Manaqib

MENGENAL SOSOK MBAH ALI MAKSUM KRAPYAK

MENGENAL SOSOK MBAH ALI MAKSUM KRAPYAK
Sumber: almunawwir.com
Editing: Muhsin Muhammad Basyaiban

 

PENERBITLAYAR.COM, YOGYAKARTA – KH. Ali Maksum atau Mbah Ali adalah sosok Kyai Nahdatul Ulama yang sangat bersahaja. Beliau juga dikenal sebagai Kyai yang memiliki kedekatan erat dengan para santrinya. Bahkan, Mbah Ali Maksum memilki aturan unik atau nyeleneh yang diperuntukkan khusus kepada para santrinya. Mbah Ali Maksum pernah mengatakan, “Siapa saja santri mengambil barang milikku, maka halal baginya selama tidak ketahuan.” Kalau kita perhatikan agaknya ada kata-kata yang aneh untuk dipahami. Tapi begitulah sosok KH. Ali Maksum, Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak-Yogyakarta.

Berikut kami akan kutip sepenggal kisah tentang sosok Mbah Ali Maksum, semoga dari kisah ini dapat memberikan pencerahan dan tauladan kepada kita semua dari sosok bersahaja beliau. Diceritakan, bahwa pernah suatu malam ada dua orang santri bermaksud mencuri kelapa milik Mbah Ali Maksum. Yang satu memanjat pohon yang satunya lagi menunggu di bawah sambil membawa senter. Santri yang memanjat pohon itu berpesan kepada temennya yang menunggu di bawah, agar jangan sampai sekali-sekali ia menyalakan senter ke arahnya saat di atas pohon. Setelah santri itu naik, maka santri yang di bawah pun mendengar suara “blok.. blok.. blok” menuju ke arahnya. Pertanda bahwa itu Mbah Ali Maksum datang. Kontan santri itu langsung tunggang-langgang meninggalkan temannya yang masih di atas pohon.

Beberapa saat kemudian, Mbah Ali Maksum pun mendengar suara “kresek.. kresek..” dari atas pohon. Beliau menyalakan senter ke arah santri yang sedang asyik di atas pohon tersebut. “Dikandani ojo nyorot kok malah nyorot“, bentak santri yang masih di atas pohon tanpa sadar bahwa Mbah Ali Maksum yang menyalakan senter. Begitu bijaksananya beliau, sampai-sampai beliau pura-pura tidak mengetahui dan langsung pulang ke ndalem. Seandainya beliau mengatakan “Sopo kui?” Maka, pasti santri itu akan langsung jatuh dari atas pohon kelapa.

Kemudian baru pagi harinya beliau memanggil dua santri itu untuk menghadap. “Entuk kelopo piro mau bengi?” (Dapat kepala berapa semalam?) Tanya Mbah Ali Maksum yang diiringi raut wajah malu dari kedua santrinya itu. Usut punya usut, Mbah Ali Maksum melakukan itu semua karena beliau tidak mau santrinya melakukan maksiat dengan mengambil barang miliknya. Oleh karena itu, beliau merelakan semua barang miliknya diambil asal tidak ketahuan. Masya Allah Tabarakallah.

Bahwasanya dikatakan oleh ulama, “BI-ANNAL-ILMA NÛR WA NURULLÂH LÂ YUHDÎ LI-‘ÂSHÎ.” Artinya, “Ilmu itu nur (cahaya) Dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan diberikan kepada orang berbuat maksiat.” Walhasil, Mbah Ali Maskum tidak akan mau kalau santrinya itu menjadi “al-Ashi” (pelaku maskiat). Sebab, percuma saat beliau mengajar kalau ilmu yang beliau sampaikan nantinya tidak akan masuk kepada santri-santrinya. Wallahu a’lam, semoga bermanfaat.

 

Comments

comments

To Top