Manaqib

SEBUAH CATATAN: HILANGNYA PERMATA BUMI GRESIK

SEBUAH CATATAN: HILANGNYA PERMATA BUMI GRESIK
Editing: Muhsin Muhammad Basyaiban

PENERBITLAYAR.COM, YOGYAKARTA – HABIB HUSEIN IBN ABDULLAH ASSEGAF (atau yang dikenal dengan sapaan “HABIB HUSEIN POTLOT) adalah telaga ilmu kota Gresik dan tokoh yan amat penting. Ilmunya bak telaga yang tak pernah kering, membuatnya menjadi rujukan para habib. Di kalangan para habib di Jawa Timur, nama Habib Husein ibn Abdullah bin Muhammad Assegaf memiliki tempat tersendiri. Dia dianggap wali dengan kedudukan dan kedekatan di hadapan Tuhan. Orang yang belum pernah ketemu dengannya tentu tak menyangka dia seorang ulama besar. Orangnya sangat terbuka dan tak pernah mengagungkan dirinya di hadapan orang lain.

Setiap orang yang datang, selalu diajaknya bicara dengan lemah lembut dan penuh keakraban. Hampir setiap orang yang menemuinya ingin segera mencium tangannya. Jarang keluar kota, ia lebih banyak mengajar dan sekaligus menjadi khadam (pelayan) Majelis Abubakar ibn Muhammad Assegaf, di dekat rumahnya. Hampir setiap hari ia mengajar kitab “Ihya Ulumuddin” dan kitab-kitab klasik kepada jamaahnya.

Puncaknya pada pertengahan bulan Dzulhijjah pada saat Haul Habib Abubakar ibn Muhammad Assegaf. Di majelis ini, beliau menemui banyak tamunya, yang tak pernah sepi. Rumah Habib Abubakar ini senantiasa terbuka untuk siapa saja. Beliau kerap berbicara dalam bahasa Arab dengan tamu-tamunya, dengan bahasa Arab yang tinggi, yang menandakan keterpelajarannya serta kualitas pengetahuannya.

Wibawa Habib Husein akan terlihat jika ia tampil dalam kerumunan kalangan habaib. Misalnya, pada suatu acara rauhah (acara kekeluargaan di kalangan Alawiyyin – keturunan Alawiy). Tepat habis shalat Ashar, orang-orang dengan baju putih-putih mulai berdatangan ke tempat itu. Aroma wangi menonjol sekali dari asap dupa kayu gaharu khas Arab.

Para tamu duduk berimpitan menghadap Habib Husein, yang diapit beberapa habib sepuh. Acara rauhah dimulai dengan pembacaan qasidah oleh seorang sayyid muda yang juga mengenakan pakaian serba putih. Ia melantunkan qasidah berbahasa Arab yang dikutip dari syair-syair lama tentang puja-puji kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam. Suaranya melengking tinggi dalam nada syikah, lantas turun rendah mendayu-dayu dalam nada nahawand.

Semua orang dibuat khusyuk mendengarkan qasidah sayyid muda itu. Selanjutnya, beberapa habib muda membaca lembar demi lembar kitab “Ihya’ Ulumuddin”, karya Hujjatul Islam al-Imam al-Ghazali rahimahullahu ta’ala, di hadapannya. Dengan kata-kata lembut, sang habib menggunakan bahasa Arab membetulkan satu per satu setiap kesalahan bacaan dari para habib yang datang di acara khataman kitab “Ihya’” itu.

Habib Husein memang memiliki banyak kelebihan di luar habaib yang lain. Di samping sebagai sesepuh para habib di kota Gresik dan sekitarnya, beliau juga dikenal sebagai salah seorang yang cakap menggunakan bahasa asing – tak kurang tiga bahasa asing dikuasainya: Inggris, Prancis, dan tentu saja bahasa Arab. Tidak mengherankan, karena ia banyak bergaul dengan ulama-ulama yang ada di luar negeri.

Banyak hal yang dapat digali dari Habib Husein. Salah satunya adalah penguasaan khazanah kesejarahan wali-wali Allah asal Hadramaut. Yang luar biasa, keterangan yang diberikan dalam mengomentari para tokoh tersebut diucapkan di luar kepala. Lelaki kelahiran Surabaya tahun 1941 ini memang dikenal sebagai tokoh yang mumpuni.

Mengenal tokoh ini seperti mengenal biografi berjalanan. Hal itu ditunjukkan dengan kepiawaian Habib Husein dalam meriwayatkan berbagai tokoh di balik sejarah Islam dan ulama-ulama Hadramaut. Kepiawaiannya dalam hal ini bisa dilihat ketika ia menjelaskan dengan cermat para tokoh ulama Hadramaut. Misalnya, tentang kehidupan al-Faqihul Muqaddam, Habib Abdullah al-Haddad (Shahiburratib), dan seluruh nama besar dari kalangan keturunan Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dari Sayyidina Husein ibn Ali. Dengan tutur kata yang halus, ia bercerita tentang sisi lain para pendahulu itu. Habib menyebut tahun atau usia seorang tokoh secara akurat. Jangan heran, kepandaiannya ini, baik dari segi bahasa maupun sejarah para auliya’ Hadramaut, mengantarkannya menjadi pemandu bagi 55 kiai terkemua di Jawa Timur, untuk tur ziarah dan umrah pada pada biro perjalanan umrah dan haji al-Mastur, pimpinan H. Bargowi, di Surabaya sejak tahun 2005.

Mengaji sejak kecil pada Madrasah al-Khairiyah sampai tahun 1955. Pendidikannya kemudian berlanjut dengan belajar kepada Habib Abdulqadir Bilfagih di Pondok Pesantren Darul Hadist Malang sampai 1958. Pada 1958, dia kembali ke Surabaya dan menetap di Jl. Ketapang Adiguno. Di lingkungan Ampel ini, ia belajar fiqih dan nahwu sharaf kepada Habib Muhammad ibn Ahmad Assegaf, salah seorang ulama terkemuka Surabaya yang tinggal di kawasan Kapasan. Menurutnya, Habib Muhammad ibn Ahmad Assegaf adalah ulama yang alim, ahli fiqih setaraf dengan mufti, pemberi fatwa. “Orang-orang tertentu yang mengenal dia mengetahui kebesaran dan keilmuan Habib Muhammad ibn Ahmad Assegaf”, pungkas beliau.

Banyak ulama yang menanyakan masalah-masalah fiqih kepadanya. Kalau ada masalah yang tidak dapat dipecahkan, larinya ke Habib Muhammad,” kata Habib Husein mengomentari gurunya itu. Menurut Habib Husein, Habib Muhammad adalah orang yang sangat sederhana. Namun di balik kesederhanaannya itu tersimpan mahkota ilmu yang luas. Habib Muhammad pernah bercerita kepadanya, “Andai kata ada masalah fiqih, saya bisa memberi fatwa dengan empat madzab dengan dalil dan ilat-nya,” demikian Habib Husein menirukan perkataan Habib Muhammad. Di majelis taklim Habib Muhammad ibn Ahmad Assegaf inilah, banyak juga ulama seangkatannya yang belajar kepada sang habib, seperti Habib Abdurrahman ibn Seggaf Assegaf, Habib Hamid ibn Seggaf, Habib Alwi al-Hasani, dan lain-lain. “Saya termasuk yang paling muda waktu itu,” katanya.

Banyak hal yang menarik dari sosok Habib Muhammad Assegaf. Di antaranya, dia dikenal sebagai ulama yang tawadhu’. “Meskipun, dari yang hadir, dia didebat, Habib Muhammad tidak marah. Yang dikatakan, “Kalau salah. Tidak percaya? Coba kau rujuk lagi. Setelah seminggu datang untuk dirujuk, betul apa yang dikatakan Habib Muhammad. Sekalipun dibantah, ia tidak pernah marah-marah,” demikian kesan Habib Husein terhadap gurunya.

Selepas dari kota Surabaya, beliau pindah ke kota Gresik tahun 1972 dan menikah di kota itu. Kini dia dikaruniai 12 anak, tiga putra dan sembilan putri. Di kota Gresik inilah ia mempelajari tasawuf kepada Habib Ali ibn Abubakar ibn Muhammad Assegaf. Setiap hari, ia mengaji kitab “Ihya’ Ulumuddin” dengan tekun.

“Inti-inti ilmu untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. itu dipelajari dari ilmu-ilmu tasawuf,” katanya.

Akhir 1982, Habib Ali ibn Ahmad Assegaf, yang meneruskan tradisi mengajar di Majelis Taklim Abubakar ibn Muhammad Asseqqaf mengatakan, “Husein, siapa di antara kita yang mati dulu harus mengawasi anak-anak. Jadi, seumpama saya mati dulu, Habib Ali yang mengawasi anak saya. Begitu pula jika Habib Ali mati dulu, sayalah yang mengawasi anak-anaknya.” Selepas Habib Ali meninggal, Habib Husein mulai mengajar taklim di majelis ini sampai sekarang. Dan yang saat ini ia kerjakan di majelis taklim hanya meneruskan apa yang sudah dilakukan oleh Habib Abubakar. “Saya hanya melanjutkan.” Kini, setiap pagi ia mengajar kitab “Ihya Ulumuddin” secara rutin di majelis taklim. Tidak hanya itu, dia juga mengajar taklim di majelis-majelis yang ada di sekitar rumahnya.

Kini permata kota Gresik tersebut telah kembali kehariabaan Allahu ta’ala, semoga Allahu subhanahu wa ta’ala merahmati beliau, mengampuni segala kesalahan beliau, dan mengangkat derjat beliau serta memasukkannya ke surga bersama Baginda Nabi ‘alayhish-shalatu was-salam, para sahabat, para shalihin dan tentu para leluhur beliau minas-Salafunas Shaleh, AL-FATIHAH ILA RUHI HABIB HUSEIN IBN ABDULLAH IBN MUHAMMAD ASSEGAF LAHUL-FAATIHAH. […]

Comments

comments

To Top