Fawaid

CARA SHALAT KHUSYUK HATIM AL-ASHAM

CARA SHALAT KHUSYUK HATIM AL-ASHAM
Sumber: Ustadz Ahmad Muhammad al-Habsyi
Editing: Muhsin Muhammad Basyaiban

PENERBITLAYAR.COM. YOGYAKARTA – Diriwayatkan bahwasanya dahulu Hatim al-Asham ra. pernah mengimami shalat di masjid. Beliau pun shalat dengan khusyuk, saat selesai shalat beliau seraya berucap salam; ASSALAMMULAIKUM WARAHMATULLAH, ASSALAMMULAIKUM WARAHMATULLAH. Lantas, ketika beliau menengok ke belakang; masjid yang tadinya ketika pertama kali shalat; ALLAHU AKBAR, penuh dengan manusia. Tapi, tiba-tiba ketika beliau berucap salam dan menengok ke belakang, masjid tersebut menjadi kosong tidak ada manusia satu pun. Maka, beliau pun terheran-heran atas kejadian itu; “Ke mana ini manusianya, kenapa tiba-tiba saja hilang?”

Ternyata di luar masjid terdengar suara gemuruh, maka beliau pun keluar untuk melihatnya. Maka, beliau mendapati semua jamaah masjid tersebut telah berada di luar masjid. Lantas, beliau pun bertanya, “Kalian ini kenapa? Bukankah kalian tadi shalat bersama saya dibelakang? Kok sekarang tiba-tiba kalian berada di luar masjid, tidak melaksanakan shalat bersama saya?!” Maka, para jamaah yang berada di luar masjid pun berkata, “Ya Hatim, apakah engkau tidak sadar, dan tidak mendengar bahwa ada tiang-tiang masjid yang hancur? Maka, kami saat itu juga membatalkan shalat karena kami takut atap masjid ini roboh dan menjatuhi kami.” Kemudian, Hatim al-Asham pun menimpali, “Tidak, saya tidak dengar itu.” Masya Allah, inilah contoh seorang yang khusyuk dalam shalatnya.

Karena terheran dengan jawaban Hatim al-Ahsam, maka mereka pun bertanya kepada beliau, “Engkau ini kalau shalat, memangnya shalatnya engkau seperti apa? Hingga tiang yang roboh saja engkau tidak tersadar dengan hal itu.” Maka, Hatim al-Asham pun menjawab, “Pertama, jika datang waktu shalat maka aku berwudhu dengan sebaik-baik wudhu. Kedua, setelah itu aku masuk ke tempat shalatku dan duduk terlebih dahulu, agar semua anggota tubuhku mengumpul (fokus); atau dengan kata lain beliau menenangkan dirinya, untuk mengumpulkan seluruh anggota tubuhnya, baik hatinya, fikirannya, badannya, semua dikumpulkan menjadi satu. Ketiga, setelah anggota badan terkumpul maka aku berdiri dan mengucapkan takbir dengan tahiqiq (penegasan); Allahu Akbar. Yakni, merasakan keagungan Allahu ta’ala, dan aku jadikan Ka’bah seakan-akan dihadapanku, dan aku jadikan Shiratul Mustaqim di bawah kakiku, dan aku jadikan Malaikat Penyabut Nyawa ada di belakangku, dan Surga di sebelah Kananku, dan Neraka aku jadikan berada di sebelah Kiriku. Serta aku terapkan dalam diriku bahwa ini adalah shalat terakhir yang aku kerjakan, di mana setelah ini aku akan wafat tidak bisa merasakan shalat lagi. Setalah itu, aku rukuk dengan penuh tawadhu (merendahkan diri) kepada Allah, dan aku sujud dengan takhasyu’ (takut) kepada Allah, dan aku pun lakukan af’al (perbuatan) shalat tadi ikhlas semata-semata karena Allah. Dan setelah itu, aku pun pasrah; apakah shalatku ini diterima atau tidak oleh Allah.” Subhanallah.

Demikian di atas adalah cara shalat Hatim al-Asham ra., yakni seorang hamba yang tatkala shalat ia merasakan bahwa Shiratul Mustqaim ada di bawahnya; kapan pun bisa tergelincir dan jatuh. Neraka ada sebelah kirinya, Ka’bah ada di hadapannya, Malaikat Maut ada di belakangnya hendak mencabut nyawanya, dan seraya mengatakan, “Bahwa ini adalah shalatmu yang terakhir kalinya.” Masya Allah, beginilah cara shalat Hatim al-Asham. Oleh karenanya, ada juga ulama yang mengatakan, “Kalau engkau mau shalat dalam keadaan khusyuk, maka setiap shalat terapkan lah dalam dirimu kalau ini adalah shalat terakhirmu, dan setelah ini engkau tidak bisa melaksanakan shalat lagi karena engkau sudah berpindah dari alam dunia ke alam barzah (telah wafat).” Semoga dari kisah ini memberikan faedah kepada kita semua tetang bagaimana cara shalat yang khusyuk, seperti yang dilakukan oleh Hatim al-Asham dan para salaf terdahulu. Akhiran, semoga ada manfaatnya, silahkan disebarluaskan. []

Comments

comments

To Top