Fawaid

DUA BINATANG PELINDUNG RASULULLAH

DUA BINATANG PELINDUNG RASULULLAH
Sumber: Ustadz Abu Bakar ibn Hasan as-Segaf
Editing: Muhsin Muhammad Basyaiban

PENERBITLAYAR.COM, YOGYAKARTA – Di dalam sejarah yang berkaitan dengan hijrahnya Nabi ‘alayhish-shalatu was-salam mungkin di antara kita pernah mendengar atau membaca bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersembunyi di Gua Tsur dari kejaraan kaum Kafir Quraisy, maka di saat itu Allahu subhanahu wa ta’ala mengirimkan dua binatang untuk mengelabui para kaum Kafir Quraisy tersebut. Pertama, “al-Ankabut” atau laba-laba. Di mana laba-laba ini membuat jaring yang menutupi mulut Gua Tsur seakan memberikan tanda bahwa di gua tersebut tidak pernah dimasuki oleh seorang pun. Kedua adalah “Hamamah” atau burung merpati/burung dara. Di mana burung merpati ini berdiam di gua tersebut seakan ingin meyakinkan bahwa di gua tersebut memang tidak pernah disinggahi oleh siapa pun.

Nah, di sini saya ingin mengulas sedikit asal-usul burung merpati tersebut. Jadi, dikatakan bahwa burung merpati yang melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala di Gua Tsur adalah merpati keturunan yang ada pada zaman Nabi Nuh ‘alayhish-salam.  Di saat itu, tatkala Nabi Nuh ingin mendaratkan kapalnya dengan 80 orang yang ikut bersama di kapal tersebut, Nabi Nuh memerintahkan untuk ada yang melihat kondisi Ka’bah; apakah terkena banjir atau tidak? Dan sebenarnya yang diperintahkan pertama kali adalah burung blekok/kuntul. Namun, ketika burung blekok ini diutus melihat kondisi Ka’bah justru ia hanya mencari makan dan tidak kembali lagi.  Akhirnya, untuk yang kedua kalinya Nabi Nuh memerintahkan kepada burung merpati untuk menyusul burung blekok tersebut; melihat kondisi terkini Ka’bah saat itu.

Berbeda dengan burung blekok tadi, burung merpati ini justru menuruti apa perkataan Nabi Nuh; sam’an wa tha’atan. Sehingga ia pun kembali lagi dan melaporkan bahwa Ka’bah juga terkena banjir. Nah, sebagai rasa berterima kasih dan penghormatan Nabi Nuh ‘alayhis-salam kepada burung merpati itu, maka Nabi Nuh memberikan kalung dileher burung merpati tersebut.  Subhanallah, kalau anda perhatikan burung merpati yang ada di Makkah/Madinah saat ini sebagian dilehernya seperti ada garis yang melingkar menyerupai sebuah kalung. Menurut risalah ini, itu adalah termasuk merpati keturuanan yang ada pada zaman Nabi Nuh ‘alayhis-salam, yang saati itu diberikan kalung penghormatan oleh Nabi Nuh.

Walhasil, dari kisah ini memberikan faedah kepada kita bahwa begitu istimewa dan mulianya kedua binatang tersebut. Terlebih lagi burung merpati, ia benar-benar makhluk yang istimewa.Sebab telah melindungi Nabi ‘alayhis-shalatu was-salam, juga menuruti perintah Nabi Nuh ‘alayhis-salam. Oleh karenanya, sebagaimana pula Nabi Nuh berterima kasih dan memberikan penghormatan kepada burung merpati. Maka, seyogyanya kita juga berterima kasih  dan memberikan penghormatan kepadanya. Lantaran burung merpati telah melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kejaran kaum Kafir Quraisy saat bersembunyi di gua Tsur. Lantas, bagaimana cara penghormatannya? Ya, bisa kita tidak memakan burung merpati/dara. Tindakan ini bukan apa-apa (sebab memang halal), namun lebih karena rasa cinta kita kepada Rasul dan rasa berterimakasih kepada burung merpati tersebut. Apakah tidak kasihan dengan makhluk yang telah melindungi Rasul? Wallahu a’lam.

Comments

comments

To Top