Taklim

PENYAKIT LISAN I: UCAPAN TANPA MANFAAT (BAG. I)

PENYAKIT LISAN I: UCAPAN TANPA MANFAAT (BAG. I)
Sumber: as-Sayyid Alwi ibn Ali ibn Alwi al-Habsyi
Editing: Muhammad Hafiz

Semua ucapaan yang keluar dari lisan seseorang dibagi menjadi 4 macam:
1. Ucapan yang murni berbahaya
2. Ucapan yang murni bermanfaat
3. Ucapan yang didalamnya terdapat manfaat dan bahaya
4. Ucapan yang tidak ada manfaat maupun bahaya.

Imam al-Ghazali menerangkan bahwa kita ‘harus diam’ (tidak boleh mengucapkan) dari ucapan-ucapan yang termasuk kategori pertama dan ketiga. Sedangkan untuk kategori ke-4, disebut dengan fudhul, yaitu ucapan yang tidak perlu diucapakan. Menyibukkan diri dengan ucapan fudhul hanya membuang-buang waktu dan menjadi kerugian yang besar.

Tersisa kategori ke-2, yaitu ucapan yang murni bermanfaat. Kategori ini juga terdapat bahaya apabila diucapkan, karena bisa bercampur dosa karena riya’, pamer dan gunjingan. Ucapan fudhul (kategori ke-4) juga bisa bercampur dengan hal-hal yang tidak kita ketahui. Maka dari itu semua ucapan yang terlontar dari lisan manusia pasti ada bahayanya.

Jika seseorang ingin meneliti lebih jauh tentang bahaya lidah tak bertulang ini, maka dia akan tahu persis akan sabda Nabi saw:

مَنْ صَمَتَ نَجَا
Barangsiapa diam, maka dia selamat“.

Rasulullah saw diberi kelebihan jawami’ul kalim (ucapan ringkas namun bermakna luas dan padat), dan tidak ada yang mengetahui satu persatu ucapan Rasulullah saw kecuali ulama khusus. Dan Imam al-Ghazali akan menjelaskan semua penyakit lisan dan bagaimana sulitnya menghindari penyakit-penyakit tersebut.

Di dalam kitab Ihya Ulumiddin pada bab Afat al-Lisan (penyakit-penyakit lisan) Imam al-Ghazali akan menerangkan 20 penyakit lisan. Mulai dari yang paling ringan kemudian meningkat dan meningkat hingga diakhiri dengan pembahasan ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), dan ucapan bohong.

PENYAKIT LISAN PERTAMA: UCAPAN YANG TIDAK BERMANFAAT

Keadaan terbaik bagimu adalah menjaga ucapannya dari segala penyakit lisan (menggunjing, adu domba, bohong, pamer, dll) dan berbicara dengan ucapan-ucapan yang diperbolehkan oleh syariat, yang tidak mengandung bahaya kepada dirinya atau kepada sesama muslim.

Namun walaupun seperti itu (boleh secara syariat), kata-kata yang engkau lontarkan tidaklah penting dan tidak perlu diucapkan. Maka bisa dikatakan engkau telah menyia-nyiakan waktu, ucapanmu kelak akan dihisab oleh Allah swt, dan engkau mengganti sesuatu yang baik dengan yang buruk. Karena apabila waktu yang engkau gunakan untuk berbicara yang tidak bermanfaat diganti dengan berzikir, berfikir dan muhasabah; maka itulah yang akan membuka pintu rahmat Allah swt dan mendatangkan manfaat yang besar.

Berapa banyak kalimat baik yang bisa membangun istana di surga? Jika seseorang mampu mendapatkan kemuliaan ini; namun dia ganti dengan hal yang tidak bermanfaat, itulah yang dinamakan kerugian yang nyata.

Gambaran ini adalah gambaran orang yang merugi. Sebab, walaupun dia tidak berdosa dia telah melewatkan “keuntungan besar” dengan berzikir kepada Allah swt. Karena seorang mukmin sejati: diamnya adalah berfikir, pandangannya bisa mengambil pelajaran, dan ucapannya adalah zikir; sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi saw.

Bahkan, modal utama seseorang adalah waktu. Jika dia gunakan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat dan tidak pula bisa menyimpan pahala di akhirat, maka dia telah menyia-nyiakan “modal”nya

(Dinukil dari pembacaan kitab Ihya ‘Uumiddin dalam acara Rauhah Siang di Masjid ar-Riyadh Solo, 1 April 2021)

Comments

comments

To Top