Fawaid

KISAH HIKMAH: ADA AYAM, DIGONDOL KUCING?

KISAH HIKMAH: ADA AYAM, DIGONDOL KUCING?
Editing: Muhsin Muhammad Basyaiban

PENERBITLAYAR.COM, YOGYAKARTA — Sebenernya saya sudah pernah menulis kisah berikut ini. Namun, saat saya mendengar bahwa kisah ini kembali diceritakan, maka rasanya saya juga ingin kembali untuk menuliskannya. Alhamdulillah wa Masya Allah, semoga kisah ini dapat menginspirasi bagi kita semua dan pula dapat memberikan faedah dikehidupan kita. Allahumma Aamiin. Diceritakan suatu ketika anak daripada Syaikh Abdulqadir al-Jilani ra. (kalau tidak salah namanya Syaikh Abdurrazzaq rhm.), di mana ia sehari-hari mendengarkan ceramah Abahnya. Abahnya ini tidak lain adalah Syaikh Abdulqadir al-Jilani. Kemudian sekali waktu anaknya itu berkata kepada abahnya, “Abah, ini abah ngomong juga tidak begitu faseh, bukan ahli balaghah. Sedangkan aku ini adalah ahlil tata bahasa, ahli berbicara, ahli berorasi, ahli  pidato/ceramah?! Aku sudah siapkan pembicaraan, maka izinkanlah aku berceramah di majelis abah ini.” Lalu Syaikh Abdulqadir pun berkata kepada anaknya itu, “Ya kheir, silahkan.”

Akhirnya anak Syaikh Abdulqadir pun berceramah di hadapan para jama’ah abahnya itu. Namun, anehnya baru dua atau tiga potong kalimat yang disampaikan oleh anaknya Syaikh Abdulqadir, orang-orang sudah risau. Jadi memang para jama’ahnya ini sudah terbiasa mendengar kalam daripada Syaikh Abdulqadir al-Jilani yang demikian indah, yang demikian mendekatkan mereka kepada Allah, kepada nur. Tiba-tiba mendengar omongan yang berisi syair, tertata rapi perkataannya. tetapi hal itu di hati justru berasa lain.

Sehingga mereka pun merasa tidak kuat dan memohon, “Stop, stop, cukup sudah.” Maka Syaikh Abdulqadir berkata kepada anaknya, “Ya Waladi ijlis, ini aku ajarkan ceramah.” Kemudian Syaikh Abdulqadir pun berkata kepada para jama’ahnya tersebut, “Saudara-saudara, ada ibunya anak yatim ingin memberi makan kepada anak-anaknya. Dibuatlah ayam goreng, sudah dimasak, sudah mateng, sudah disiapin. Tiba-tiba ada kucing masuk, lalu ayam itu diambil.”

Hanya itu yang dikatakan oleh Syaikh Abdulqadir al-Jilani!! Namun, tatkala para jama’ahnya mendengar ucapan Syaikh Abdulqadir tersebut, mereka semua menangis, menggerung-gerung pula tangisannya. Nah, anaknya ini bingung. “Aku telah membawakan syair, membawakan ceramah dengan bahasanya yang teratur, indah, tetapi kenapa tidak ada satu pun yang menangis, malah banyak yang tidak kuat dengan ceramahku. Sedangkan, abahku hanya berkata; ada ayam digondol kucing, tapi kenapa semua menangis?! Bagaimana bisa seperti itu.”

Karena merasa terheran-heran, walhasil anak daripada Syaikh Abdulqadir itu bertanya kepada sebagian daripada jama’ah abahnya tersebut. “Engkau kenapa tadi bisa menangis?” “Hadza engkau punya abah memberi perumpamaan kepada kita, ketika sudah susah-payah beramal ibadah, tiba-tiba datanglah sifat riya’, datanglah sifat hujub. Nah, itu menjarah semua amalan kita sehingga menjadi sia-sia.” Lalu ada juga yang mengatakan, “Aku pahami dari omongan abahmu bahwa kita sudah beramal baik seumur hidup, tetapi diakhir hayatnya justru su’ul khatimah.” WAL-IYADZHU BILLÂH MIN DZÂLIK.

Jadi, mereka semua ini mempunyai pemahaman masing-masing dari apa yang telah disampaikan oleh Syaikh Abdulqadir al-Jilani ra. tersebut. Masya Allah Tabarakallah!! Masih berkaitan dengan kisah di atas, Imam al-Haddad ra. juga pernah berkata, “Setiap ucapan yang terucapkan akan memakai seragam (baju) yang tertutup dengan baju dihatinya.” Kalau hatinya ini penuh dengan nur, maka ucapan yang keluar pun juga akan penuh nur. Meskipun ucapannya ini biasa tetapi akan meresap ke dalam  setiap hati. Sedangkan jika hatinya ini gelap, meski ucapan yang keluar itu bagus, tetapi yang keluar nanti juga akan penuh dengan kegelapan. WALLAHU A’LAM, semoga bermanfaat. []

Comments

comments

To Top