Fawaid

SEBAB SHALAWAT, IBU-IBU TUA BERJALAN DI ATAS AIR

SEBAB SHALAWAT, IBU-IBU TUA BERJALAN DI ATAS AIR
Sumber: al-Habib Alwi ibn Ali al-Habsyi
Editing: Muhsin Muhammad Basyaiban

PENERBITLAYAR.COM, YOGYAKARTA  — Diceritakan bahwasanya dahulu ada seorang ibu-ibu yang sudah tua, dan ibu-ibu tua ini untuk memenuhi kebutuhan sehariannya ia sering pergi menjala ikan ke bibir pantai/lautan. Ada hal yang unik dengan perilaku ibu-ibu tua ini; tatkala menjala ikan, ia sambil bershalawat kepada Nabi ‘alayhish-shalatu was-salam. Masya Allah. Tapi jangan takjub dulu, sebab shigat atau bentuk shalawat yang dilantunkan oleh ibu-ibu tua ini ketika sambil menjala ikan itu salah dan keliru. Masa ibu-ibu tua ini mengatakan, “ALLAHUMMA SHALLÛ ‘ALAIHI WA SALLIMU TASLÎMÂ.”

Memang terlihat aneh didengar oleh telinga kita, mungkin ibu-ibu tua ini terobsesi dengan firman Allahu ta’ala, “YÂ AYYUHAL-LADZÎNA ÂMANÛ SHALLÛ ‘ALAIHI WA SALLIMU TASLÎMÂ.” Walhasil, ibu-ibu tua ini terus-menerus bershalawat dengan shigat yang salah, “ALLAHUMMA SHALLÛ ‘ALAIHI WA SALLIMU TASLÎMÂ.” Lantas, suatu ketika ada seorang ulama yang berlayar dan berpapasan dengan ibu-ibu tua ini, yang tengah menjala ikan. Ketika diperhatikan oleh ulama tersebut, ternyata ibu-ibu tua ini sambil bershalawat. Dan ulama itu pun tau bahwa shigat shalawat yang diucapkan oleh ibu-ibu tua ini salah. Karenanya, ulama itu pun hendak menanyakan dan membenarkan shigat shalawat tersebut.

Kata ulama tersebut, “Assalammualaikum ibu, lagi apa?” Ibu-ibu tua itu pun menimpali, “Wa’alaikumussalam ya Syaikh, ini lagi menjala ikan.” Lantas ulama tersebut berkata lagi, “Ibu ini sambil bershalawat ya?” Maka ibu itu berkata, “Iya benar, ya Syaikh.” Kata ulama tersebut, “Apa shalawat yang ibu baca?” Ibu-ibu tua itu pun berkata, “ALLÂHUMMA SHALLÛ ‘ALAIHI WA SALLIMU TASLÎMÂ.” Tentu mendengar hal itu ulama tersebut pun langsung membenarkan shigat shalawat yang benar seperti apa. Maka kata Syaikh tersebut, “Ini shalawatnya salah ibu, bukan SHALLÛ tapi SHALLI. Jadi yang benar, “ALLÂHUMMA SHALLI ‘ALAIHI WA SALLIMU TASLÎMÂ.”

Maka saat itu, si ibu-ibu tua ini pun langsung mengganti bacaan shalawatnya dengan shigat baru yang telah diajarkan oleh sang ulama tersebut. Walhasil, setelah kejadian itu sang Syaikh pun bergegas kembali untuk melanjutkan pelayarannya. Nah, ketika ibu-ibu tua ini menjala ikan lagi dan juga sambil bershalawat lagi, ia pun kemudian lupa. Maklum, namanya juga ibu-ibu yang sudah tua. Makanya ia berpikir, “Ini semestinya yang saya baca apa; ALLÂHUMMA SHALLÛ atau ALLÂHUMMA SHALLI?” benak ibu-ibu tua itu.

Karena keraguan tersebut, ibu-ibu tua itu pun langsung bergegas, berjalan, menghampiri sang Syaikh tadi yang baru saja mengajarkan ia tentang shighat shalawat yang benar. Kata ibu-ibu tua tersebut, “Ya Syaikh, ya Syaikh??” Masya Allah, ibu-ibu tua itu berjalan di atas air mengejar kapal sang Syaikh tersebut, lalu memegangi ujung kapalnya dan berkata, “Ya Syaikh, tadi anda mengajarkan saya; ALLÂHUMMA SHALLÛ atau ALLÂHUMMA SHALLI?” Sontak Syaikh itu pun kaget. Lalu ditanya oleh sang Syaikh, “Ibu ketengah lautan ini naik apa?” Kata ibu-ibu tua itu, “Jalan kaki, ya Syaikh.” Maka sang Syaikh pun mengatakan, “Khusus buat ibu mau pakai ALLÂHUMMA SHALLÛ atau ALLÂHUMMA SHALLI sama saja. Saya kalau pakai ALLÂHUMMA SHALLI pasti tenggalam, bu ….” Subhanallah.

Begitulah hikayat orang-orang shaleh terdahulu. Adapun fawaid atau faedah-faedah yang bisa kita petik dari kisah di atas adalah bahwasanya di dalam berdoa atau bershalawat, penilaian utama yang akan “dipandang” oleh Allahu subhânahu wa ta’âlâ adalah KEIKHLASANNYA. Bukan lah dari bentuk/shigat doa yang kita panjatkan, bukan lah dari indahnya doa dan shalawat yang kita lantunkan. Tapi meski demikian, tidak ada apa-apa kalau kita juga ingin memperbagus shigat doa dan shalawat yang akan kita ucapkan. Dan tentu dengan terus berupaya dari apa kita ucapkan itu, keluar dengan ikhlas. Semoga dari sekelumit kisah ini ada manfaatnya bagi kita semua. *Jangan lupa untuk menyebarkan.

#sebarkanmanfaat #kisahhikmah #penerbitlayar

Comments

comments

To Top