Manaqib

MENGENAL IMAM AL-GHAZALI DARI ABAD KE-14 H


MENGENAL IMAM AL-GHAZALI DARI ABAD KE-14 H
Editing: Muhsin Muhammad Basyaiban

PENERBITLAYAR.COM, YOGYAKARTA — SYAIKH DR. ABDUL HALIM MAHMUD lahir  di desa  “Abu Ahmad”, pinggiran kota Belbes, Provinsi Syarqiyah pada tahun 1910 M. Beliau dibesarkan di kalangan keluarga yang ta’at dan shaleh. Ayahanda beliau, Syaikh Ali adalah pelajar al-Azhar yang putus sekolah karena ditinggal wafat ayahnya dan mengurus adik-adiknya yang masih kecil. Cita-cita Syaikh Ali beliau titipkan ke puteranya, Abdul Halim Mahmud untuk menimba ilmu di sekolah dasar al-Azhar sampai selesai. Beliau pun belajar dengan tekun dan giat hingga hafal al-Qur’an dalam usia muda.

Beranjak dewasa Syaikh Abdul Halim Mahmud melanjtkan studinya di Universitas al-Azhar, Mesir. Di sini beliau menuntut ilmu dengan beberapa orang masyaikh al-Azhar yang terkenal pada masa itu; seperti Syaikh Mahmud Shaltut, Syaikh Hamid Meheisen, Syaikh al-Zankalani, Syeikh Muhammad Abdullah Daraz, Syaikh Muhammad Musthafa al-Maraghi dan Syaikh Musthafa Abdurraziq. Dan pada tahun 1932 M, akhirnya beliau meraih gelar sarjana dari al-Azhar. Setelah itu, beliau pun melanjutkan pendidikannya di Sorbonne University, Prancis dan meraih gelar PhD pada tahun 1940 M.

Beliau sukses meraih gelar doktor tersebut setelah berhasil mempertahankan disertasinya tentang “al-Harits ibn Asad al-Muhasibi”, pemuka sufi pada masa Abad Pertengahan. Di bawah bimbingan seorang orientalis tersohor Prancis kala itu, Louis Massignon. Menariknya, meskipun beliau berhasil mendapatkan meraih gelar PhD dari Sorbonne University di Prancis, dan juga sempat hidup lama di kota Paris (sejak 1932-1940), tetapi hiruk-pikuk dan glamornya kota itu, sedikitpun tak berbekas pada pikiran dan hatinya. Beliau tetap mampu memelihara identitas keislamannya. Sebab, beliau memiliki penghayatan dan pengamalan menyangkut nilai-nilai spiritual yang mengagumkan.

Beliau pengagum Imam al-Ghazali rahimahullâh, dan beliau juga seorang pengamal tasawuf. Bahkan, beliau pernah diberi gelar kehormatan sebagai ”al-Ghazali dari abad ke-14 H”, karena kemampuannya untuk mengintegrasikan dimensi eksoteris dan esoteris Islam (yang sering dianggap bertentangan). Selain itu, beliau juga pernah terpilih menjadi Grand Syaikh al-Azhar (pemimpin tertinggi lembaga-lembaga al-Azhar) dari tahun 1970 hingga 1978.

Buku “SIDI ABU MADYAN” adalah salah satu karya beliau yang telah kami terbitkan.

Syaikh Abdul Halim Mahmud memang dikenal sebagai ulama yang amat menghargai para sufi Islam dari manapun asalnya dan dari aliran manapun mereka. Beliau tidak pernah menyalahkan sufi yang berbeda pendapat dengannya. Baginya jalan tasawuf adalah jalan yang selamat, akomodatif dan konstruktif bagi kehidupan dan kemajuan. Tasawuf membawa kebahagiaan dunia dan akhirat. Dalam berbagai tulisannaya ia menunjukkan betapa para sufi telah bekerja membantu para fakir miskin, membangun masyarakat, meluruskan jalan pemerintahan dan berjuang membela negara. Ia membela kaum sufi dari berbagai tuduhan dengan jawaban-jawaban yang memuaskan, dan tuduhan terhadap kaum sufi itu dianggapnya sebagai mengada-ada. Ia tunjukkan beberapa sufi yang memiliki gelar sebagai orang pekerja, sebagai pemintal benang, tukang jahit, pedagang dan sebagainya, sebagaimana halnya beberapa sufi yang gugur di medan perang untuk membela negara. Oleh karena itu, melalui jalan tasawuf kaum muslimin akan bangkit dan selalu aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Adalah amat mengesankan apa yang menjadi jalan tasawuf Syaikh Dr. Abdul Halim Mahmud tersebut dan hal itu juga di tunjukkan dalam perjalanan hidupnya sebagai seorang sufi dan sarjana yang disegani. Kepribadian sufi yang luhur, disamping memiliki jalan tasawuf itu ia juga mampu menampilkan keunggulan spiritual Islam ditengah kancah materialisme abad ke-20, hingga menimbulkan optimisme dan harapan-harapan baru.

Beliau dikenal di kalangan ulama dengan “Syaikhul Akbar”, dikalangan masyarakat dikenal dengan “al-Imam”, dan dikalangan sufi digelari dengan “Abul ‘Arifin”. Bapak para sufi ini wafat pada tahun 1978 dengan diantar oleh ulama, pejabat, dan kaum muslimin yang melimpah ruah ditempat pemakamanan kampung halamannya kota Belbes, Syarqiyah, Mesir. Semoga Allahu ta‘âlâ mengangkat derajatnya dan memberikan manfaat kepada kita melalui dirinya, ilmunya serta keberkahannya. Âmîn. (Diambil dari berbagai sumber)

*Info pemesanan buku bisa melihat menu KONTAK KAMI.

Comments

comments

To Top