, merusak akidahmu, merusak pikiranmu; waktumu akan habis dengan sia-sisa. Sebagaimana kamu berbuat, begitu pula kamu memetik hasilnya. Barang siapa yang menghabiskan masa mudanya dengan itu, lalu menyesal, maka janganlah menyalahkan kecuali dirinya sendiri.” Semoga kisah ini memberikan motivasi kepada kita agar bersungguh-sungguh lagi tatkala menuntut ilmu, silahkan sebarkan. [@muhsinbsy]

Comments

comments

To Top