Manaqib

TAUBATNYA SANG ARTIS SETELAH MEMANDANG “SANG CAHAYA”

TAUBATNYA SANG ARTIS SETELAH MEMANDANG “SANG CAHAYA”
Sumber: Muhammad Ismail al-Khalilie
Editing: Muhsin Muhammad Basyaiban

PENERBITLAYAR.COM, YOGYAKARTA – Berikut kami kutip sebuah kisah nyata yang penuh hikmah dari perjalanan hijrah seorang artis ternama negeri pyramid, Mesir. Artis ini bernama Shams al-Baroudi, ia bertaubat dari segala gemerlap kehidupannya setelah melihat Rasulullah saw., Masya Allah Tabarakallah. Membaca kisah ini memberi kesimpulan kepada kita, bahwa Allah memberi karunia kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Maka, mari kita simak sendiri saja perjalanan hijrah berikut ini.

Saya (Muhammad Ismail al-Khalilie, alumni Sarang dan Tarim) termasuk pengagum kitab-kitab karya penulis Mesir Syaikh Muhammad Khalid Tsabit. Salah satu karya beliau yang pernah saya baca berjudul “Madarisul Hubb Mashani’ ar-Rijal” sebuah kitab yang bertemakan cinta, menjelaskan bagaimana cinta dapat mempunyai kekuatan yang luar biasa dan mencetak tokoh-tokoh hebat sepanjang sejarah. Kitab ini juga mencantumkan kisah para pecinta sejati, tentunya nama-nama yang disajikan adalah nama-nama tenar seperti Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq ra., Sayyidina Ali ibn Abi Thalib ra., Sidi Ahmad al-Badawi, Sidi Ahmad as-Sanusi, dan tokoh-tokoh agung lainnya.

Hanya ada satu nama “asing” yang membuat dahi saya berkerut; Shams al-Baroudi. Awalnya saya mengira itu adalah nama seorang wali atau ulama yang belum pernah saya dengar sebelumnya, ternyata bukan, itu adalah nama seorang wanita, ia adalah mantan aktris terkenal asal Mesir yang bahkan pernah membintangi beberapa  film dewasa. Mengapa Syaikh Muhammad Khalid bisa menuliskan namanya berjejer bersama nama-nama para tokoh agung itu? Ada kisah yang sangat-sangat menarik dibalik semua itu.

Nama lengkapnya adalah Shams al-Muluk Jamil al-Baroudi, aktris kelahiran Halwan 1946. Ia sudah menjadi pemain film sejak berada di bangku Tsanawiyah. Peran apiknya dalam sinetron “al-Asal al-Murr” telah melambungkan namanya dan menjadikannya sebagai artis paling digemari di Mesir kala itu. Dengan wajah rupawannya, ia berhasil memperoleh semua kekayaan dan kejayaan. Lisa Anderson dari Chicago Tribune bahkan pernah menggambarkannya sebagai “Aktris Mesir paling cantik dan glamour”. Kala itu ia benar-benar berada di puncak karirnya sebagai seorang bintang film.

Dan tibalah hari itu. Hari yang merubah semua prinsip dan jalan hidupnya hingga ia berubah total menjadi seorang Shams al-Baroudi yang benar-benar baru.

Semua berawal ketika pada tahun 1981 ia berangkat melaksanakan Umrah bersama ayah dan sahabat perempuannya. Ketika berada di Madinah ia selalu ditemani sahabat perempuannya itu yang merupakan seorang wanita shalihah dan ahli ibadah. Bersamanya, ia biasanya masuk ke Masjid Nabawi melalui “Bab an-Nisa’” untuk kemudian berziarah ke makam Baginda Nabi saw. Waktu itu ia sedang membaca al-Quran dan duduk jauh dari sahabatnya itu, ia memang berniat untuk menghatamkan Quran selama Umrah sesuai tuntunan kitab kecil berisi doa-doa yang ia dapatkan di pesawat.

Tatkala membaca al-Quran kala itu ia merasakan ketenangan dan kekhusu’an, tak terasa air matanya mengalir. Ia kemudian berdiri untuk beranjak pergi, ia pandangi pintu makam Rasulullah saw. dan disitu sebuah pemandangan agung menantinya, Ia melihat sosok Rasulullah saw.  bermandikan cahaya dan melihat ke arahnya, begitu jelas dari bagian kepala hingga perutnya. Sedangkan bagian lainnya tampak tak jelas seperti bayang-bayang. Shams benar-benar tercengang, kedua kakinya sudah tak bisa lagi menahan dasyatnya perasaan yang ia rasakan, ia jatuh tersungkur lalu menangis sekencang-kencangnya. Bibirnya tak henti-hentinya mengucapkan, “Ya Habibi Ya Rasulullah …”

Orang-orang kebingungan melihat tingkahnya, tak terkecuali sahabatnya itu, ia menanyakan apa sebenarnya yang telah terjadi sampai ia menangis histeris seperti itu? Namun Shams tetap tak menjawab dan diam membisu, ia akhirnya membawa Shams untuk menyusul ayahnya di Mekkah. Sampai di Mekkah sang ayah bertanya apa sebenarnya yang terjadi pada anaknya di Madinah? Sahabatnya menjawab, “Sepertinya Allah telah membuka mata hatinya.”

Shams lalu meminta izin kepada ayahnya untuk pergi ke Masjidil Haram, dan di sana ketika berthawaf ia menangis sepuasnya, ia merasakan betapa hina dirinya dan betapa berat beban dosa-dosa yang ia pikul selama ini. Di sana hanya satu doa yang ia pinta berkali-kali: “ALLÂHUMMA QAWWI ÎMÂNI … ALLÂHUMMA QAWWI ÎMÂNI/ Ya Allah, kuatkanlah imanku … iman suamiku … iman keluargaku.”

Ia juga merasakan sesuatu yang lain dan baru ketika membaca surat al-Fatihah di waku shalat. Dalam khusu’ shalatnya ia terus saja menangis dan menangis. Dari situlah ia akhirnya mempunyai niat dan tekad untuk merubah jalan hidupnya.

Sepulangnya dari Umrah, pada bulan Februari 1982 dunia perfilman Mesir dihebohkan oleh surat keputusan yang disampaikan olehnya. Shams al-Baroudi mengumumkan secara resmi bahwa ia akan berhenti dari dunia perfilman Mesir untuk selama-lamanya. Tentunya keputusan yang ia ambil di puncak ketenarannya ini sangat mengagetkan semua pihak, banyak orang mencercanya dan memintanya kembali lagi ke profesi asalnya. Produser-produser papan atas Mesir bahkan menawarinya cek kosong agar ia bersedia untuk kembali bermain di film-film mereka, namun ia tak bergeming. Mulai saat itu sampai sekarang ia telah menjadi sosok yang baru, sosok berhijab rapi yang berhasil menjadi inspirasi bagi artis-artis lainnya untuk meniti jalan Allah dan Rasul-Nya.

Keputusan yang diambil oleh Shams mendapat apresiasi tinggi dari para ulama, salah satunya adalah Syaikh Mutawalli asy-Sya’rawi. Ketika Shams berkunjung ke rumah beliau, beliau bahkan berkata kepadanya:

“Engkau harus mendoakanku wahai putriku …”

“Saya yang membutuhkan doa anda Syaikhina.” Shams menjawab.

Syaikh Sya’rawi berkata:

“Engkau tidak tahu, betapa agungnya kedudukan mereka yang telah bertaubat di sisi Allah.”

Pada kesempatan lain, Syaikh Sya’rawi berkomentar:

“Sungguh beruntung Shams. Ia telah mengetahui-Nya. Ia mendapatkan dalam sekejap apa yang tidak bisa kita dapatkan selama bertahun-tahun.”

Anugerah dan pemberian Allah memang tak pernah memandang siapapun, “DZALIKA FADHLULLÂHI YU’TÎHI MAN-YASYA’  WALLÂHU DZUL-FADHLIL-ADZHIM/ Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. al-Hadid [57]: 21)

Comments

comments

To Top