Fawaid

KISAH PENCURI MASUK RUMAH ORANG SHALEH

KISAH PENCURI MASUK RUMAH ORANG SHALEH
Sumber: Ustadz Umar Husein Assegaf
Editing: Muhsin Muhammad Basyaiban

PENERBITLAYAR.COM, YOGYAKARTA – Dikisahkan suatu ketika ada seorang pencuri masuk ke rumah orang, dan secara kebetulan rumah yang dimasuki oleh si pencuri itu adalah rumahnya orang yang shaleh. Ketika si pencuri itu masuk ke rumah tersebut, lalu sang pemilik rumah itu pun melihatnya; alias ketahuan. Sontak sang pemilik rumah mengatakan kepada sang pencuri, “Kamu ini orang yang muhtaj (orang yang membutuhkan), maka sudahlah, kamu butuhnya apa akan saya bantu?” Berbeda dengan kita, kalau melihat yang demikian langsung kita pukul/gebugin, sampai kapok. Tetapi, tidak bagi orang-orang yang shaleh. Mereka apabila diperlakukan buruk, maka membalasnya dengan kebaikan. Karena contoh dan panutannya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila diperlakukan buruk, maka pasti membalasnya selalu dengan kebaikan yang luar biasa.

Lanjut ke kisah di atas, kemudian sang pemilik rumah tersebut membantu si pencuri mengambilkan barang-barang yang berharga. “Saya punyanya ini, silahkan diambil.” kata sang pemilik rumah. Maka, si pencuri pun menaruh barang-barang berharga tersebut ke karung besar yang ia bawa. Ia memperisapkannya, sampai karung itu penuh dengan harta benda sang pemilik rumah. Ketika semua sudah siap angkut, lalu si pencuri pun ingin ke luar rumah. Lantas, sang pemilik rumah mengatakan, “ANA AMSIK LAKA SULAM/  Ini saya pegangi tangganya?” Ya Allah. Lanjut kata sang pemilik rumah, “Ayo, naik-naik ke tangga.” Masya Allah. Sehingga, sang pencuri pun naik ke tangga itu dan keluar dari rumah tersebut.

Ketika sang pencuri sudah ke luar dari rumah tersebut, lantas ia berkata dalam dalam benaknya, “Ya Allah, saya ini mencuri harta dari seseorang yang sangat baik. Saya diberikan sesuatu dari harta benda yang paling berharga miliknya. Maka, saat ini juga saya akan bertaubat (tidak ingin mencuri lagi). Saya akan berusaha dari harta yang saya curi ini untuk berdagang. Dan apabila Tuhan memberkati, dan saya mendapatkan untung banyak maka saya akan kembalikan harta-harta yang berharga ini kepada pemilik rumah tersebut.” Subhanallah.

Akhirnya, si pencuri tersebut tidak lebih dari setahun ia mampu membeli harta yang sangat banyak dari keuntungan dagangannya tersebut. Ia memilik tanah yang banyak, budak-budak, dan semua telah ia dapatkan. Kemudian, ketika ia telah dalam posisi memiliki harta benda yang sangat banyak, ia pun pergi kembali ke rumah yang pernah ia curi tersebut.

Ia ke sana dengan membawa harta benda yang sangat banyak, dan membawa satu budak yang membawa seluruh harta benda miliknya. Harta yang ia bawa seperti apa yang ia pernah curi juga. Ketika sampai di rumah orang yang shaleh tersebut, ia berkata, “AU-WA MA TA’ARIFNI/Kamu tidak tahu saya?” Maka, orang shaleh tersebut menjawab, “Iya, saya tidak mengenal kamu.” Lantas, ia pun berkata, “ANA SÂRIQ/ Saya ini pencuri, yang dulu pernah datang ke rumah kamu, dan kamu berikan barang-barang berharga milikmu untukku. Sekarang, ambillah harta ini, sebagai ganti harta benda yang pernah aku curi dulu. Dan budak ini saya berikan untuk kamu, sebagai tambahan (bonus).”

Kemudian, si bekas pencuri itu pun bercerita, “Alhamdulillah, saat ini saya sudah menjadi orang yang kaya. Saya berdagang dengan harta yang dulu pernah saya curi dari kamu. Dan Alhamdulillah, ternyata Allah memberkati saya dari harta tersebut, sehingga menjadi besar semacam ini. Saat ini pun saya miliki harta yang sangat banyak.” Maka, seorang yang shaleh itu berkata, “MA LI HAJATUN ILAL-MÂL/ Saya tidak punya keperluan dengan harta ini. Ini saya kembalikan saja kepada kamu. Dan saya juga tidak ada butuh dengan budak ini, maka saya kembalikan juga kepada kamu. Dan ketahuilah wahai pencuri, ketika kamu keluar dari rumah saya, lantas saya pun berdoa kepada Allah, “AY-YUBARIK LAKA FÎH/ Supaya Allah memberkati harta yang kamu curi ini.”

Hal yang perlu ditekankan di sini adalah bahwa keberkahan di atas bukanlah berasal dari pencurinya, tetapi dari sang pemilik rumah yang shaleh tersebut. Sebab, harta curian itu tidak ada berkahnya. Kecuali, telah didoakan (diikhlaskan) oleh yang punya. Seperti kisah di atas, di mana ketika si pencurinya sudah mau keluar  rumah maka sang pemilik rumah itu mendoakan, mengahalalkan, dan memohon kepada Allah supaya harta itu diberkahi, dan pencuri itu pun mendapat keberkahan dari harta tersebut.

Maka lanjut kata sang pemilik rumah, “Alhamduillah kalau begitu, sekarang kamu sudah mendapatkan berkahnya. Dan kami ini adalah keluarga yang apabila kami sudah mengeluarkan sesuatu, maka kami tidak mau memintanya lagi. Dulu kamu mencuri, tetapi sesungguhnya dari saya wujudnya adalah pemberian. Bahkan, sudah saya doakan semoga kamu dapat berkahnya. Sehingga, sesuatu yang sudah keluar dari kami tidak mungkin kemudian kami ambil lagi.” Masya Allah Tabarakallah.

Fa ya ayyuhal ikhwan, dari kisah di atas sejatinya menunjukkan bahwasanya akhlak semacam ini. Apabila mau merubah suatu kemungkaran, pakailah cara semacam ini. Bukanlah pakai cara pencurinya dipukulin, digebukin, setelah babak-belur lalu kita suruh ia bertaubat. Ya kalau pun ia bertaubat, ia taubat di depan kita, setelah selesai, ia pun akan mencuri lagi. Akan tetapi, orang-orang yang shaleh tahu bagaimana bermuamalah dengan seseorang, sehingga berakhlak walaupun dengan orang-orang yang buruk. Oleh karenanya, keberadaan orang-orang yang shaleh pun berkah. Mereka hidup di dunia dipilih oleh Allah, ditunjuk oleh Allah untuk menjadi keberkahan bagi alam dunia ini. Semoga kita senantias bersama dengan orang-orang yang shaleh, mendepat keberkahannya baik secara zahir maupun batin. Akhiran, semoga bermanfaat.

 

Comments

comments

To Top