Taklim

KUNCI KEBAHAGIAAN HIDUP: BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

KUNCI KEBAHAGIAAN HIDUP: BERBAKTI KEPADA ORANG TUA
Sumber: as-Sayyid al-Habib Alwi ibn Ali al-Habsyi
Editing: Muhammad Hafiz

Dinukil dari kitab Risalah Mathla’ al-Badrain Fi Huquq al-Walidain karangan al-Habib Ahmad Ibn Hadi al-Hamid murid al-Habib Ja’far Ibn Syaikhon as-Segaf Pasuruan yang menjelaskan hak-hak seorang anak kepada orang tua.

Para ahli hikmah berkata: “Seorang anak yang durhaka kepada orang tuanya maka dia tidak akan melihat kebahagiaan ada pada keturunannya.“.

Imam Fudhail Ibn Iyadh berkata: “Orang yang paling sempurna kehormatannya adalah dia yang berbakti kepada orang tuanya, menyambung tali silaturahmi, mengunjungi keluarga dan sanak saudaranya, dan yang berakhlak baik kepada keluarga, anak dan pembantunya serta menjaga lisan dan tidak bergaul dengan orang-orang yang berakhlak buruk.“.

Ketika Nabi Ya’qub a.s beserta putra-putranya datang menemui Nabi Yusuf a.s (putra Nabi Ya’qub as) yang telah menjadi seorang raja dan duduk di singgasananya, Nabi Yusuf a.s tidak berdiri menyambut kedatangan ayahnya. Maka Allah swt menurunkan wahyunya kepada Nabi Yusuf a.s : “Karena engkau merasa dirimu lebih mulia daripada ayahmu sehingga engkau tidak berdiri ketika ayahmu datang, maka demi kemuliaan-Ku dan keagungan-Ku Aku tidak akan mengeluarkan seorang nabi pun dari tulang sulbimu.“.

Nabi Yusuf a.s tidak durhaka kepada ayahnya. Tidak mungkin seorang nabi durhaka kepada orang tua mereka. Namun hanya karena hal kecil tersebut, Allah swt tidak menjadikan keturunan Nabi Yusuf a.s menjadi nabi. Sampai-sampai al-Habib Ali Ibn Muhammad al-Habsyi mengatakan:

مِفْتَاحُ السَّعَادَةِ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ
Kunci kebahagiaan adalah berbakti kepada orang tua.

Imam Ka’b al-Akhbar mengatakan: “Allah swt akan mempercepat kebinasaan seorang hamba apabila dia durhaka kepada orang tua, sebagaimana Allah swt mempercepat hidayah bagi seorang hamba apabila Dia menghendaki. Begitupula Allah swt akan memperpanjang (memberkahi) umur seorang hamba apabila dia berbakti kepada orang tua. Agar bila semakin bertambah umurnya, maka akan semakin bakti kepada orang tuanya.“.

Imam al-Ghazali setelah mebahas panjang lebar bab hak-hak orang tua di dalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin, beliau berkata: “Kebanyakan ulama berfatwa: Wajib mentaati perintah orang tua dalam perkara syubhat (tidak haram dan tidak halal) selama tidak menjurus kepada yang haram. Sampai-sampai apabila orang tua ingin makan bersamamu, maka engkau engkau wajib makan bersamam mereka.“.

Imam Taj ad-Din as-Subki mengatakan: “Kewajiban berbakti dan keharaman durhaka kepada orang tua, maksudnya adalah: Wajib mentaati perintah orang tua selama perintah tersebut tidak ada unsur kemaksiatan. Dengan dalil sabda Rasulullah saw:

إِسْمَعْ وَ أَطِعْ مَا لًمْ تُؤْمَرْ بِمَعْصِيْةٍ
Dengarkan! dan taatilah! selama engkau tidak diperintahkan mereka untuk bermaksiat.“.

Imam as-Subki melanjutkan: “Apabila ada perintah seorang pemimpin/raja dan perintah orang tua, maka dahulukan perintah orangtua. Karena apabila perintah orang tua dinomor duakan, maka barangkali hati mereka akan tersakiti.

Imam al-Habib Abdullah Ibn Alwi al-Haddad mengatakan: “Berbakti kepada orang tua lebih baik daripada haji dan umrah yang mabrur dan berjjihad di jalan Allah swt. Dan orang yang durhaka kepada orang tuanya tidak akan dipandang (dirahmati) oleh Allah swt di hari kiamat dan tidak akan mencium wangi surga yang bisa tercium dari jarak 500.000 tahun perjalanan.

Kesimpulannya, Hak orang tua adalah hak yang terbesar setelah hak Allah swt dan hak Rasulullah saw.

(Dinukil dari intisari pembacaan kitab Risalah Mathla’ al-Badrain Fi Huquq al-Walidain dalam kegiatan Khatmul Qur’an Malam 25 Ramadhan , Solo 6 Mei 2021)

Comments

comments

To Top