Manaqib

KISAH IKATAN GURU DAN MURID HINGGA KE RASULULLAH

KISAH IKATAN GURU DAN MURID HINGGA KE RASULULLAH
Sumber: al-Habib Jindan ibn Novel ibn Jindan
Editing: Muhsin Muhammad Basyaiban

PENERBITLAYAR.COM, YOGYAKARTA — Bahwasnya dahulu ada seorang alim besar di masanya bernama al-Habib Ibrahim ibn Aqil ibn Yahya. Suatu ketika beliau bercerita kepada gurunya, “Ya Syaikhi/ Wahai Guruku, aku telah bermimpi.” Lantas kata Gurunya (yakni, al-Habib Alwi ibn Thahir al-Haddad, Johor, Malaysia), “Mimpi apa engkau?” Maka al-Habib Ibrahim ibn Yahya pun mengatakan, “Ya Habib Alwi, Ya Syaikhi, aku bermimpi engkau. Aku mimpi seolah-olah dadamu terbelah lalu terbuka dan aku pun masuk ke dadamu.” Al-Habib Ibrahim ibn Aqil ibn Yahya adalah termasuk guru daripada al-Habib Umar ibn Hafidz (Pengasuh Darul Musthafa, Hadhramaut). Al-Habib Ibrahim ibn Yahya di masanya dikenal sebagai Muhadits, seorang Allamah, minal-Auliya’.

Al-Habib Ibrahim ibn Yahya tadi mengatakan kepada Gurunya, “Aku mimpi engkau, dadamu terbelah lalu terbuka dan aku pun masuk ke dalam dadamu tersebut.” Maka, tatkala mendengar hal itu Gurunya (yakni, al-Habib Alwi ibn Thahir) tersenyum. Lalu al-Habib Alwi ibn Thahir pun menambahkan, “Dahulu aku pun juga pernah bermimpi seperti apa yang engkau ceritakan saat ini.” Lanjut kata al-Habib Alwi ibn Thahir, “Aku bermimpi Guruku (yakni, al-Habib Ahmad ibn Hasan Alatthas), dada al-Habib Ahmad terbelah lalu aku pun masuk ke dalam dadanya tersebut. Dan aku pun menceritakan hal ini kepada al-Habib Ahmad. Lantas, al-Habib Ahmad pun juga bercerita kepadaku, …”

Kata al-Habib Ahmad ibn Hasan Alatthas, “Iya, aku pun juga pernah bermimpi yang sama. Dahulu aku mimpi Guruku terbelah dadanya, lalu terbukan dan aku pun masuk ke dalam dadanya tersebut.” Lanjut kata al-Habib Ahmad ibn Hasan Alatthas, “Lalu aku pun menceritakan mimpi ini kepada Guruku, …” Dan Guru daripada al-Habib Ahmad pun menceritakan mimpi yang sama dengan Gurunya, sehingga mimpi ini bersambung terus-menerus (musalsal) sampai kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Masya Allah Tabarakallah.

Dari kisah di atas memberikan faedah kepada kita semua agar tatkala kita ini sudah masuk ke lingkaran para Salafush Shaleh, maka janganlah kita “jauh-jauh”. Karena mereka memiliki “Silsilah Dzahabiyyah” atau rantai emas. Ibaratnya kalau yang bawah digerakkan, maka yang atas pun akan ikut bergerak. Dan apabila yang atas itu ditarik, maka rantai yang bawah pun akan ikut tertarik. Jangan sampai ketika kita telah memiliki atau masuk ke dalam lingkaran ini, tapi kita justru keluar atau melepaskannya. Lahaula wala quwwata illa billah. Semoga kita semua dijauhkan dari hal tersebut. Silahkan sebarkan.

*Keterangan Foto: al-Habib Umar ibn Hafidz bersama Gurunya (yakni, al-Habib Ibrahim ibn Aqil ibn Yahya).

Comments

comments

To Top