Taklim

BOLEHNYA IRI KARENA DUA HAL

BOLEHNYA IRI KARENA DUA HAL
Editing: Muhammad Hafiz

PENERBITLAYAR.COM, SURAKARTA – IRI/DENGKI memang secara istilah menunjukkan suatu hal yang negatif. Namun di dalam Islam iri ternyata ada juga yang dibolehkan, dalam artian iri ini bersifat positif atau dalam bahasa Islam disebut GHIBTOH. Hal tersebut tersirat dalam makna pada hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini:

.لَا حَسَدَ إِلَّا فِيْ اثْنَتَيْنِ رَجُلٍ آتَاهُ اللُه مَالًا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِيْ الْحَقِّ وَ آخَرَ آتَاهُ اللُه حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِيْ بِهَا وَ يُعَلِّمُهَا

“Tidak diperkenankan iri kecuali kepada dua orang. Orang yang Allah beri harta kemudian dia habiskan di jalan Allah, dan orang yang diberi hikmah/ilmu oleh Allah kemudian dia kerjakan dan ajarkan.” (HR. Bukhari)

Hasad (iri/dengki) adalah sifat buruk dan penyakit hati yang diharamkan oleh Rasulullah. Beliau bersabda: “Hati-hatilah kalian terhadap sifat iri, karena sesungguhnya iri akan memakan kebaikan sebagaimana api membakar kayu.” Pengertian iri/dengki sebenarnya adalah rasa benci teradap nikmat yang diperoleh orang lain hingga pada taraf ingin menghancurkan kenikmatan tersebut. Namun dalam pembahasan ini, iri/dengki yang dimaksud adalah ghibtoh, yaitu rasa iri kepada kenikmatan orang lain yang menjadi pendorong untuk berusaha mendapatkannya. (Dinukil dari intisari pembacaan kitab “Shahih Bukhari” yang diadakan di Masjid Riyadh 1 Maret 2021)

Comments

comments

To Top