Fawaid

BERKARYALAH, KARENA TAK AKAN DI LUPUT ZAMAN

BERKARYALAH, KARENA TAK AKAN DI LUPUT ZAMAN

PENERBITLAYAR.COM, YOGYAKARTA — Sedikit renungan mengawali pagi hari ini. Saat ini kita menyaksikan majelis-majelis ilmu, majalis shalawat, atau halaqah-halaqah pelajaran tumbuh di mana-mana. Belum lagi para Asatidz atau Da’i saat ini pun mudah dicari/temukan, untuk sekedar mengisi pengajian di kampung-kampung, perkotaan atau di tempat mana pun yang kita inginkan. Walhasil, dari ke semua itu kita juga bisa mengambil manfaatnya, fa Alhamdulillah.

Namun, ayyuhal-ikhwan! Ada satu hal yang hemat kami, boleh jadi hal ini tidak begitu diperhatikan dan tumbuh subur sebagaimana maraknya kegiatan taklim dan bertebarannya para Da’i yang saat ini tengah terjadi dan kita amati. Apakah itu? Yakni, “Berkarya membuat sebuah tulisan atau membukukan ilmu.” Saya akan tanya kepada kalian, “Apakah dari Da’i-Da’i yang anda kenal saat ini, adakah karyanya? Saya tidak minta kepada kalian untuk mencarikan 5 atau 10 karya darinya, yang saya minta hanya coba carikan satu saja karya tulisan yang pernah dibukukan olehnya?!

Tentu jawabannya pasti ada, namun yang perlu dicatat; segelintir saja. Demikian ini, kita tidak bisa menutup mata. Kenyatannya, saat ini memang jarang para Da’i mau untuk meluangkan aktifitas dakwahnya untuk menulis sebuah karya, dan sangat jarang pula saat ini ada halaqah-halaqah yang fokus menelaah karya-karya para ulama Salaf, lalu mempublikasikannya sehingga masyarakat yang awam pun menjadi tau dan mengenal para ulamanya. (Walafu, memang pedas mendengarnya tapi inilah sebuah kenyataan).

Kita ketahui, di antara kejayaan Islam itu dengan hadirnya karya-karya ulamanya. Mustahil kita yang saat ini akan mengenal ilmu Agama kalau bukan dari perantara karya-karya ulamanya. Bahkan, kita tidak akan mengerti firman-firman Tuhan kalau tidak ada pengkodifikasian atau pembukuan kitab suci (al-Quran). Artinya, betapa penting dan mulia bagi seorang yang mau berkarya, begitu pula orang yang mau membukukan sebuah ilmu. Sebab, apabila kita hanya melalui lisan; ilmu itu hanya akan bertahan tidak lebih daripada beberapa jam saja (tergatung daya ingat masing-masing). Namun, jika ilmu itu dicatat, ditulis, dibukukan; maka, ilmu itu akan sampai ke tempat-tempat yang jauh, dan akan tetap ada meskipun orang alim itu telah tiada. Baginya pun akan memperoleh keutamaan menyebarkan ilmu; yakni amal jariyah.

Fa ayyuhal-ikhwan, saya akan menutup renungan ini dengan mengutip sebuah kalam; tentu karena ini dibukukan saya pun menjadi tahu. Imam al-Haddad ra pernah mengatakan dalam salah satu karyanya, “(Bahwasanya) seseorang yang membuat karangan akan dicatat sebagai guru yang selalu menyeru kepada Allah, meskipun telah berada di dalam kubur.” Masya Allah. Wa kadzalika fil-hadits, bahwasanya Nabi ‘alayhish-shalatu was-salam bersabda, “Barang siapa yang membangkitkan lisannya (seperti dengan cara membukukan) untuk suatu kebenaran yang setelah ia tiada tetap diamalkan orang, maka ia akan diberi ganjarannya sampai hari kiamat.” (HR. Ahmad).

Akhiran, tidak lain al-Faqir menulis catatan ini kecuali ingin menyemangati anda sekalian dalam membuat sebuah karya (tulisan atau karangan) dan mempublikasikan (membukukan) daripada karya-karya ulama kita terdahulu, dengan harapan hal ini tidak hanya berguna bagi orang-orang yang hidup pada masa ini, tetapi juga (semoga) berguna bagi orang-orang yang hidup di masa akan datang. Allahumma Aamiin. Wallahu ta’ala a’lam.

*Ditulis oleh: Muhsin Muhammad Basyaiban
(GM) Penerbit Layar, DI. Yogyakarta

follow twitter @muhsinbsy

 

Comments

comments

To Top