Fawaid

CARA MENGHADAPI SIKAP BURUK PASANGAN

CARA MENGHADAPI SIKAP BURUK PASANGAN
Sumber: al-Habib Ali Zainal Abidin al-Hamid
Editing: Muhsin Muhammad Basyaiban

PENERBITLAYAR.COM, YOGYAKARTA – Di dalam konteks kekeluargaan sering orang-orang menghadapi masalah dalam keluarganya, dan hal itu memang merupakan perkara yang tidak disukai oleh semua orang. Makanya ada orang yang mengatakan, “Problem di luar rumah sebesar gunung tidak apa, tetapi jangan sekecil krikil dalam rumah.” Artinya, problem yang dihadapi di dalam rumah adalah jauh lebih berat dibandingkan problem yang kita hadapi di luar rumah. Allahu ta’âlâ berfirman dalam al-Qur’an tentang permasalahan dalam rumah tangga, “WA’ÂSYIRÛHUNNA BIL-MA’RÛF FAIN-KARIHTUMÛHUNNA FA’ASÂ AN-TAKRAHÛ SYAIAN WA-YAJ’ALALLÂHU FÎHI KHAIRAN KATSÎRAN/ Bergaullah dengan istrimu secara baik, apabila kamu tidak menyukai istrimu, (maka bersabarlah) karena boleh jadi (terkadang) kamu tidak menyukai sesuatu  (atas perangai, sikap, atau tindakan istri), padahal Allah menyimpan padanya (dengan sabarnya kamu dalam menghadapi perangainya istri, atau juga sebaliknya) kebaikan yang banyak.” (QS. an-Nisa [4]: 19)

Menurut Syaikh Mutawalli asy-Sya’rawi rhm., dalam mengomentari ayat di atas, “Allah menyebutkan “kebaikan” bukan (satu) kebaikan saja, tetapi banyak kebaikan. Kalau satu kebaikan saja ini sudah cukup, karena ya itulah kebaikan yang diberitahukan oleh Allah. Tetapi, (dalam hal ini yang disebutkan adalah) kebaikan yang banyak. Dan cara mendapatkan kebaikan yang banyak, yaitu apabila seseorang bisa bersabar dengan perangai pasangannya.” Artinya, seseorang akan mendapatkan kebaikan yang banyak, kedudukan yang tinggi di sisi Allah, dengan dia bersabar terhadap perkara yang tidak disukainya. Dan tentu hal ini memerlukan sikap iman, lagi pula siapa juga yang ingin bertengkar di rumah setiap hari. Oleh karenya, di sini Allah mengatakan, “Boleh jadi (terkadang) kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menyimpan kebaikan yang banyak.”

Sufi ternama Ibn ‘Athaillah as-Sakandari rhm. pernah mengatakan, “WA IN-KÂNA WALÂ BUDDA MINAT-TADBÎR FA-DABBIRU AN-LÂ TUDABIRU/ Kalau pun mesti kita ini merencanakan, maka rencanakanlah untuk tidak merencanakan.” Maksudnya yaitu, kita jangan meletakkan ketergantungan pada perencanaan itu sendiri, biarlah rencana itu sekedar perencanaan yang terikat sebatas perencanaannya saja. Bukan justru perencanaan itu yang menentukan nasib dari apa yang telah kita rencanakan tersebut. Tetapi, yang menentukan nasib atau hasilnya itu tetaplah Allah. Makanya sebagian orang ada yang mengungkapkan, “Kita boleh merencanakan sesuatu, tetapi Allah lah yang menentukan.” Itu pula yang dikatakan oleh Ahli Hikmah, “Kalau pun mesti kita merencanakan, maka rencanakanlah untuk tidak merencanakan.” Yakni, tidak meletakkan ketergantungan pada perencaaan tersebut. Semoga ada manfaatnya.

*Jangan lupa untuk sebarkan agar manfaat lebih luas.

Comments

comments

To Top