Manaqib

MENGENAL SOSOK SHAHIBUR RATIB

MENGENAL SOSOK SHAHIBUR RATIB
Editing: Muhsin Muhammad Basyaiban

PENERBITLAYAR.COM, YOGYAKARTA – Pasti anda semua pernah mendengar tentang Ratibul Haddad. Bahkan, kami juga meyakini bahwa anda adalah di antara orang-orang yang tiap harinya mengamalkan kumpulan tartib wirid yang digubah oleh Sang Penyusun (atau Shahibur Ratib), yakni al-Imam al-Habib Abdullah ibn ‘Alwi al-Haddad ra. Ya, Ratibul Haddad biasanya dibaca oleh kaum Muslimin antara waktu Maghrib dan Isya’, atau juga setelah shalat Isya’. Nah, tapi pernahkah anda mencoba untuk mencari tahu; tentang bagaimana sih sebenarnya Imam al-Haddad itu? Sosok Imam al-Haddad itu seperti apa? Juga melihat lebih dalam lagi tentang kepribadian beliau. Bukankah bangsa ini memiliki pribahasa yang sangat popular, “TAK KENAL MAKA TAK SAYANG.”

Oleh karena itu, di sini kami akan memberikan sedikit ulasan tentang sosok Imam al-Haddad ra., yang kami kutip dari Manaqib atau Biografi beliau (Selengkapnya baca buku berjudul, “IMAM AL-HADDAD: Tokoh Pembaharu Abad Ke-12 H, karya Mushtafa Hasan al-Badawi, DI. Yogykarta: Penerbit Layar, 2016). Dikatakan dalam buku tersebut, “Bahwasanya Imam al-Haddad ra. adalah orang yang mempunyai postur tubuh tinggi, berbadan lebar, tidak gemuk, berkulit putih, mempunyai wibawa yang sangat tinggi, di wajahnya tidak terlihat bekas cacar di mana penglihatannya hilang pada masa kecilnya. Beliau waktunya lebih banyak dihabiskan dengan tersenyum, bergembira dan bahagia, kebahagiaan ini menular pada orang yang duduk bersamanya, beliau jika tertawa tersenyum, jika beliau senang dan bahagia, wajahnya bersinar seperti bulan purnama.” Qul, “Masya Allah Tabarakallah.”

Sekarang anda sudah sedikit tahu tentang sosok Shahibur Ratib. Lantas, bagaimana tentang keadaan majelis-majelis yang dipimpin oleh beliau. Nah, berikut kami akan kutip lagi tentang hal tersebut yang kami ambil dari buku manaqib-nya. “Bahwasanya majelis Imam al-Haddad ra., suasanya sangat tenang, teduh dan bersahaja, hampir tidak ada seorangpun dari yang menghadiri majelis itu bergerak atau berbicara sehingga seakan-akan ada burung yang hinggap di atas kepala mereka. Duduknya Imam al-Haddad terkadang bersila, terkadang duduk memeluk lutut dengan tangannya atau tali, dan terkadang duduk dengan meletakkan paha sebelah kiri di bawah, mengangkat paha sebelah kanan di atas, dan meletakkan tangan kanannya di atas lutut yang kanan, itu yang sering dilakukan. Imam al-Haddad ra., selalu menghibur dan menentramkan hati orang-orang yang bertamu dan mengunjunginya, lalu memanggil namanya, menanyakan tentang keadaannya dan berbagi bersamanya.”

Ya Rabb, dari gambaran di atas saja kami sudah terbayang betapa beruntungnya orang-orang yang pernah duduk bersama dengan Imam al-Haddad ra. Sayangnya, orang-orang yang hidup zaman ini (seperti kami) tidak akan bisa berkumpul dengan Imam al-Haddad ra., karena beliau telah wafat. Namun, masih ada harapan bagi orang-orang di zaman ini. Sebab, murid-murid beliau telah tersebar luas di mana-mana; mereka bersambung dari guru ke guru hingga kepada Imam al-Haddad. Majelis-majelis mereka pun membacakan daripada karya-karya Imam al-Haddad, melantuntan qasidah-qasidah Imam al-Haddad ra., dan juga melazimkan bacaan wirid gubahan Imam al-Haddad ra. Walhasil, hemat kami inilah hadiah terbesar Imam al-Haddad ra., yang diperuntukkan orang yang hidup di zaman ini; atau yang hidup setelahnya. Maka ayyuhal-ikhwan, seyogyanya janganlah kita memutuskan diri tali yang bersambung ini. Hadirilah majelis-majelis “al-Haddadiyyah” (yakni, yang disitu didengungkan kalam-kalam Imam al-Haddad; baik karyanya, qaisidah atau pun wirid-wiridnya). Sehingga kita pun berharap kelak nanti (fi Yaumil Qiyamah) bisa dikumpulkan bersama beliau, bersama kaum Shalihin, dan bersama Baginda Nabi ‘alayhish-shalatu was-salam. Aammiin Ya Rabbal-‘Alamiin. *Jangan lupa untuk sebarkan.

#imamhaddad #manaqib #sebarkanmanfaat #penerbitlayar

Nb: Manaqib atau buku bografi beliau bisa didapatkan di sini. Silahkan kontak via WA + 0896 3122 7377

Comments

comments

To Top