Fawaid

KISAH SALAF TENTANG CARA MENGUSIR SETAN

KISAH SALAF TENTANG CARA MENGUSIR SETAN
Sumber: Sayyidil Habib Umar ibn Hafidz
Editing: Muhsin Muhammad Basyaiban

PENERBITLAYAR.COM, YOGYAKARTA – Diceritakan bahwasanya dahulu ada seorang murid yang hendak berpamitan kepada gurunya untuk pulang ke kampung halamannya. Kemudian, murid itu berkata kepada gurunya, “Wahai guruku, berilah aku wasiat?” Maka, gurunya tersebut balik bertanya kepada muridnya itu, “Wahai anakku, apakah di negerimu ada setan?” Sontak muridnya itu pun menjawab, “Ya Syaikhi, anda pun tahu bahwa Allah menyebarkan setan di seluruh muka bumi. Di setiap tempat, di setiap orang; qarin (setan pendamping manusia), setan dan iblis banyak berkeliaran di bumi ini.” Lantas gurunya tersebut pun bertanya lagi kepada muridnya itu, “Apa yang akan kau lakukan jika kau diganggu oleh salah satu setan, qarinmu, atau iblis, atau pasukakannya?”

Maka, murid daripada guru itu pun menjawab, “Aku akan melawannya.” Mendengar jawaban muridnya ini, lantas gurunya tersebut terdiam sejenak, lalu mengatakan, “Ya Waladi, jika pembuat walimah mengundangmu ke rumahnya, ia membuat hidangan dan juga mengundang orang-orang, lalu kau datang dan kemudian kau temukan seekor anjing di jalan dekat rumahnya. Anjing itu pun menggonggongmu, lantas apa yang akan kau lakukan?” Muridnya itu pun menjawab, “Aku akan ambil batu dan ku lempar ia dengan batu.” Lalu gurunya berkata lagi, “Kau lempar dengan batu dan ia tetap menggonggong?” Muridnya pun menjawab lagi, “Aku akan ambil batu lagi dan ku lempar ia dengan batu.” Gurunya berkata lagi seraya menegaskan, “Kau ambil batu yang kedua dan melemparinya, tetapi ia masih tetap menggonggong?” Maka muridnya itu seraya tak putus asa dengan jawaban pendirannya, “Aku akan ambi batu ketiga.”

Kemudian gurunya pun berkata, “Kau lempar batu keempat, kelima; hingga mereka (orang-orang yang hadir walimah) makan malam, lalu selesai, dan mereka pun keluar dari rumah tersebut. Tetapi, anjing itu masih juga di tengah jalan. Cara macam apa ini?” kata gurunya tersebut. Maka, akhirnya muridnya pun bertanya kepada gurunya, “Lantas, bagaimana caranya ya Syaikhi?” Gurunya pun menjawab, “Panggil lah tuan rumahnya. Jika anjing itu memang menghalangimu, katakanlah ke dia; anda yang mengundangku ke hidangan ini dan anjingmu menghalangi aku, usirlah ia dari tengah jalan!” Gurunya pun melanjutkan perkataannya, “Jika kau panggil tuan rumah itu dan dia menyahut, maka dengan isyarat darinya anjing itu pun akan pergi dan kau bisa masuk dengan aman bersama orang-orang yang terlebih dulu datang, tentu sebelum makanan malam pun selesai.”

Maka lanjut kata gurunya, “Begitu pula Allah mengundangmu untuk dekat kepada-Nya, kepada hidangan-Nya, dan kepada surga-Nya. Lalu di tengah jalan ada iblis dan pasukannya, maka berlindunglah kepada-Nya (Allahu azza wa jalla) dengan baik, lalu katakanlah; wahai pemilik rumah, usirlah anjing-Mu dari jalan.” Dalam hal ini Allahu ta’ala berfirman, “WA IMMA YANZAGHANNAKA MINA-SYAITHÂN NAZGHUN-FASTA’IDZ BILLÂH/ Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah.” (QS. al-A’raf [7]: 200) Tidak peduli apa yang dilakukan seseorang setelah itu dalam mujahadanya, melainkan hanya menjalankan ubudiyahnya. Akan tetapi, sandarannya hanya bersandar kepada Allah. “RABBI ‘ALAIKA’-TIMÂDÎ KAMÂ ILAIKAS-TINÂDÎ,  SHIDQAN WA AQSHA MURÂDÎ RIDHÂUKAD-DÂ’IMUL-HÂL/ Ya Allah, kepadamu lah aku bertumpu sebagaimana kepadamu lah aku bersandar dengan sebenarnya. Dan puncak keinginanku adalah keridhan-Mu yang abadi.” Semoga bermanfaat. #sebarkanmanfaat

Comments

comments

To Top